Prabu Siliwangi, Raja Sunda Ternama

- Juli 08, 2018
Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja merupakan Raja Kerajaan Sunda ternama, kepopuleran Prabu Siliwangi dikarenakan hampir para pembesar atau pendiri kerjaan-kerajaan di Pasundan mempunyai pertalian darah dengan Prabu Siliwangi, seperti Cirebon pendirinya merupakan anak keturnan Prabu Siliwangi, bahkan mengaku juga sebagai penerus kerajaan Sunda.

Menurut Sutaarga (1984:26) sebagaimana yang disebutkan dalam bukunya yang berjudul “Prabu Siliwangi” dinyatakan bahwa Prabu Siliwangi selama hidupnya memiliki 150 istri, dan istri kesebelasnya yaitu Subang Larang/Subang Karancang, keturunannya kelak mendirikan kerajaan Cirebon.

Selain dari istri kesebelasnya, rupanya istri-istri yang lain dari Parabu Siliwangipun dikisahkan mempunyai anak-anak yang kelak menjadi raja daerah diseluruh tanah Sunda, diantaranya Permadi Puti ayah dari Nyimas Kawunganten dikatakan sebagai Putra Prabu Siliwangi yang memerintah di Cangkuang.
Baca Juga: Kisah Dipati Cangkuang Raja Dari Garut
Memahami kondisi semacam itu, sepertinya Prabu Siliwangi membangun kerajaanya dengan teknik kekeluargaan, mengingat kerajaan-kerajaan bawahan di wilayah Kerajaannya pada umumnya anak keturunannya dari istri-istrinya yang banyaknya 150 itu.

Selain terkenal karena hampir seluruh raja-raja di tanah Sunda memiliki pertalian darah dengan Prabu Siliwangi, Raja ini juga terkenal karena kebijaksanaan dan keberhasilannya dalam memerintah. Prabu Siliwangi dikisahakan dapat menyatukan dua kerajaan besar di Jawa barat yaitu kerjaan Galuh dan kerajaan Sunda.

Dalam sejarah Jawa barat dijelaskan bahwa pada abad 13-14 di Jawa Barat telah berdiri kerajaan Galuh dan Sunda yang memang memiliki Rajanya masing-masing. Prabu Siliwangi lah yang kemudian menyatukan keduanya menjadi satu kerajaan pada abad ke 15. Secara tradisional Prabu Siliwangi juga disebut sebagai raja yang memiliki berbagai macam kesaktian, dari itulah kepopuleran Prabu Siliwangi dalam pandangan masyarakat Sunda tiada duanya.
Baca Juga : Kesaktian Prabu Siliwangi Antara Mitos Dan Fakta
Berbicara mengenai Prabu Siliwangi tentu seperti tidak ada habis-habisnya, karena selain sumber tulis yang banyak menceritakan sosok Prabu Siliwangi, sumber dongengan rakyat sunda pun tidak kalah banyaknya, oleh karena itu dalam artikel ini akan dipaparkan mengenai kisah Prabu Siliwangi dari mulai lahir hingga kewafatannya berdasarkan data yang penulis peroleh dari beberapa sumber.


Kelahiran Dan Kisah Prabu Siliwangi Muda

Prabu Siliwangi dilahirkan pada tahun 1401 M di Galuh, ayahnya merupakan Raja dari Kerjaan Galuh yang bernama Prabu Dewa Niskala bin Mahaprabu Niskala Westu Kencana, kakek beliau ini dikenal dalam sejarah sebagai raja yang dijuluki Prabu Wangi, karena beliau berhasil mengharumkan martabat orang Sunda, beliau memilih mati dimedan perang daripada tunduk dibawah Majapahit. Beliau meninggal dalam tragedi pembantaian di Bubat.

Baca Juga : Asal-Usul Prajurit Sunda Yang Gugur Dalam Pembantaian Bubat

Karena terlahir sebagai anak seorang Raja maka sudah tentu Prabu Siliwangi yang mempunyai nama asli Jaya Dewata itu hidup dengan bergelimang harta, dan serba kecukupan, beliau dididik sebagaimana layaknya sang pangeran. Diajarkan ilmu-ilmu ketata negaraan dan kedigjayaan didalam lingkungan istana.

Menurut dongengan rakyat, Prabu Siliwangi dalam masa mudanya dihabiskan untuk mengembara, ia mengembara dari satu tempat ke tempat lainnya dengan menggunakan beberapa nama samaran, diantara nama samarannya yang terekenal adalah Keukeumbingan Rajasunu.

Pengembaraan Prabu Siliwangi Muda dikisahkan sampai ke Negeri Surantaka, salah satu kerajaan otonom bawahan Galuh yang dikepalai oleh soerang Prabu atau Raja bawahan, di Surantaka beliau kemudian menikah dengan istri pertamanya Nyi Ambet Kasih, anak Raja Surantaka, di Negeri ini  ia diangkat oleh mertuanya menjadi Raja.

