Mpu Sindhok, Bapak Para Raja Di Jawa Timur

- Juni 17, 2018
Shindok atau biasa dikenal dengan sebutan Empu Sindhok, atau Sendok adalah seorang Raja Mataram kuno (Medang) pertama dari Dinasti Ishana yang memerintah di Jawa Timur.

Sebelum era Shindok pusat kebudayaan dan peradaban Medang berpusat di Jawa Tengah, oleh karena itu para sejarawan umumnya berpandangan bahwa Shindok ini merupakan bapak dari para Raja di Jawa Timur, dan bapak peralihan pusat peradaban Jawa dari yang semula berpusat di Jawa Tengah kemudian bergeser ke Jawa Timur.

Sindhok naik tahta pada tahun 929 masehi. Ia mendirikian dinasti Ishana setelah sebelumnya mengambil alih pemerintahan Medang dari dinasti Sanjaya.  

Pada saat menjadi raja Sindhok bergelar Sri Ishana Wikramardhama Tunggadewa. Dari gelarnya itulah kemudian para sejarawan menganggap Sindhok merupakan pendiri dinasti Ishana.

Sindhok dianggap sebagai bapak peletak dasar bagi terbentuknya kerajaan-kerajaan besar di Jawa Timur, karena memang pada nyatanya ketrunannya kelak yang mendirikan kerajaan-kerajaan hebat di Jawa Timur, seperti Jenggala, Panjalu atau Kediri, bahkan Singasari dan Majapahit.

Pada saat menjadi Raja Mpu Sindhok kekuasaan kerajaannya meliputi Surabaya, Malang dan Kediri. Dimasa pemerintahannya Jawa Timur sudah menggeser Jawa Tengah yang sebelumnya menjadi pusat peradaban di Pulau Jawa. Selain itu, dikisahkan juga bahwa dalam memerintah Jawa Timur Shindok berhasil memakmurkan rakyat.

Dari prasasti-prasasti yang diremukan berkenaan dengan Mpu Sindhok, kebanyakan berisi pembebasan tanah dari pajak untuk keperluan bangunan-bangunan suci, pemberian hadiah dan kutukan bagi siapa saja yang tidak taat kepada Raja.

Dalam bidang kesusastraan pada masa Mpu Shindok ini muncul kitab agama Budha. Yaitu Sang Hyang Kemahayanikan, kitab tersebut menguraikan soal-soal ajaran dan ibadah agama Budha Tantrayana. Kitab itu ditulis oleh Sambara Suryawanasa. Dengan adanya kitab tersebut membuktikan Sindhok merupakan raja yang toleran, mengingat ia sendiri beragama Hindu.

Sindhok memerintah sampai tahun 947. Penggantinya dapat diketahui dalam Prasasti Calcuta, yaitu suatu Prasasti yang ditulis oleh Airlangga Raja penerus Dinasti Ishana yang kini tersimpan di Musium Calcuta India.

Dalam prasasti itu disebutkan, Sindhok digantikan oleh putrinya yaitu Sri Ishana Tunggawijaya, yang bersuamikan raja Lokapala. Dari perkawinan ini lahirlah anak laki-laki Makutawangsawardana, yang digambarkan sebagai "Matahari dalam keluarga Ishana".

Makhutawanshawardhana mempunyai seorang anak perempuan Mahendarata atau Ghunapriyadharmaotni, yang bersuamikan raja Udhayana dari keluarga Warmadewa yang memerintah di Bali. Dari pasangan keduanya kelak lahir Airlangga.

Baca Juga: Kisah Raja Airlangga


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search