Nyi Mas Pakungwati Cirebon

- Oktober 08, 2019
Nyi Mas Pakungwati atau kadang juga di sebut Nyi Dalem Pakungwati adalah putri penguasa Cirebon pertama yaitu putri Pangeran Walangsungsang ( Cakrabuana). Nyi Mas Pakungwati menurut naskah Kuningan adalah anak pertama hasil perkawinan antara Pangeran Walangsungsang dengan Nyimas Kencana Larang.

Nyi Mas Kencana Larang sendiri adalah putri dari Ki Gede Alang-Alang yang merupakan seorang Kuwu Cirebon pertama sekaligus juga sebagai Syah Bandar pelabuhan Muara Jati. Pernikahan antara Pangeran Walangsungsang dengan Nyi Mas Kencana Larang terjadi ketika Pangeran Cakrabua dianggap sukses mengemban jabatan Pangraksabumi (Raksabumi) di padukuhan Cirebon yang dikepalai oleh Ke Gede Alang-Alang.

Nyi Mas Pakungwati mempunyai dua orang adik laki-laki yaitu Pangeran Kejaksan dan Pangeran Pajarakan. Arti Pakungwati dalam bahasa Cirebon bermaksud udang betina, karena memang kata “Pakung” bermaksud "udang" sedangkan kata “wati” bermaksud “perempuan”.

Dinmakan “Pakungwati” karena Pangeran Walangsungsang sendiri dikisahkan sebagai seorang penemu Trasi yang mana salah satu bahan pembuatannya terbuat dari udang, dikisahkan kecintaan Pangeran Walangsungsang pada udang begitu tinggi, maka tidak mengherankan beliau kemudian menamai anaknya dengan nama “Pakungwati” selain makanya “Udang betina” juga bermakna putri dari pencari udang (P. Walangsungsang)

Selama hidupnya Nyi Mas Pakungwati dikisahkan sebagai putri Pangeran Walangsungsang yang paling disayang, akrena selain cantik beliau juga dikisahkan sangat penurut, sebab itulah dikemudian hari Pangeran Walangsungsang menamai Keraton Kesultanan Cirebon dengan nama “Keraton Pakungwati”.

Dinikahkan Dengan Sunan Gunung Jati

Setelah beberapa lama menjadi penguasa Cirebon, Pangeran Walangsungsang kedatangan Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) yang tak lain merupakan anak adiknya Nyi Mas Rara Santang yang menikah dengan penguasa Mesir.

Selama beberapa waktu tinggal di Cirebon, Syarif Hidayatullah rupanya menunjukan prilaku yang baik serta dianggap mampu oleh Pangeran Walangsungsang untuk mensyiarkan agama Islam di Cirebon dan menggantikan kedudukannya sebagai penguasa Cirebon. Sunan Gunung Jati kemudian dijodohkan dengan Nyimas Pakungwati oleh Pangeran Walangsungsang sebelum akhirnya diangkat menjadi Penguasa Cirebon menggantikan kedudukannya.

Dalam sumber lain pengangkatan Syarif Hidayatullah sebagai penguasa Cirebon karena sebelumnya Pangeran Walangsungsang tidak memiliki anak lak-laki, dari perkawinan pertamaya dengan Nyi Rasa Jati (Endang Geulis) Walangsung memperoleh 7 anak perempuan, sementara dari perkawinan keduanya dengan Nyi Mas Kencana larang juga melahirkakn anak perempuan yaitu Nyi Mas Pakungwati, oleh karena itu karena pada mulanya  tidak memiliki anak laki-laki akhirnya Pangeran Walangsungsang menyerahkan kedudukannya sebagai penguasa Cirebon kepada Sunan Gunung Jati serta menjodohkannya dengan Nyimas Pakungwati. Meskipun begitu selepas Syarif Hidayatullah menjabat sebagai Sultan Cirebon ternyata Pangeran Walangsungsang dianugrahi dua anak laki-laki yang kelak dikenal dengan nama Pangeran Kejaksan dan Pangeran Pajarakan.

Baca Juga: Daftar Keturunan Pangeran Cakrabuana

Selama menikah dengan Syarif Hidayatullah, Nyimas Pakungwati tidak dianugerahi anak, sebab beliu keburu wafat sebelum memperoleh keturunan.

Legenda Wafatnya Nyi Mas Pakung Wati

Dalam legenda yang dituturkan turun temurun, wafatnya Nyi Mas Pakungwati yang kala itu berkedudukan sebagai Ratu Cirebon dikisahkan berkaitan dengan serangan Menjangan Wulung.

Menjangan Wulung dikisahkan sebagai mahluk penggangu yang dikirim orang-orang yang membenci Islam di Cirebon, Menjangan Wulung diletakan di kubah/memolo Masjid agung Cirebon. Efeknya membuat orang menjadi kepanasan sehingga tidak betah berlama-alam beribadah di dalam masjid.

Mengahadapi musibah tersebut Sunan Gunung Jati bersikap waspada beliau selalu berkholwat, mencari petunjuk yang baik kepada Allah untuk menghadapi musuh yang sulit dijinakan. Dari hasil kholwat yang dilakukan, Sunan Gunung Jati  mendapatkan petunjuk bahwa Menjangan Wulung dapat diusir dan dibunuh dengan cara melakukan Zikir semalam suntuk di Masjid akan tetapi biarpun dapat dibunuh nantinya akan ada korban dari orang yang dicintai Sunan Gunung Jati.

Demi menentramkan Cirebon dari ganguan Menjangan Wulung, Sunan Gunung Jati kemudian mengumpulkan seluruh keluarga serta para pejabat Istana untuk melakukan dzikir di dalam masjid agung, dzikir dilakukan selepas Isya hingga Subuh, pada saat menjelang Subuh Menjangan Wulung yang melekat di atas kubah Masjid Agung terbakar  dan meledak, konon ledakannya terdengar sangat kencang, akan tetapi berbarengan dengan hancurnya Menjangan Wulung Sunan Gunung Jati diterpa kesedihan, sebab Nyi Mas Pakungwati wafat di dalam masjid dalam keadaan bersujud. Selain Nyimas Pakungwati ada lagi satu orang yang wafat yaitu Nyi Mas Kadilangu yang dikisahkan sebagai adik dari Sunan Kalijaga. 

Berkomentarlah yang terarah dan jelas agar dapat dipahami dan dibalas admin.
EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search