Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Surat Dipati Natadireja Kepada Herman Willem Daendels

Surat Dipati Natadireja Kepada Herman Willem Daendels menginformasikan peristiwa pemberontakan di Cirebon pada tahun 1808 yang dipimpin oleh 3 tokoh utama yang disebut Kapala Titiga, yaitu (1) Kulur (2) Rangin (Bagus Rangin), dan (3) Draham.

Surat Dipati Natadireja Kepada Herman Willem Daendels merupakan naskah koleksi Arsip Nasional Republik Indonesia yang pernah diterjamahkan oleh Titin Nurhayati Ma‟mun dan dipresentasikan dengan judul “Surat Dipati Natadireja kepada Daendels,” dalam Simposium Internasional ke-16 Pernaskahan Nusantara dan Musyawarah nasional ke-6 Manassa, Jakarta, 26-29 September 2016.
Berikut ini adalah teks naskah Surat Dipati Natadireja Kepada Herman Willem Daendels selaku Gubernur Hindia Belanda;
Lembar-1

Lembar-2

Lembar-3

Lembar-4

Terjamah:

Inilah surat (yang dikirim) dengan sembah sujud (serta) hormat saya, Raden Dipati Natadireja (yang bertugas) di Negeri Cirebon. Teruntuk tuan besar nan berkuasa, Herman Willem Daendels, panglima perang Negeri Belanda serta Gubernur Jenderal Hindia yang memerintah negeri-negeri bawah angin atas nama raja Belanda.

Selanjutnya (saya) beritahukan, Petor Cirebon menyampaikan kabar (bahwa) saya (dan) anda sebaiknya memeriksa (para) abdi dalem alit di Cirebon. (Hal itu harus dilakukan) lantaran para abdi dalem alit masih juga tega berbuat tidak pantas (yakni) berani ikut-ikutan menjadi pengacau (barandhal), (di mana) saya (kepada) Anda akan memberi penjelasan tentang hal itu.

Tuan, saya menyerahkan mati hidup diri saya seutuhnya kepada Anda. (Lagi pula,) memang, anda memiliki kekuasaan untuk menghidupkan (atau) mematikan jasad saya karena anda (merupakan) tuan saya yang sebenar-benarnya.

(Terkait dengan) perkara tersebut, Tuan, saya (hendak) menyampaikan kenyataan yang sebenar-benarnya karena sebelumnya saya telah memeriksa sekaligus membuktikan (dugaan yang ditujukan) terhadap para kapala serta orang-orang kecil (titiyang alit; para bawahan).

Sama sekali tidak kelihatan, dalam mata saya, dari apa yang sama-sama dimiliki, aturan yang diberlakukan, sebab apa-apa (itu), (saya pandang) sama sekali tidak memberatkan.

Berdasarkan pendengaran dan penglihatan saya yang telah dibuktikan secara sungguh-sungguh, (bahwa saat ini mereka) merasa senang, (dan merasa) mudah. Hal itu terlihat dalam perilaku yang secara nyata (mereka tunjukkan), (yakni) bergembira hati dalam melakukan semua pekerjaan. Oleh karena itu, saya sama sekali tidak merasakan bahwa para abdi dalem alit telah melakukan perbuatan yang tidak pantas tersebut.

Soalnya, itu tadi, (saya) sama sekali tidak pernah melihat dan mendengar sedikit pun tentang keberatan (keluhan) mereka. (Sebaliknya, mereka) sangat senang dalam melakukan pekerjaan.

(Meskipun demikian, dalam kesempatan ini), sesungguhnya, saya menyimpan kekhawatiran bahwa para abdi alem alit memang telah berani memperbuat sesuatu yang tidak pantas.

Sebenarnya hal itu bermula dari kebodohan para abdi dalem alit sehingga terbujuk untuk mengikuti langkah kapala titiga yang sesungguhnya sangat buruk, seperti Kulur, Rangin, serta Draham. Kebodohan itulah yang membuat para abdi dalem alit termakan bujuk rayu kapala titiga untuk melakukan perbuatan yang sangat buruk tersebut.

Serta kekhawatiran saya, selagi kapala titiga yang sangat buruk itu belum tertangkap, mesti belum datang ketenteraman kepada diri para abdi dalem alit, meskipun masih juga mendengar tentang bujuk rayu kapala titiga yang berkelakuan buruk tersebut.

Selain itu, Petor Cirebon juga membicarakan dengan abdi dalem yang bernama Demang Suraprasandhah yang diminta oleh Anda untuk mendapat hukuman (akarante). Soal ini, berdasarkan penglihatan dan pendengaran saya, sebenarnya hukuman tersebut sudah diberlakukan. Soalnya, tak hanya sekali dua kali ia memperlihatkan pembangkangan (cidhranipun) serta tidak mengindahkan perintah.

Malah, salah seorang dari kapala titiga, bernama Rangin, (pernah) bersembunyi di sebuah dusun yang berada di wilayah kekuasaan Demang Suraprasandhah. Jelas-jelas ia kedapatan tidak ingin menangkap Rangin. Sebaliknya, ia justru menyuruh Rangin untuk melarikan diri.

Inilah, Gusti, hal-hal yang bisa saya sampaikan dengan sebenar-benarnya. Saya pun melaporkan hal ini dengan tulus ikhlas dari hati, tentang segala hal yang saya lihat dan dengar.

Ditulis di Negeri Cirebon, pada tanggal 5 Jumadilakhir Tahun Dal 122 Hijriah. (25 Juli 1808)

Baca Juga: Pemberontakan Bagus Rangin Di Cirebon

1 komentar untuk "Surat Dipati Natadireja Kepada Herman Willem Daendels"

  1. [ Tuan, saya menyerahkan mati hidup diri saya seutuhnya kepada Anda. (Lagi pula,) memang, anda memiliki kekuasaan untuk menghidupkan (atau) mematikan jasad saya karena anda (merupakan) tuan saya yang sebenar-benarnya. ]

    Sedih, gak tega dan sampe geleng-geleng kepala saya saat baca ucapan Sang Dipati yg sangat menjatuhkan harga dirinya dihadapan penjajah dan TUHANNYA.

    Apa dia gak pernah baca atau gak ngerti ma'na doa Iftitah saat sholat?

    Itu pendapat saya yg dhoif.
    CMIIW.
    innashsholaati wanusuuki wamahyaaya wamamaati lillaahi robbil'aalamiin.

    BalasHapus

Berkomentarlah yang terarah dan jelas agar dapat dipahami dan dibalas admin.