Menurut Naskah Purawaka Caruban Nagari, Nyi Ambet Kasih merupakan putrei kerjaan Sindangkasih, ketika Prabu Siliwangi muda menikahinya ia dikisahkan menjadi Raja di Sindangkasih. Jika merujuk pada naskah ini, maka sebelum Prabu Siliwangi dinobatkan menjadi Raja di Galuh beliau terlebih dahulu menjadi Raja di Surantaka atau Sindangkasih. Dalam naskah ini nama muda Prabu Siliwangi adalah Pemanah Rasa.

Surantaka merupakan nama klasik untuk daerah Cirebon bagian utara, wilayah ini kini dikinenal dengan nama Kedaton, wilayah yang masuk pada kecamatan Kapetakan Cirebon.

Selain pernah mengembara di Surantaka, Prabu Siliwangi muda juga dikisahkan pernah mengembara di Japura, salah satu kerajaan bawahan Galuh, bahkan di kerajaan ini Prabu Siliwangi dikisahkan terlibat pertarungan dengan Amuk Marugul Raja dari Japura ketika merebutkan Subang Larang, anak dari Giri Dewata/ Ki Geng Jumajan Jati. Giri Dewata sendiri pada waktu itu merupakan Raja dari Kerajaan Singapura.

Di daerah yang kini disebut Cirebon, dahulu memang pernah berdiri tiga kerajaan otonom bawahan Galuh yaitu Singapura dengan Ibukota Mertasinga (Kini masuk wilayah kecamatan Gunung Jati), Surantaka dengan Ibukota Kedaton (kini masuk wilayah Kapetan), dan Japura yang kini dikenal sebagai desa Japura.Kabar mengenai ketiga daerah otonom ini juga dikabarka oleh Tome Pires seorang Apoteker Portugis ketika mengunjungi Sunda pada abad ke 16 awal.

Prabu Siliwangi Menjadi Maharaja Di Tatar Sunda

Selepas kemangkatan ayahandanya Prabu Dewa Niskala, Prabu Siliwangi kemudian di tarik ke Galuh, tahta kerajaan Sindangkasih/ Surantaka ia berikan kepada yang berhak, sementara ia kemudian pulang ke Galuh untuk melanjutkan tahta.

Pada saat Galuh di perintah oleh Prabu Siliwangi, dikisahkan Galuh mencapai puncak kemakmurannya, Pada saat menjadi Raja dari Kerajaan Galuh inilah kemudian Prabu Siliwangi melamar anak dari Puteri Kerajaan Sunda. Lamaran ternyata diterima. Waktu itu yang menjadi Raja di Kerajaan Sunda adalah Prabu Susuku Tunggal.

Prabu Susuku Tunggal belakangan menyerahkan tahta Kerajaan Sunda kepada Prabu Siliwangi, maka selepas penyerahan tahta itu, secara otomatis Prabu Siliwangi menjadi Raja dari dua kerajaan Pusat yang berbeda, yaitu Kerajaan Galuh dan Sunda. Berdasrkan pertimbangan efesiensi, akhirnya Prabu Siliwangi mlebur dua kerajaan tersebut menjadi satu kerajaan yang kemudian dikenal dengan nama Kerajaan Pakuan Pajajaran.
Baca Juga : Kerajaan Pakuan Pajajaran, Masa Pendirian, Kejayaan dan Kehancurannya

Mendapatkan Gelar Prabu Siliwangi

Gelar Siliwangi menurut Naskah Wangsakerta bukan gelar resmi, hanya sebagai sebutan orang Sunda saja, sebagai tanda bahwa beliau merupakan Raja besar pengganti Raja Wangi yang dahulu wafat di bubat.

Siliwangi sendiri secara bahasa bermaksud penggantinya Raja Wangi (Linggabuana/ Mahaprabu Niskala Westu Kencana). Karena memang kata tersebut berasal dari kata silih = ganti Wang=Raja Wangi. Gelar ini pada dasarnya mirip dengan gelar dalam sistem pemerintahan Islam setelah wafatnya Nabi Muhamad. Pemimpin Islam setelah wafatnya Nabi Muhamad disebut Khalifah A-Rasul (خليفة الرسول), yang berarti penggantinya Rasul Muhamad SAW.

Bangkitnya Cirebon dan Wafatnya Prabu Siliwangi

Dimasa sepuhnya Prabu Siliwangi boleh dikatakan sebagai Raja yang telah ditinggalkan anak-anak dan cucu-cucunya, anak-anak dari istri-istrinya yang jumlahnya 150 itu banyak yang kemudian lebih memilih memeluk agama Islam. Diantara anak keturunannya yang lebih memilih Islam itu adalah Cakrabuana, Rara Santang dan Kian Santang, anak dari Istrinya yang ke 11.

Cakrabuana berhasil mendirikan Kesultanan Cirebon, bersama keponakannya Sunan Gunung Jati. Menurut berita Cirebon dimasa sepuhnya Prabu Siliwangi merad (Moksa) setelah Pajajaran (Galuh) dikalahkan oleh Cirebon.  Sementara dalam sumber sejarah sebagaimana yang tertulis dalam Prasasti Batu Tulis, sepertinya Prabu Siliwangi wafat dengan normal, dan tahta setelahnya diserahkan kepada anaknya Prabu Surawisesa.


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search