Perang Salib III

- Maret 20, 2020
Perang Salib III terkenal dengan sebutan “Perang Salib Para Raja” karena diikuti oleh raja-raja Eropa seperti Raja Richard I dari Inggris, Raja Philip II dari Prancis, dan Raja Federick I dari kekaisaran Suci Roma. Dari Pihak islam dipimpin oleh Shalah al-Din al-Ayyubi yang berhasil menyatukan Mesir dan Suriah dibawah Dinasti Ayyubiah.

Perang Salib III terjadi selama tiga tahun dengan hasil sama-sama kuat. Sama-sama kuat yang berarti sebagian dikuasai islam dan sebagianya lagi dikuasai pasukan Salib. Latar belakang terjadinya Perang Salib III karena jatuhnya Yerusalem pada tahun 1187 karena kalah melawan pasukan Shalah al-Din.

Shalah al-Din Sang Penakluk Yerusalem 1187

Dalam mata dunia barat dikenal dengan nama Saladin. Saladin berasal dari Etnis Kurdi, karir Shalah al-Din berkembang pesat ketika mengabadikan diri dalam kekhalifahan Fathimiah yang dilanda krisis politik pada masa pemerintahan khalifah al-Adhid. Shalah al-Din menjadi sultan di Mesir namun juga di Syams. Pemerintahan Dinasti Shalah al-Din diberi nama Dinasti Ayyubiah pada tahun 1174. Penamaan Dinasti diambil dari nama ayahnya.

Keadaan politik di Timur Tengah yang bergejolak karena Yerusalem dikuasai kembali oleh kriten sejak 1099 membuat Shalah al-Din ingin merebut kembali Yerusalem.  Shalah al-Din mempersiapkan secara matang-matang dalam merebut Yerusalem. Sebelum Yerusalem direbut, terjadi pertempuran di Hattin.

Pertempuran Hattin berlangsung selama dua hari yang dipimpin oleh Shalah al-Din dan pasukan Salib di pimpin oleh Guy Lusignan yaitu pada tahun 4 Juli 1187. Tidak hanya kekalahan yang didapatkan pasukan Salib di Hattin namun juga hampir semua pasukan Salib menjadi korban dalam pertempuran tersebut mengakibatkan Yerusalem tidak mendapat perlindungan karena pasukan terlatihnya telah lenyap.

Tidak hanya pasukan dari Yerusalem yang terlibat dalam pertemputan di Hattin namun juga ada dari pemerintahan Kristen Tripoli dan Antiokkhia juga mengirimkan pasukan terbaiknya. Guy akhirnya menjadi tawanan perang dan Reynald akhirnya dibunuh. Setelah Shalah al-Din menang dalam pertempuran Hattin dan langsung bergerak menuju Yerusalem untuk merebut kembali, ketidak siagaan Yerusalem membuat semakin mudah Shalah al-Din untuk merebut kembali Yerusalem.

Yerusalem dapat bertahan hingga 12 hari akan tetapi tepatnya pada tanggal 2 Oktober 1187 pasukan Salib menyerah dan Balian dari Ibelin menyerah kepada Shalah al-Din. Jatuhnya Yerusalem menjadi latar belakang terjadinya Perang Salib III.

Deklarasi Paus Gregory VIII

Mendengar jatuhnya Yerusalem ketangan Islam. Paus Gregory VIII mengumumkan bahwa Eropa harus menyatakan perang terhadapt Shalah al-Din. Pasukanpun dikirim dari berbagai kerajaan Eropa yaitu dari kerajaan Surga walapun Kerajaan ini sedang kacau di Timur Tengah, kerajaan Inggria dan Prancis yang dipimpin oleh Phillip II, dari kerajaan Suci Roma yang dipimpin oleh Frederick Brabarossa dari etnis jerman.

Pasukan Salib di pimpin oleh Brabarossa melewati jalur darat menuju Konstaninopel. Pada Perang Salib III tersebut. Dalam peritiwa ini ada peritiwa aneh yaitu kerajaan Bizantium yang pernah dibantu oleh Pasukan Salib tidak mengikuti perang Salib III, dibalik ketidak ikutanya dalam perang ternyata Raja Bizantium Isaac II Angelos membuat persekutuan rahasia yang bertujuan meminta bantuan kepada Shalah al-Din untuk melindunginya dari Pasukan Salib yang dipimpin oleh Brabarossa. Namun Brabarossa tidak pernah mencapai Yerusalem dikarenakan ia terluka pada pertempuran di Konya sehingga ia kembali ke Jerman, disisi lain Pasukan Salib memenangkan melawan Turki Seljuk.

Pertempuran Acre: Pertempuran dua Tahun

Acre merupakan pelabuhan strategis untuk mencapai Yerusalem jika perjalanan dilakukan melalui Sirpus. Pertempuran di Arce dimulai pada tahun 1189, tepatnya pada tanggal 28 Agustus.

Pertempuran dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama adalah fase dimana pasukan Saling melakukan peperangan yang sia-sia karena dikalahkan oleh Shalah al-Din. Tahap kedua dimana pasukan Salib memperoleh kemenangan karena datangnya bantuan dari pasukan salib Eropa, yaitu pasukan Richard I dan Philip II dipertengahan tahun 119. Setelah dimenangkan oleh pasukan Salib, Arce di serahkan kepada pasukan Salib pada tanggal 12 Juli 1191.

Pertempuran Arsuf dan Jaffa 

Sejak kemenangan di Arce, Raja Richard I diberi kepercayaan untuk memimpin pasukan Salib dalam melawan pasukan dinasti Ayyubiyah. Pertempuran Arsuf dilakukan dalam sehari dan dimenangkan oleh pasukan Salib. pasukan Shalah al-Din mengalami kekalahan luar biasa. Pertempuran kembali terjadi dengan Shalah al-Din di Jaffa pada Agustus 1192. Pertempuran di Jaffa sekligus menjadi penutup bagi Richard I sebelum kembali ke Eropa. Setelah pertempuran Jaffa, maka berakhirlah dengan diakhiri perjanjian damai antara Pasukan Salib dengan Dinasti Ayyubiah.

Kemanangan pasukan Salib diberbagai medan tidak lengkap karena tujuan utama untuk merebut Yerusalem gagal terwujud. Hal tersebut terjadi karena perjanjian damai tersebut telah disepekati bahwa Yerusalem tetap dalam pengawasan Dinasti Ayyubiah dan aman bagi umat Kristen yang ingin menunaikan ibadah ke Gereja Sepulcher. Dalam peristiwa ini sangat menguntungkan bagi pasukan Salib karena selain Yerusalem dikembalikan oleh Shalah al-Din dan pengkuan secara legal oleh Shalah al-Din selaku pemimpin Dinasti Ayyubiah mengenai keberadaan pemerintah Kristen di Timur tengah. 

Penulis: Anisa Anggraeni Saldin
Editor : Sejarah Cirebon

Berkomentarlah yang terarah dan jelas agar dapat dipahami dan dibalas admin.
EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search