Perjalanan Hidup Pangeran Walangsungsang

- Juni 14, 2018
Pangeran Walangsungsang dalam sejarah Cirebon dikenal memiliki beberapa nama, akan tetapi nama yang paling masyhur selain nama aslinya adalah Cakrabuana, dan Ki Kuwu Carbon. Pangeran Walangsungsang sendiri merupakan anak dari Prabu Siliwangi dengan Istrinya Nyimas Ratu Subanglarang. Beliau merupakan anak pertama dari keduanya.
Baca Juga: Prabu Siliwangi, Raja Sunda Ternama
Meskipun ayahnya seorang Raja Sunda dan sudah tentu beragama Budha, akan tetapi Pangeran Walangsungsang ini sejak kecil mengikuti agama Ibunya Islam, sebab Ibunya selain anak seorang pembesar di Mertasinga juga merupakan santri Syekh Qura Karawang.

Menurut Naskah Purawaka Caruban Nagari, Pangeran Walangsungsang keluar dari Istana Pajajaran dan memilih menjadi pengembara selepas kewafatan ibundanya, sebab khabarnya Pangeran Walangsungsang mendapat perlakukan buruk di Istana karena ia berbeda agama dengan kerabatnya.
Sementara menurut Naskah Mertasinga, Keluarnya Pangeran Walangsungsang dari Istana setelah Ibunya di usir dari Istana karena tetap memeluk Islam padahal sebelumnya dilarang setelah diperistri oleh Prabu Siliwangi.

Nyimas Subang Larang dalam naskah ini dikisahkan di asingkan di Banten. Oleh karena itu Walangsungsang memilih keluar Istana bersama adiknya Nyimas Rara Santang untuk mengembara mencari Guru Agama Islam di Gunung Sembung (Sekarang Bagian dari Cirebon).

Baca Juga: Subang Larang, Istri Prabu Siliwangi Yang Dibuang

Digunung Sembung Walangsungsang bersama adiknya belajar agama kepada Syekh Nurjati, keduanya ditempa dengan ilmu-ilmu keislaman hingga akhirnya Sang Guru kemudian memerintahkan keduanya pergi ke Mekah untuk menunaikan Ibadah Haji.

Ketika keduanya melaksanakan Ibadah Haji di Mekah, rupanya adik Pangeran Walangsungsang dilamar oleh seorang Penguasa Mesir yang dikisahkan baru ditinggal wafat oleh istrinya, dari Mekah Pangeran Walangsungsang kemudian menuju Mesir untuk menyertai adiknya menikah, selepas beberapa Bulan di Mesir kemudian beliaupun kembali lagi ke Pulau Jawa tanpa di sertai adiknya.

Di Pulau Jawa, Pangeran Walangsungsang rupanya lebih memilih hidup di Sembung bersama gurunya, akan tetapi kemudian beliau menetap di Desa Caruban yang didirikan oleh Ki Danusela, seorang Syah Bandar Pelabuhan Muara Jati.

Pada mulanya Walangsungsang merahasiakan ke Pangerananya kepada Ki Danusela, beliau tetap hidup Mandiri di Caruban dengan berpropesi sebagai Nelayan pencari Rebon (Udang Kecil) sambil sesekali mendakwahkan Islam disana.

Waktu itu yang menjadi Kuwu di Caruban adalah Ki Danusela, melihat tingkah laku Pangeran Walangsungsang yang giat, jujur, pintar dan berwawasan, rupanya kemudian Ki Danusela tertarik pada Walangsungsang, beliaupun dikisahkan masuk Islam atas petunjuk Walangsungsang.

Selain itu Ki Danusela pun kemudian menikahkan Walangsungsang dengan anak perempuannya. Tidak sampai situ saja Walangsungsang juga diberi jabatan sebagai Raksa Bumi di Caruban. Sebab itulah beliau kemudian dikenal dengan nama Ki Cakrabuana, maksudnya seseorang yang mengemban jabatan Raksabumi yaitu suatu jabatan dalam struktur pemerintahan desa kala itu yang  mengurusi tata kelola tanah/Bhumi.

