Dyah Wijaya (Raden Wijaya) Raja Majapahit Pertama

- Februari 21, 2020
Majapahit adalah salah satu kerajaan terkemuka di Jawa yang dahulu pernah menguasai Nusantara, kisah mengenai kerajaan ini dikisahkan dalam naskah, prasasti, cerita rakyat baik yang bersumber dari Jawa maupun luar Jawa, meskipun begitu semua bukti-bukti sejarah yang ada sepakat bahwa Raja Majapahit pertama adalah Dyah Wijaya atau Raden Wijaya.

Dyah Wijaya dalam Naskah Negara Kertagama disebut sebagai raja pertama Majapahit, sementara Pararaton dan naskah lainnya menyebut Raden Wijaya atau Raden Harsa Wijaya. Sementara itu Prasasti Kudadu yang dibuat semasa Raden Wijaya hidup menyebutkan bahwa pendiri majapahit bernama Nararaya Sang Gramawijaya.

Dyah Wijaya dalam naskah Pararaton disebut sebagai anak Mahisa Campaka Narasingamurti yang menjabat sebagai Ratu Anggabaya di Kerajaan Singasari. Adapun menurut Naskah Wangsakerta Dyah Wijaya disebut sebagai anak Rakyan Jaya Dharma (Anak Prabu Dhamariksa Kerajaan Galuh (Sunda)) dan Dyah Lembu Tal (Putri Mahisa Campaka).

Selama hidupnya, Dyah Wijaya memiliki beberapa Istri, diantara istri-istrinya itu adalah sebagai berikut:

Dyah Sri Tribhuaneswari

Dyah Sri Tribhuaneswari Merupakan putri sulung Kertanegara yang menikah dengan Raden Wijaya pada saat Raden Wijaya menjabat sebagai Panglima Kerajaan Singasari. Istri pertamanya ini bergelar Sri Prameswari Dyah Dewi Tribuaneswari. Dalam Negara Kertagama Tribhuaneswari disebut Tribwana.

Menurut kisahnya, ketika Singasari runtuh akibat serbuan Kediri (1929 M), Raden Wijaya hanya sempat menyelamatkan Tribwana, bersama rombongan pelarian lainnya, Tribwana turut menyebrang ke Sumenep [Madura] untuk meminta perlindungan Aria Wiraraja. Dalam perjalanan itu Tribwana sering dibantu Lembu Sora jika menyebangi rawa-rawa, ia juga kadang digendong oleh pembantu setia dari Raden Wijaya itu.

Menurut Kidung PanjiI Wijaya Karma, ketika Raden Wijaya pura-pura menyerahkan diri ke Jaya Katwang di Kediri, Tribwana  tetap tinggal di Sumenep. Setelah Raden Wijaya mendapatkan hutan tarik untuk dibuka menjadi desa Majapahit, Tribwana baru kemudian menyusul dengan diantar Ranggalawe (Putra Aria Wiraraja Bupati Sumenep).

Setelah Raden Wijaya menjadi Raja Majapahit, dikisahkan Tribwana kemudian dijadikan sebagai Permaisuri utama. Hal tersebut didasarkan pada gelarnya yaitu Prameswari. Meskipun dalam sumber lain Tribwana dikisahkan sebagai Istri pertama Raden Wijaya, akan tetapi Pararaton menyebutkan berbeda, dalam Pararaton Istri pertama dari Raden Wijaya adalah Dara Pethak dari Dharmasraya (Penerus Kerajaan Sriwijaya Sumatra) yang melahirkan Jaya Negara (Kelak Menjadi Raja Ke dua Majapahit).

Dara Pethak diperoleh Raden Wijaya setelah melakukan penaklukan kerajaan-kerajaan Melayu di Sumatra yang dalam sejarah dikenal sebagai eksepedisi Pamalayu, Raja Dhamasraya menyerahkan dua putrinya yaitu Dhara Pethak dan Dhara Jingga sebagai tanda takluk kerajaan itu pada Singasari.
Kelak keduanya kemudian dinikahi oleh Raden Wijaya, akan tetapi kemudian Dara Jingga dikisahkan diserahkan Raden Wijaya kepada Kebo Anabrang, yang juga merupakan Panglima Perang yang mendampingi Raden Wijaya dalam eksepedisi Pamalyu di Sumatra. Sementara dalam Prasasti Kertarajasa yang bertiti mangsa 1305 Masehi, Tribwana disebut sebagai Ibu Jaya Negara.

