Biografi Gajah Mada, Lahir hingga Wafat

Gajah Mada adalah Mahapatih Amangkubhumi (Perdana Mentri) Majapahit yang lahir pada tahun 1299 dan wafat pada Tahun 1364 Masehi. Selama 65 tahun menjalani hidup, Gajah Mada menorehkan prestasi yang tiada bandingnya bagi Kerajaan Majapahit.

Gajah Mada lahir ketika Majapahit diprintah oleh Raja pertamanya Raden Wijaya, ketika Jaya Negara naik tahta (1309) Gajah Mada baru berusia 10 Tahun. Sementara ketika menyelamatkan Jaya Negara dari upaya kudeta yang dilakukan Ra Kuti (1319) Gajah Mada baru berusia 20 Tahunan saja. Dengan demikian Gajah Mada sudah menjadi pahlawan bagi negara manakala usianya masih menjelang dewasa.

Selepas memadamkan pemberontakan Ra Kuti,  tepatnya pada tahun 1319 Gajah Mada dianugerahi jabatan sebagai Patih di Kahuripan dan untuk dua tahun kemudian yaitu pada tahun 1321 ia diangkat menjadi Patih di Kediri.

Kala itu, baik Kahuripan maupun Kediri (Daha) merupakan kerajaan bawahan Majapahit. Karir Gajah Mada semakin melesat dimulai pada Tahun 1336 (ada juga yang berpendapat tahun 1334) karena pada tahun ini Gajah Mada diangkat menjadi Mahapatih Amangkubhumi Majapahit. Dengan demikian Gajah Mada diangkat menjadi Mahapatih ketika ia berumur 35 tahun.

Kelahiran dan Asal-Usul Gajah Mada

Kelahiran dan asal-asul Gajah Mada beragam versi, sebagian besar versi yang ada bersifat dongeng, meskipun begitu selepas ditemukannya Parasasti Gajah Mada yang juga disebut sebagai Prasasti Singasari karena ditemukan di wilayah Singasari Malang kelahiran dan asal-usul Gajah Mada mulai terkuak.

Menurut legenda sebagaimana yang tertulis dalam kitab “Usana Jawa” Gajah Mada dilahirkan di Pulau Bali sebelum akhirnya pindah dan menetap di Majapahit.

Kitab Usana Jawa juga menjelaskan bahwa Gajah Mada tidak mempunyai ibu dan bapak, melainkan terpancar dari dalam buah kelapa sebagai penjelmaan Sang Hyang Narayana ke dunia. Pendek kata Gajah Mada dilahirkan sebagaimana anak-anak setengah Dewa lainnya seperti Arjuna, Yudistira dan lain sebagainya.

Sementara itu bagi masyarakat Jawa, khususnya masyarakat di sekitar Malang menganggap Gajah Mada dilahirkan di sekitar daerah aliran Sungai Brantas, pada kira-kira Tahun 1300 Masehi. Dalam tutur masyarakat ini Gajah Mada dikisahkan berlar belakang dari keluarga yang tak punya. Dari itulah kemudian kisah Gajah Mada dari mulai kecil hingga sebelum menjadi Tentara Majapahit seperti haram dikisahkan.

Selain dikenal dengan sebutan Gajah Mada, tokoh ini juga dikenal dengan sebutan Mpu Mada, Jaya Mada, Jaka Mada, Dwirada Mada dan lain sebagainya. Ada juga yang menyatakan Gajah Mada sebenarnya bukan nama sebenarnya, melainkan nama julukan meskipun begitu nama Kecil Gajah Mada hingga kini masih misteri.

Prasasti Gajah Mada dibuat sendiri oleh Gajah Mada didalamnya memuat Tahun 1214 Saka atau 1351 Masehi ketika Gajah Mada menjabat sebagai Mahapatih Amangkubhumi Majapahit. Prasasti tersebut berisi tentang “Parwira Chatiya” atau peringatan penghormatan pada Tribhuawana Tunggadewi dan leluhur Majapahit (Keturunan Prabu Kertanegara-Singsari) yang telah dicandikan.