Setelah Ki Danusela meninggal, rupanya kemudian Pangeran Walngsungsang mewarisi jabatan sebagai Kuwu Caruban, ia pun kemudian diangkat menjadi Kuwu ke II Caruban. Karena semenjak kecil Pangeran Walangsungsang ini memang orang terpelajar yang biasa hidup di Istana, tata kelola pemerintahan Desa Caruban pun kemudian beliau kelola dengan professional, sehingga kemudian Caruban menjelma menjadi sebuah desa yang maju, bahkan menjadi Kota Pesisir utara yang ramai dikunjungi orang.

Majunya Caruban ditangan Walangsungsang ini kemudian menarik perhatian pusat Kerajaan Pajajaran, sehingga kemudian penyelidikan tentang Caruban oleh Kerajaan pun kemudian dilakukan, dan betapa terkaget-kagetnya utusan Kerajaan Pajajaran setelah mengetahui bahwa Kuwu Caruban itu sejatinya merupakan anak Prabu Siliwangi.

Utusan Kerajaan Pajajaran pun kemudian melaporkan pada rajanya. Mendapati laporan dari bawahanya tersebut akhirnya Prabu Siliwangi dikisahkan bangga terhaap anaknya, dan kemudian mengangkatnya menjadi Penguasa di Carbon dengan mengirmkan payung kebesaran Kerajaan, beliau kemudian diangkat menjadi semacam Adipati di Caruban dengan gelar Sri Manggana.

Mulai setelah itu Caruban kemudian berubah menjadi Kota yang ramai dijamannya, Caruban juga kemudian berangsur-angsur disebut Cirebon karena pelafan orang. Selain di sebut Cirebon, Caruban juga kemudian dikenal dengan nama Grage, kependekan dari Nagara 'Gede (Kota Besar).

Setelah berapa tahun lamanya Walngsungsang kemudian dikisahkan berhasil mengislamkan orang-orang Cirebon, maka setelah itu Pemerintahan di Cirebon kemudian diubah menjadi Islam dan dijadikan pusat penyebaran Islam di Pasundan. Di Cirebon Walangsungsang kemudian membangun istana sebagai tempat pemerintahan, Istana tersebut dinamai Istana Pakungwati, nama yang dambil dari salah satu anak perempuannya.

Cirebon kemudian semakin bertambah terkenal, setelah beliau kedatangan keponakannya Syarif Hidayatullah dari Mesir, anak adik perempuannya yang dahulu menikah saat Ibadah Haji di Mekah.

Menjelang masa sepuhnya ternyata meskipun beliau dikaruniai 8 anak ternyata semuanya perempuan, oleh karena itu beliau menikahkan anak kesayangannya Nyimas Pakungwati dengan keponakannya Syarif Hidayatullah, beliaupun kemudian mengundurkan diri sebagai penguasa Cirebon dan mengangkat keponakannya itu menjadi penguasa Cirebon. Meskipun demikian setelah kejadian itu ternyata justru beliau dikaruniai dua anak laki-laki.
Baca Juga : Daftar Ketrunan Pangeran Cakrabuana Dari Istri-Istrinya 

Selepas Prabu Siliwangi Mangkat hubungan Cirebon dan Pajajaran menjadi buruk, hingga kemudian Cirebon memproklamirkan merdeka dari Pajajaran dan membentuk Kerajaan Islam Cirebon, Kerajaan pertama dan tertua di Pasundan.
Baca Juga: Kerajaan Cirebon, Masa Pendirian, Kejayaan dan Kemunduran
Adapun mengenai kewafatan Pangeran walangsungsang sendiri dalam sejarah Cirebon tidak dijelaskan, hanya saja dikhabarkan bahwa selepas Galuh ditaklukan oleh Cirebon, Pangeran Walngsungsang kemudian menjabat sebagai penguasa di Galuh.


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search