Dari perpaduan kisah yang termaktub dalam Pararaton dan Prasasti Kertarajasa inilah kemudian para pakar sejarah menyimpulkan bahwa Jaya Negara tersebut sebenarnya anak Dara Pethak akan tetapi kemudian diangkat menjadi anak oleh Tribwana, sehingga kemudian Jaya Negara berhak menjadi Putera Mahkota Majapahit. Jaya Negara sendiri kemudian menjadi Raja Majapahit kedua yang bertahta pada 1309-1328.

Tidak ada kejelasan mengenai tahu kewafatan Tribwana, namun kabar mengenai kewafatannya termaktub dalam Negarakertagama yang menyatakan bahwa Tribwana wafat dan dicandikan di Rimbi yaitu disebelah barat Ibukota Majapahit pertama yaitu Majakerta sebagai Parwati.

Dyah Dewi Narendraduhita 

Dyah Dewi Narendraduhita adalah anak Kertanegara ke tiga yang menikah dengan raden Wijaya, Narendraduhita bergelar Sri Mahadewi Dyah Dewi Narendraduhita. Dalam pernikahannya dengan Raden Wijaya putri ini dikisahkan tidak mempunyai ketrununan.

Dyah Dewi Pranjaya Pramita

Dyah Dewi Pranjaya Pramita adalah juga putri Kertanegara, akan tetapi tidak disebutkan putri yang keberapa, Putri ini disebutkan sebagai putri yang paling setia. Putri ini juga dikisahkan tidak mempunyai keturunan selama menikah dengan Raden Wijaya.

Dyah Dewi Gayatri

Dyah Dewi Gayatri adalah putri Kertanegara juga, Putri ini dikisahkan dinikahi Raden Wijaya etelah beliau menjabat sebagai Raja, Gayatri diangkat oleh Raden Wijaya sebagai Rajapadni dengan gelar Sri Rajendradewi Dyah Dewi Gayatri.

Hasil pernikahannya dengan Raden Wijaya menghasilkan tiga anak yaitu (1) Tribwana Tunggadewi, (3) Bhre Kahuripan, dan (3) Rajadewi Maharajasa. Namun menurut Kakawin Negarakertagama Gayatri hanya memiliki dua orang putri yaitu (1) Dyah Gitaraja (Tribwahan Wijayatunggadewi), dan Dyah Wiyat.

Dara Pethak

Dara Petak adalah Istri Raden Wijaya diluar anak-anak Raja Singasari, ia merupakan anak dari Raja Dharmasraya yang bernama Maulimarwadewa didapat dari hasil Ekspedisi Pamalayu. Menurut Kronik Cina, Dara Petak adalah istri yang paling mampu menghambil hati Raden Wijaya sehingga ia kemudian diberi gelar  Sri Tinuben Pura (Istri Yang dituakan dalam Istana).

Dara Jingga

Dara Jingga merupakan Istri dari Raden Wijaya, ada yang menyatakan adik dari Pethak, pada saat menjadi Istrinya ia digelari Alaki Dewa (Wanita yang besrsuamikan dewa). Namun Dara Jingga kemudian diberikan oleh Raden Wijaya kepada Kebo Anabrang.

Dyah Wijaya Wafat

Wafatnya Dayah Wijaya dikisahkan dalam naskah Pararaton, menurut naskah ini, Dayah Wijaya wafat di Antapura pada Tahun 1257 karena menderita sakit bisul kronis. Sementara itu dalam Negara Kertagama disebutkan bahwa kematian Dyah Wijaya terjadi pada Tahun 1231 Saka, juga meninggal di Antapura.

Masih menurut Naksah Negara Kertagama, bahwa Dyah Wijaya, atau Sri Kertarajaya Jaya Wardana pada saat wafat di dharmakan sebagai Harihara di Simping dengan sifat Siwaitis dan di Antapura dengan sifat Bhuudistis, yakni perwujudan Siwa dan Wisnu dalam satu Arca, dalan Naskah itu juga disebutkan bahwa arca yang dibuat itu disebut Siwa dari Candi Simping.

Belakangan Candi Simping itu juga dikenal dengan nama Candi Sumberjati. Candi ini terletak di Desa Sumberjati Kecamatan Suruh Wedang, deerah Kademangan Blitar Jawa Timur.  Dalan Negara Kertagama juga tercaat bahwa Candi ini mnegalami pemugaran pada masa Hayam Wuruk memerintah tepatnya pada tahun 1285 Saka bertepatan dengan 1363 Masehi. 

Berkomentarlah yang terarah dan jelas agar dapat dipahami dan dibalas admin.
EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search