Nasib Kesultanan Cirebon Selepas Kemangkatan Panembahan Girilaya

- Februari 25, 2020
Panembahan Girilaya mangkat pada 1662 di Mataram saat mengunjungi mertuanya Susuhunan Amangkurat Agung, wafat karena dibunuh mertuanya sendiri dengan jalan halus. Sehingga pada mulanya tidak ada yang menduga bahwa Sultan Cirebon tersebut wafat karena dibunuh. Namun seiring berjalannya waktu konspirasi pembunuhan tersebut terungkap juga.

Konspirasi pembunuhan terungkap karena tingkah laku dari Amangkurat I sendiri, sebab Sultan Mataram tersebut tdak mau memulangkan dua putra Panembahan Girilaya yang menyertai ayahnya berkunjung ke Mataram. Padahal kedua anak tersebut merupakan putra mahkota yang sedianya akan dijadikan Sultan Cirebon selanjutnya bila ayahnya meninggal. Tingkah laku Amangkurat yang demikian itu dapat memberikan gambaran pada Cirebon bahwa sesungguhnya Mataram menghendaki bubarnya kesultanan Cirebon.

Meskipun para pembesar Kesultanan Cirebon tahu bahwa dalang wafatnya Panembahan Girilaya adalah mertuanya sendiri, mereka tidak dapat berbuat banyak, hal tersebut dikarenakan Mataram merupakan sekutu VOC Belanda yang kekuatannya terbilang tangguh, sementara disisi lain hubungan Cirebon dengan Banten kurang baik karena dahulu Cirebon dibawah bendera Mataram pernah melakukan penyerangan pada Banten dalam "Peristiwa Pagrage”.

Tindakan yang dapat dilakukan Cirebon untuk dapat balas dendam serta memulangkan kedua Putra mahkota adalah dengan cara melakukan noromalisasi hubungan dengan Banten serta mengajaknya bersekutu melawan Mataram. Selain itu, Cirebon juga mengangkat Pejabat Pengganti Sultan untuk menjalankan roda pemerintahan sambil menunggu lengahnya Mataram.

Selama 16 Tahun (1662-1678) Kesultanan Cirebon diprintah oleh Pejabat Pengganti Sultan, yang menjabat sebagai pelaksana pengganti Sultan tersebut dikenal dengan istilah Jaksa Pepitu (Jaksa 7) yang menjadi ketuanya adalah Pangeran Wangsakerta, anak Panembahan Girilaya dari Istri yang lain (Bukan Permaisuri).

Selama 16 tahun, Jaksa Pepitu melakukan normalisasi hubungan dengan Banten, serta juga mengincar kelemahan Mataram. Hingga akhirnya, ketika Amangkurat I diguncang pemberontakan besar (Pemberontakan Trunojoyo), Cirebon dan Banten bergerak, kedua kerajan tersebut ikut mendanai dan mempersenjatai pemberontak.

Usaha Banten dan Cirebon membiayai dan mempersenjatai Trunojoyo rupanya tidak sia-sia, sebab pada 28 Juni 1677 Pasukan Pemberontak berhasil merebut Istana Kesultanan Mataram (Istana Plered) serta memaksa Amangkurat I melarikan diri dari Istana sebelum akhirnya wafat dalam pelarian.

Pada saat penaklukan Istana Plered, dua putra Mahkota Kesultanan Cirebon diselamatkan sebelum akhirnya dipulangkan ke Cirebon oleh duta Banten dan Cirebon yang berada di Mataram.

Sesampainya di Cirebon, kedua Putra Panembahan Girilaya yang lahir dari Permaisuri itu kedua-duanya dinobatkan menjadi Sultan. Sang Kakak yang bernama Pangeran Mertawijaya dinobatkan sebagai Sultan Sepuh, sementara adiknya yang bernama Kertawijaya dinobatkan menjadi Sultan Anom. 

Mulai setelah itu, Cirebon dipecah menjadi dua Kesultanan, yaitu Kesultanan Kasepuhan dan Kanoman. Sementara Pangeran Wangsakerta yang dahulu menjadi jaksa pepitu tetap diberi kekuasaan dan juga diperbantukan di Kesultanan Kasepuhan mendampingi kakaknya.

Baca Juga: Pembebasan Pangeran Merawijaya dan Kertawijaya dari Sekapan Mataram

Berkomentarlah yang terarah dan jelas agar dapat dipahami dan dibalas admin.
EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search