Berdirinya Kerajaan Pajajaran

- Maret 21, 2020
Berdirinya Kerajaan Pajajaran
Pajajaran sebetulnya adalah Ibu Kota Kerajaan Sunda Galuh yang pernah berdiri pada tahun 1030-1579 M di pulau Jawa bagian barat sebutan resminya Pakuan Pajajaran.

Kerajaan Pajajaran adalah sebutan lain dari gabungan Kerajaan Sunda-Galuh yang menganut agama Hindu. Penyebutan yang semacam itu lazim digunakan orang tempo dulu, mereka biasa menamai kerajaan sesuai dengan nama Ibu Kotanya.

Kerajaan Pajajaran berdasarkan beberapa sumber naskah-naskah kuno nusantara sering disebut Negeri Sunda, Sunda Galuh, Pasundan atau berdasarkan nama ibu kotanya yakni Pakuan Pajajaran. Prasasti Sanghyang tapak menjelaskan bahwa Kerajaan Pajajaran (Maksudnya Suanda-Galuh) didirikan oleh Sri Jayabhupati pada Tahun 932 M.

Ditinjau dari namanya, kata Pakuan Pajajaran memiliki asal-usul tersendiri, menurut naskah Carita Waruga Guru (1750-an), dinamakan Pakuan Pajajaran karena lokasi berdirinya Ibu Kota Kerajaan Sunda terdapat pohon Pakujajar yang cukup banyak sehingga kemudian tempat tersebut dinamakan Paku Jajar atau Pakuan Pajajaran.

Sejalan dengan itu, menurut K. F Holle (1896), dalam tulisannya berjudul “De Batoe Toelis te Buitenzorg” di Bogor ada kampung Cipaku, selain itu terdapat sungai yang bernama Cipaku juga. Disana banyak ditemukan pohon paku. Dari sini Holle berani menyimpulkan bahwa nama Pakuan ada kaitanya dengan keberadaan tempat Cipaku dan pohon Paku. Nama Pakuan Pajajaran menurut Holle diambil dari nama pohon paku yang berjajar panjang.

Berbeda dengan pendapat sebelumnya, menurut G. p. Routffaer (1919). Dalam Encyclopedie van Niederlandsch Indie edisi Stibbe tahun 1919 M, menyinggung pakuan berasal dari “paku”, tetapi diartikan sebagai “paku jagat” yang memiliki arti seorang raja memiliki pribadi yang mampu memimpin rakyat, sebagaimana gelar yang dimiliki Paku Buwono dan Paku Alam. Istilah “Pakuan” menurut Routhffaer setara dengan gelar “Maharaja”.

Sedangkan kata “Pajajaran” diartikan sebagai “berdiri sejajar”, maksudnya adalah keberadaan Pakuan Pajajaran sejajar dengan kerajaan di Jawa yakni Majapahit. Walaopun tidak merangkum nama Pakuan Pajajaran secara detail. Routhffaer memberi kesimpulan seperti yang pernah ditulis oleh Hoesein Djajadiningrat (1913) bahwa Pakuan Pajajan berdiri pada tahun 1433 M dan memiliki Maharaja yang kekuatanya sejajar dengan Mahara Majapahit.

H. Ten Dam (1957), seorang yang ahli dalam bidang pertanian, pernah meneliti asal-usul “Pakuan Pajajaran” dengan mengambil sampel kehidupan sosial-ekonomi petani yang ada di Masyarakat Sunda. Dalam penelitiannya ia menyimpulkan bahwa “Istilah pakuan ada hubungan dengan “lingga” (tonggak) batu yang terpancang di sebelah prasasti Batutulis sebagai bentuk kekuasan kerajaan. Ia menghubungkan bahwa dalam carita Parahyangan telah disebut sosok sang Haluwesi dan Sang Suksuktunggal yang dianggapnya masih mempunyai pengertian “paku”.

Berdasarkan alur sejarah kerajaan Sunda Galuh, diketahui bahwa Kerajaan Pajajaran berdiri setelah Wastu Kencana meninggal pada tahun 1475 M. atas meninggalnya Wastu Kencana menyebabkan Kerajaan dipecah menjadi dua bagian.

