Ratu Dewata Raja Pajajaran Ketiga

- Maret 24, 2020
Ratu Dewata Raja Pajajaran Ketiga
Ratu Dewata adalah Raja ketiga Pajajaran menggantikan ayahnya Surawisesa. Ratu Dewata memerintah Pajajaran dari mulai Tahun 1535-1543 M. Dalam mempertahankan kerajaan, ia berbeda dengan ayahnya. Jika Surawisesa terkenal sebagai panglima perang yang perwira dan pemberani, Ratu Dewata terkenal alim dan taat kepada agama.

Ciri khas yang terkenal semasa ia menjabat adalah melakukan upacara sunatan (adat khitan pra-Islam) dan melakukan tapa pwah susu, yakni sebuah tradisi tirakat yang diperbolehkan makan buah-buahan dan minum susu saja.

Di masa pemerintahan Ratu Dewata, perjanjian Pajajaran dan Cirebon yang ditetapkan era Surawisesa masih tetap berlaku. Tetapi ia tidak begitu memedulikan. Seharusnya sebagai tokoh nomor satu di Kerajaan Pajajaran, ia harus tetap siaga. Namun faktanya ia kurang mengenal seluk beluk politik pemerintahan.

Di zaman Ratu Dewata, perjanjian Pajajaran dan Cirebon mulai diungkit kembali. Hasanudin dari Banten yang pada waktu ikut menandatangani perjanjian perdamaian hanya patuh kepada siasat ayahnya Susuhunan Jati yang melihat kepentingan wilayah Cirebon di sebelah timur Citarum, namun, secara personal Hasanudin kurang setuju atas terselenggaranya perjanjian tersebut, sebab wilayah Hasanudin berbatasan langsung dengan Pajajaran. Atas hal ini, secara diam-diam Hasanudin membentuk pasukan khusus yang tersembunyi dan memiliki fungsi bergerak cepat ketika sewaktu-waktu dibutuhkan.

Kerajaan Pajajaran di bawah kepemimpinan Ratu Dewata masih diuntungkan dengan memiliki perwira yang pernah mendampingi ayahnya dalam 15 kali pertempuran. Sebagai perwira senior, ia memiliki berbagai pengalaman banyak saat menghadapi musuh. Selain itu, ketangguhan benteng Pakuan Pajajaran warisan dari Sri Baduga Maharaja menyebabkan serangan cepat dari Banten melalui Pelabuhan Kalapa tidak mampu menembus benteng pertahanan Pakuan. Tapi dua orang Senopati Pajajaran harus gugur akibat serangan itu, yakni Tohaan Ratu Sangiang dan Tohaan Sarendet.

Sikap Ratu Dewata yang suka mengambil jalan hidup bertapa dan terlalu alim, menurut persepsi masyarakat Sunda pada zamannya tidak begitu tepat. Sebab ia berposisi sebagai raja yang harus memerintah dengan baik. Sikap tapa brata yang dilakukannya itu hanya boleh dilakukan setelah lengser dari takhta dan menempuh kehidupan manurajusuniya atau mengambil jalan sunyi untuk mendekatkan kepada Sang Hyang Kuasa, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Wastu Kancana.

Dalam Naskah Carita Parahiyangan, sosok Ratu Dewata dicela dengan berbagai sindiran karena dianggap munafik. Demikian petikannya:

 "Nya iyatna-yatna sang kawuri, haywa ta sira kabalik papuasaan" (Maka berhati-hatilah yang kemudian, janganlah engkau berpura-pura rajin puasa)

Tirakat Ratu Dewata itu disebabkan karena ia tidak berani menghadapi kenyataan yang ada. Berbeda dengan Surawisesa, walaupun ia tidak memiliki wibawa Sri Baduga Maharaja, tetapi ia mampu menjaga Kerajaan Pajajaran dengan baik. Hal ini dibuktikan dengan membuat Prasasti Batutulis sebagai ekspresi hormat yang ditujukan kepada ayahanda Sri Baduga Maharaja. Selain itu, untuk mengambil jalan tengah agar Kerajaan Pajajaran tetap berdiri atas serangan Cirebon dan Demak, ia melakukan perjanjian agar tidak semakin menghancurkan Pajajaran.

Penulis : Anisa Anggraeni Saldin
Editor : Sejarah Cirebon

Berkomentarlah yang terarah dan jelas agar dapat dipahami dan dibalas admin.
EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search