Menurut tafsir para ahli pada Prasasti Singasari, Gajah Mada merupakan anak Gajah Pagon yang merupakan cucu dari Raja Kertanegara Singasari, dengan demikian antara Gajah Mada dan Tribhuawana Tunggadewi (Ratu Mjapahit) masih sama-sama keturunan Prabu Kertanegara. Karena Tribhuawana Tunggadewi merupakan anak Raden Wijaya dimana Istri Raden Wijaya (Gayatri) merupakan anak dari Prabu Kertanegara-Singsari, sementara Gajah Pegon ayah dari Gajah Mada adalah suami dari cucu Prabu Kertanegara yang lahir dari selir. ( Sri Winata Ahmad, hlm 194)

Gajah Mada Pada Masa Pemerintahan Jaya Negara

Jaya Negara adalah Raja kedua Majapahit yang naik tahta pada Tahun 1309 hingga1328 Masehi. Ketika Jaya Negara naik tahta Gajah Mada baru berusia 10 Tahun. Sebagai anak dari Gajah Pegon yang mempunyai pertalian darah dengan para pembesar Majapahit, tentu Gajah Mada tidak terlampau kesulitan untuk sekedar diterima menjadi Prajurit Bhayangkara yang tugasnya mengamankan para keluarga Raja.

Pada kira-kira umur 15 hingga 16 Tahun Gajah Mada mulai terjun sebagai Prajurit Bhayangkara, jabatan yang diembannya kala itu sebagai bekel atau kepala regu Prajurit membawahi puluhan Prajurit jaga lainnya.

Ketika usia Gajah Mada mencapai 20 Tahun, tepatnya pada Tahun 1319, meletus upaya makar yang dilakukan Ra Kuti. Pemberontakan Ra Kuti berhasil menguasai Istana Kerajan Majapahit, meskipun begitu sebagai bekel Bhayangkara rupanya Gajah Mada berhasil menyelamatkan Jaya Negara dari upaya pembunuhan dan berhasil pula meyembunyikannya disuatu tempat yang aman.

Masih pada Tahun yang sama, Gajah Mada berhasil menghimpun kekuatan para Prajurit Majapahit yang masih setia untuk menumpas Ra Kuti dan komplotannya, sehingga dikemudian hari Gajah Mada berhasil membunuh Ra Kuti dan memulangkan serta menaikan kembali Jaya Negara sebagai Raja Majapahit yang sah.

Kiprah Gajah Mada dalam menyelamatkan Jaya Negara dari upaya Kudeta yang dilakukan Ra Kuti membuatnya seketika menjadi Pahlawan, maka tidaklah berlebihan jika Jaya Negara menganugerahinya Jabatan Patih di Kahuripan disusul dengan Jabatan Patih di Kediri dua tahun kemudian.

Pada Tahun 1328 Jaya Negara dibunuh oleh Ra Tanca, salah seorang Tabib Istana Majapahit yang sebetulnya mendukung pemberontakan Ra Kuti, lagi-lagi dalam peristiwa ini Gajah Mada kemudian tampil sebagai pahlawan, sebab ia mampu membunuh Ra Tanca.

Gajah Mada Pada Masa Pemerintahan Tribhuwana Tunggadewi

Selepas mangkatnya Jaya Negara (1328), serta didorong oleh tidak adanya putra Mahkota, maka yang menjadi penguasa Majapahit selanjutnya adalah Dyah Gitaraja adik perempuan Jaya Negara yang lahir dari permasiuri Raden Wiajaya.

Dyah Gitaraja didapuk sebagai penguasa Majapahit selanjutnya, menurut Prasati Singasari dan Piagam Brumbung (1351) Dyah Gitaraja diangkat menjadi Ratu Majapahit dengan gelar Abhiseka Sri Tribhuwana Tunggadewi Maharajasa Jayawsinhuwardhani.

Pada masa pemerintahan Tribhuwana Tunggadewi, Gajah Mada masih menjabat sebagai Patih di Kediri, akan tetapi karena pada zaman Ratu Majapahait pertama tersebut Majapahit sedang diguncang pemberontakan Sedang dan Keta (1329) sementara di sisi lain Mahapatih Majapahit yang kala itu dijabat oleh Aria Tadah sedang sakit keras maka Gajah Mada dipanggil untuk menangani penumpasan pemberontakan. Penumpasan Pemberontakan Sedang dan Keta dapat ditumpas Gajah Mada meskipun dalam penumpasan tersebut Gajah Mada bukan satu-satunya orang yang berjasa.