Pakuan Pajajaran dibawah kekuasaan Prabu Suksuktunggal (Sang Haliwungan ber ibukota di pakuan yang sekarang bernama Bogor. Satunya kerajaan Galuh dibawah kekuasaan Dewa Niskala (Ningrat Kencana) tetap berpusat di Kawali. Oleh sebab itu, Prabu Suksuktunggal dan Dewa Niskala tidak mendapatkan gelar Prabu Siliwangi. Karena kedua raja ini tidak memiliki kekuasaan yang meliputi seluruh tanah pasundan.

Sejarah berdirinya kerajaan pajajaran tidak bisa dipisahkan dengan kerajaan-kerajaan di Jawa bagian barat sebelumnya, seperti kerajaan salakanegara, kerajaan Tarumanegara, kerajaan sunda,  dan kerajaan  galuh. Sebab, kerajaan pajajaran merupakan kelanjutan kerajaan tersebut. Dari sejarah kerajaan di Jawa Barat dapat diketahui mengenai ibu kota dan letak Kerajaan Pajajaran, namun terdapat perbedaan dalam naskah Babad Pajajaran, Carita Parahiyangan, dan Carita Waruga Guru.

Berdirinya Kerajaan Pajajaran

Asal mula berdirinya Kerajaan Pajajaran (Gabungan Kerajaan Sunda-Galuh) sebetulnya dapat ditarik dari tahun 932 M. PErsatuan Sunda dan Galuh yang membentuk Kerajaan Pajajaran dimulai pada masa Sri Jayabupati. Pertanyaan ini dibuktikan melalui penemuan Prasasti Sanghyang (1030M) yang berada di lokasi Sukabumi.

Kerajaan Pajajaran didirikan oleh Sri Jayabupati setelah mengalami perpecahan dengan kerajaan Galuh yang dipimpin oleh Rahyang Wastu. Disaat Rhyang Wastu wafat, akhirnya kerajaan Galuh terpecah menjadi dua bagian, pecahan pertama dipimpin oleh Raja Suksuktunggal. Raja Dewa Niskala dan Raja Suksuktunggal ini memiliki gelar yang sama.

Asal mula kemunculan kerajaan Pajajaran ini dimulai menjelang runtuhnya kerajaan Majapahit pada abad ke -15 M. 

Pada abad tersebut, Majapahit semakin lemah, sistem pemerintahan sudah carut-marut, perekonomian semakin anjlok, ditambah perselisihan masalah internal kerajaan semakin parah, sehingga dari beberapa orang dalam kerajaan memutuskan pergi ke daerah Kawali, yang kala itu sebagai Ibu Kota Kerajaan Pajajaran Barat (Galuh).

Melihat banyak pengungsi dari Majapahit, Dewa Niskala pun menyambut dengan baik, bahkan anak prabu Kerthabumi (Raja Majapahit) yang bernama Raden Babirin ikut serta dalam rombongan pengungsian sebelum akhirnya dinikahkan dengan putri Sunda. Tapi hal ini mengundang kemarahan Raja Suksuktungal. Sebab dalam ketetapan kerajaan Sunda Galuh telah menyepakati bahwa masyarakat Sunda tidak boleh menikah dengan masyarakat Majapahit hal tersebut didasarkan pada tragedi perang bubat.

Atas pelanggaran yang dilakukan Raja Dewa Niskala, Raja Suksuktunggal semakin geram. Raja Suksuktunggal ingin melampiaskan kemarahan ini dengan bertarung melawan Raja Dewa Niskala. Sebab menurutnya hal tersebut bukan persoalan melanggar hukum saja, tapi sudah berhubungan dengan harga diri masyarakat Sunda.

Agar peperangan tidak berlanjut, akhirnya dewan penasihat kedua kerajaan saling bertemu dan membuat kesepakatan yang saling menguntungkan. 

Jalan perdamaian tersebut ditempuh melalui pengangkatan penguasa baru yakni Jayadewata dengan gelar Sri Baduga Maha Raja (Prabu Siliwangi). Selain itu diputuskan juga bahwa kerajaan yang sudah terpecah menjadi dua harus disatukan kembali. Dari penyatuan dua kerajaan ini lah maka lahir kerajaan baru yang kemudian dikenal dengan nama Kerajaan Pajajaran peristiwa tersebut terjadi pada tahun 1482 M. Dalam sejarah Sri Baduga Maharaja dianggap sebagai Raja pertama Kerajaan Pajajaran.

Penulis: Anisa Anggraeni Saldin
Editor : Sejarah Cirebon

Berkomentarlah yang terarah dan jelas agar dapat dipahami dan dibalas admin.
EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search