Tragedi Kucir 1913 Part IV

- Desember 24, 2019
Cina Parean membantu Baba Ke Cang, mau mengepung Raden Sanusi. Pak Murba dan Jaka Sari datang membantunya. Baba Tiyang Bih menebas Pak Murba, tetapi senjata ditangkap, di buang, Pak Murba balik menggampar. Kiai Sarip akan ditebas oleh Baba Cung Yang, tetapi tebasan berhasil ditangkis, Baba Cung Yang jatuh tersungkur.

Bangsa Cina riuh bergemuruh, ada yang menembaki para santri. Bala santri bersikap tenang sambil berzikir. Bangsa Cina dan Santri beradu mulut. Keduanya sama-sama berani. Ki Demang Parayan mengutus Lotaris, Upas dan Serdadu mendatangi lokasi.

Baba Ki Cin menendang Kiai Sarip, akan tetapi Kiai Sarip menangkapnya lalu melemparkannya ke sungai. Jaka Sari berhasil menangkap Baba Sung Yang kemudian dilemparkan ke pagar bambu. Baba Hong yang memutar-mutar pedangnya sambil memacu kuda, menembaki para Haji. Turun dari kuda langsung menusuk Raden Sanusi dengan sebilah belati, tetapi tidak mempan. Baba Gim Po Yun menyerang barisan Kiai dengan senapan tapi tidak mengenainya.

Orang-orang Cina mengerahkan berbagai macam senjata. Diantara mereka banyak yang sakti pandai bela diri. Para Ulama sedikitpun tidak takut, mereka melafalkan dizikir dan membaca alquran. Orang-orang Cina banyak yang terluka oleh senjatanya sendiri.  Ulama dan Santri dikejar oleh Serdadu dan Upas, akan tetapi dapat meloloskan diri. Oleh karena itu, maka orang-orang Cina-lah yang ditangkap dan diadili.
Orang-Orang Cina Berkucir
Seluruh orang Cina memasrahkan jiawa dan raganya kepada pemerintah. Bagi kaum laki-laki kucirnya dipotong, disaksikan oleh pemerintah kemudian pulang ke rumahnya masing-masing. Para Santri pulang ke rumah Kiai Ahmadi Sumur Adem, semuanya selamat. Kiai Amin menggelar sukuran menyembelih sapi dan kambing.

Cina Anjatan merasa beruntung karena tidak menjadi sasaran para Santri. Setiap malam meraka berkumpul. Baba Cong Kahi menyarankan kepada teman-temannya supaya mengikuti jejak teman-temannya, memtong kuncir sendiri, supaya tidak menjadi sasaran para Santri. Lebih lanjut ia menjelaskan, supaya jangan terlalu membesar-besarkan masalah yang sudah-sudah, lebih baik menyadari bahwa bangsa Cina adalah tamu, masih beruntung tidak diusir.

Selain itu, Baba Cong Kaji menjelaskan “Leluhur kita sudah mewasiatkan supaya hidup bersama dengan orang Jawa, tetapi kita tidak mematuhi. Terlebih kita merasa pintar sendiri dan sombong. Tuhan kita juga tidak menyukai sifat dengki, sirik dan takabur. Bahkan kitapun lupa dengan yang maha luhur. Ingatlah sumpah leluhur kita dihadapan Kanjeng Syarif Hidayatullah, yang jika melarangnya maka akan sengsara”. Leluhur mereka percaya dengan kewalian Sunan Gunung Jati. Mereka semua menangis sedih, menyadari kesalahannya.

*Catatan: Untuk pembaca yang berminat memiliki Naskah Sedjarah Kuntjit guna memahai secara lebih detail kandungan naskah maupun guna keperluan penelitian, kami sisap sedia dan menjual alih bahasa dan transiltnya dalam bentuk buku. Buku Naskah Sejarah Kuntijt terdiri dari 178 halaman, buku di terbitkan oleh Perpustakaan Nasional RI Tahun 2019. Pemesan dapat menghubungi Kontak Admin di bawah ini, klik..!.

Contact

Berkomentarlah yang terarah dan jelas agar dapat dipahami dan dibalas admin.
EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search