Kiprah Gajah Mada dalam menanggulangi pemberontakan Sedang dan Keta rupanya menjadi sebab bagi Gajah Mada untuk meniti karir yang lebih tinggi, sikapnya yang disenangi oleh Mahapatih Aria Tadah serta Ratu Tribhuwana Tunggadewi dikemudian hari menyebabkan ia dipercayai untuk mengemban jabatan sebagai Mahapatih Amangkubhumi pengganti Aria Tadah. Gajah Mada diangkat menjadi Mahapatih pada tahun 1336 Masehi.

Gajah Mada Pada Masa Pemerintahan Hayam Wuruk

Hayam Wuruk adalah penguasa ketiga Majapahit, ia menggantikan kedudukan ibunya (Tribhuwana Tunggadewi) sebagai penguasa Majapahit pada Tahun 1350 hingga 1389 Masehi. Hayam Wuruk dinobatkan menjadi Raja Majapahit pada usia sangat muda, sehingga pada awal pemerintahannya kendali pemerintahan benar-benar di genggam kuat oleh Gajah Mada.

Cita-cita Gajah Mada sebagaimana yang diucapkannya dalam sumpah Palapa ketika dilantik menjadi Mahapatih Amangkubhumi Majapahit di zaman Tribhuwana Tunggadewi diwujudkan pada masa ini. Gajah Mada membangun ekonomi negara dengan menggalakan pertanian, dan perdagangan disamping itu ia juga membangun armada laut untuk kepentingan ekspor dan impor, ia juga menggunakan armada laut Majapahit yang tangguh sebagai alat untuk menaklukan kerajaan-kerajaan di Nusantara yang sulit diajak kerjasama. Sementara bagi negeri-negeri yang mudah diajak kerajasama Gajah Mada menyodorkan tali persaudaraan.

Kematian Gajah Mada

Dijauhkannya Gajah Mada dari Ibu Kota Kerajaan Majapahit menurut beberapa sejarawan dikarenakan Gajah Mada terlibat dalam perang Bubat yang menewaskan Raja Sunda beserta rombongan yang berniat mengawinkan Cita Rasemi atau Dyah Pitaloka dengan Hayam Wuruk.
Selepas Gajah Mada bertempat tinggal di Madakaripura, Hayam Wuruk membentuk Dewan Pertimbangan Agung atau Bhatara Shapta Prabu untuk melaksanakan tugas-tugas Gajah Mada, anggotanya terdiri dari para keluarga Raja yang kompeten dalam pemerintahan, para keluarga Raja tersebut kemudian memilih Empu Tandi, Empu Nala Patih Dami, Empu Singa dan beberapa orang lain untuk menjalankan roda pemerintahan yang semula hanya di kepalai Gajah Mada.

Negara kertagama menyebutkan bahwa, pada Tahun 1285 Saka, Hayam Wuruk ke Candi Makam Simping. Selepas Pulang Hayam Wuruk mendapat kabar Gajah Mada sakit keras di Madakaripura, sehingga akhirnya pada 1286 Saka Gajah Mada kemudian wafat.

Selain dikabarkan dalam Negara Kertagama, riwayat kematian Gajah Mada juga di ceritakan dalam Naskah Kidung Sunda, hanya saja para Sejarawan umumnya tidak begitu mempercayai informasi yang terkandung dalan Kidung Sunda.

Menurut Kidung Sunda, Gajah Mada tidak meninggal karena sakit, akan tetapi karena moksa. Dalam Kidung Sunda dikisahkan bahwa selepas Gajah Mada membunuh rombongan Kerajaan Sunda termasuk Raja dan Putrinya, Paman Gajah Mada yang disebut sebagai Raja Kahuripan dan Raja Daha berniat membunuh Gajah Mada, mengetahui kabar tersebut akhirnya Gajah Mada memilih untuk “moksa”.

Sesudah Gajah Mada meninggal, Hayam Wuruk dikisahkan berduka, karena selain sulit menemukan sosok seperti Mahapatih Gajah Mada juga ia merasa khawatir dengan kondisi Kerajaan selepas ditinggal Gajah Mada. Meskipun demikian atas Rekomendasi dari Saptha Pabu akhirnya Hayam Wuruk mengangkat Mahapatih Baru, jabatan tersebut jatuh pada Gajah Enggon.

Penulis: Bung Fei
Editor : Sejarah Cirebon

Belum ada Komentar untuk "Biografi Gajah Mada, Lahir hingga Wafat"

Posting Komentar

Berkomentarlah yang terarah dan jelas agar dapat dipahami dan dibalas admin.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel