Raja-Raja Majapahit dan Silsilahnya

Raja-raja Majapahit dan silsilahnya ini disusun berdasarkan sumber Kakawin Nāgarakṛtāgama dan Sĕrat Pararaton yang juga dipadukan dengan sumber prasasti dan sumber sejarah pendukung lainnya. 

DYAH WIJAYA (1294 – 1309)

Menurut Nāgarakṛtāgama (1365), Kerajaan Majapahit didirikan tahun 1294 oleh Dyah Wijaya yang bergelar Kṛtarājasa Jayawardhana. Dyah Wijaya adalah putra Dyah Lĕmbu Tal, sedangkan Dyah Lĕmbu Tal adalah putra Bhaṭāra Narasinghamūrti. Dyah Wijaya menikahi empat putri Śrī Kṛtanāgara (raja Singhasāri) yang bernama Śrī Parameśwarī Tribhuwana, Dyah Duhitā Mahādewī, Prajñāpāramitā Jayendradewī, dan Dyah Gāyatrī Rājapatnī. Tahun kematian Dyah Wijaya menurut naskah ini adalah 1309.

Menurut Pararaton (1613), Kerajaan Majapahit didirikan tahun 1294 oleh Raden Wijaya yang kadang disebut Arṣawijaya, bergelar Śrī Kṛtarājasa. Raden Wijaya disebut sebagai putra Mahiṣa Campaka alias Bhaṭāra Narasinga. Ia menikah dengan dua orang putri Kṛtanāgara (raja Tumapĕl) yang tidak disebut namanya, serta seorang putri Malayu bernama Dara Pĕṭak. Tahun kematian Raden Wijaya menurut naskah ini adalah 1335 (angka ini tentu saja bertabrakan dengan masa pemerintahan Jayanāgara dan Tribhuwanottunggadewī).

Dalam prasasti Kudadu (1294) disebutkan nama asli Kṛtarājasa Jayawardhana adalah Narārya Sanggrāmawijaya. Ia disebut sebagai cucu Narasinghamūrti dan menantu Śrī Kṛtanāgara.

Prasasti Sukamṛta (1296) menyebut nama asli Kṛtarājasa Jayawardhana adalah Rakryan Mantri Sanggrāmawijaya. Prasasti ini juga menyebut nama keempat istrinya, yaitu Śrī Parameśwarī Dyah Dewī Tribhuwaneśwarī, Śrī Mahādewī Dyah Dewī Narendraduhitā, Śrī Jayendradewī Dyah Dewī Prajñāpāramitā, dan Śrī Rājendradewī Dyah Dewī Gāyatrī. Juga disebutkan perihal anaknya yang telah menjadi raja bawahan di Daha bernama Śrī Jayanāgara, lahir dari Śrī Parameśwarī.

Prasasti Balawi (1305) menyebut nama Mahārāja Narārya Sanggrāmawijaya bergelar Śrī Kṛtarājasa Jayawardhanānanta-wikramottungga. Prasasti ini juga menyebut nama keempat istrinya seperti di atas, dan juga nama Śrī Jayanāgara yang lahir dari Śrī Parameśwarī. Juga disebutkan nama anak perempuan raja, tetapi lempengan bagian ini hilang.

Dyah Wijaya juga disebutkan dalam catatan Cina berjudul naskah Yuan-shih, dengan nama Tu-han-pi-ja-ya. Ia dikisahkan bekerja sama dengan pasukan Yuan yang datang untuk menghukum raja Jawa tahun 1293, tapi kemudian pasukan Yuan diusir olehnya setelah mengalahkan Ha-ji-ka-tang raja Ka-lang. 

SRI JAYANAGARA (1309 – 1328)

Menurut Nāgarakṛtāgama (1365), Dyah Wijaya digantikan putranya yang lahir dari Indreśwarī, bernama Śrī Jayanāgara. Sebelum menjadi raja Majapahit, ia telah diangkat sebagai raja muda di Kaḍiri sejak tahun 1295. Śrī Jayanāgara dikisahkan meninggal pada tahun 1328.

Menurut Pararaton (1613), Raden Wijaya digantikan putranya yang lahir dari Dara Pĕṭak, bernama Raden Kalagĕmĕt yang bergelar Bhaṭāra Śrī Jayanāgara. Ia dikisahkan mati dibunuh tabib istana bernama Tañca pada tahun 1328.

Prasasti Sukamṛta (1296) dan prasasti Balawi (1305) menyebut Śrī Jayanāgara adalah putra Śrī Parameśwarī Dyah Dewī Tribhuwaneśwari. Ia menjabat sebagai raja muda di Daha pada era pemerintahan ayahnya. Adapun prasasti Tuhañaru (1323) dikeluarkan saat ia sudah menjadi raja Majapahit dengan gelar Śrī Sundarapāṇḍya Dewādhīśwara.

TRIBHUWANOTTUNGGADEWI (1328 – 1350)

Menurut Nāgarakṛtāgama (1365), Śrī Jayanāgara digantikan adiknya yang lahir dari Śrī Rājapatnī, bergelar Śrī Tribhuwana Wijayottunggadewī. Raja wanita ini menikah dengan raja bawahan di Singhasāri yang bernama Śrī Kṛtawardhaneśwara. Dari perkawinan itu lahir Śrī  Hayam Wuruk yang menjadi putra mahkota dan Śrī  Wardhanaduhiteśwarī yang menjadi raja bawahan di Pajang. Setelah Śrī Rājapatnī meninggal tahun 1350, Śrī Tribhuwana Wijayottungadewī menyerahkan takhta Majapahit kepada Śrī  Hayam Wuruk, sedangkan dirinya mengisi jabatan sebagai raja bawahan di Jiwana.

Pararaton (1613) menyebut Śrī Jayanāgara setelah meninggal digantikan adiknya lain ibu, bernama Bhreng Kahuripan. Raja wanita ini menikah dengan Raden Cakradhara yang menjadi Bhreng Tumapĕl, bergelar Śrī Kṛtawardhana. Dari perkawinan itu lahir Śrī Hayam Wuruk dan dua orang putri. Putri yang pertama menikah dengan Raden Larang alias Bhre Matahun (menurut Nāgarakṛtāgama, raja Matahun bernama Śrī Rājasawardhana memiliki istri bernama Rājasaduhitendudewī raja Lasĕm yang merupakan sepupu Hayam Wuruk, bukan adik kandungnya). Adapun putri Bhreng Kahuripan yang bungsu menjadi Bhre Pajang, yang menikah dengan Raden Sumana sebagai Bhre Paguhan. Pararaton tidak menyebut kapan Bhre Kahuripan turun takhta dan digantikan Hayam Wuruk. Adapun kematian Bhre Kahuripan ditulis terjadi sesudah tahun 1371, sedangkan suaminya, yaitu Bhre Tumapĕl meninggal tahun 1386.

Prasasti Berumbung (1329) menyebutkan gelar lengkap Śrī Tribhuwanottunggadewī Jayawiṣṇuwardhanī yang juga bernama Śrī Mahālakṣmawatī Kanakarā Gītārjā.

Prasasti Singhasāri (1351) menyebutkan nama Śrī Tribhuwanotunggadewī Mahārājasa Jayawiṣṇuwardhanī sebagai pemimpin Bhaṭāra Saptaprabhu, yaitu tujuh raja bawahan di era pemerintahan Śrī Hayam Wuruk.

Prasasti Trawulan (1358) yang dikeluarkan Śrī Hayam Wuruk menyebut nama Bhaṭāra Śrī Tribhuwanottungga Rājadewī Jayawiṣṇuwardhanī sebagai raja bawahan di Kahuripan, yang memiliki nama asli Dyah Śrī Gītārjā. Adapun suaminya bernama Bhaṭāra Śrī Kṛtawardhana.

HAYAM WURUK (1350 – 1389) 

Menurut Nāgarakṛtāgama (1365), Tribhuwana Wijayottunggadewī menyerahkan takhta Majapahit kepada putranya yang bernama Śrī Hayam Wuruk, bergelar Śrī Rājasanāgara. Istri Hayam Wuruk bernama Śrī Sudewī, putri raja bawahan di Kaḍiri yaitu Rājadewī Mahārājasa (adik kandung ibunya). Adapun suami Rājadewī bernama Śrī  Wijayarājasa, menjabat sebagai raja bawahan di Wĕngkĕr. Dari perkawinan Śrī  Hayam Wuruk dan Śrī Sudewī lahir seorang putri bernama Kusumawardhanī yang menjabat sebagai raja di Kabalan. 

Pararaton (1613) menyebut Śrī  Hayam Wuruk memiliki nama lain Raden Tĕtĕp, dan setelah menjadi raja disebut Śrī Rājasanāgara, atau Bhra Hyang Wĕkasing Sukha, atau disebut Bhra Prabhu saja. Setelah gagal menikah dengan putri Suṇḍa, Hayam Wuruk menikah dengan sepupunya, yaitu Pādukasorī anak Bhre Wĕngkĕr dan Bhre Daha. Dari perkawinan itu lahir Bhre Lasĕm Sang Ahayu. Hayam Wuruk juga memiliki anak laki-laki dari selir, bergelar Bhre Wīrabhūmi. Menurut naskah ini, Hayam Wuruk meninggal pada tahun 1389.

Dalam prasasti Trawulan (1358) juga disebutkan nama Dyah Śrī Hayam Wuruk yang telah menjadi raja bergelar Śrī Rājasanāgara.

Berita Cina berjudul naskah Ming-shih menyebut bahwa di Jawa pada tahun 1377 ada dua orang raja bernama Wu-lao-pa-wu di barat dan Wu-lao-wang-cieh di timur yang sama-sama mengirim duta ke Tiongkok. Wu-lao-pa-wu adalah ejaan Cina untuk Bhaṭāra Prabhu (Hayam Wuruk), sedangkan Wu-lao-wang-cieh adalah ejaan Cina untuk Bhaṭāra Wĕngkĕr. Rupanya setelah kematian Patih Gajah Mada (1364) dan Tribhuwanottunggadewī (1371) terjadi perpecahan di Majapahit, di mana mertua Hayam Wuruk, yaitu Bhre Wĕngkĕr mendirikan istana timur. Dengan demikian dapat dipahami mengapa dalam Pararaton, Bhre Wĕngkĕr Wijayarājasa juga bergelar Bhreng Parameśwara ring Pamotan.

WIKRAMAWARDHANA dan KUSUMAWARDHANI (1389 – 1429)

Pararaton (1613) menyebut Hayam Wuruk wafat tahun 1389 dan digantikan menantunya, yaitu Bhra Hyang Wiśeṣa, suami dari Bhre Lasĕm Sang Ahayu. Bhra Hyang Wiśeṣa memiliki nama asli Raden Gagak Sali, yang juga bergelar Aji Wikrama. Ia adalah putra Bhre Pajang (adik perempuan Hayam Wuruk) dengan Raden Sumana alias Bhreng Paguhan.

Nāgarakṛtāgama (1365) menyebutkan bahwa adik Hayam Wuruk yang bernama Śrī  Wardhanaduhiteśwarī yang menjadi raja Pajang menikah dengan Śrī  Singhawardhana yang menjadi raja Paguhan. Dari perkawinan itu lahir tiga orang anak, yaitu Śrī Nāgarawardhanī yang menjadi raja Wīrabhūmi, Śrī  Wikramawardhana yang menjadi raja Mataram, dan Śrī Surawardhanī yang menjadi raja Pawwanawwan. Saat Nāgarakṛtāgama ditulis, Wikramawardhana telah dijodohkan dengan Kusumawardhanī putri mahkota Hayam Wuruk.

Nama Bhra Hyang Wiśeṣa dalam Pararaton juga ditemukan dalam prasasti Patapan (1385) dengan sebutan Bhaṭāra Hyang Wiśeṣa. Dalam prasasti itu disebutkan bahwa Bhaṭāra Hyang Wiśeṣa meneguhkan anugerah Bhaṭāra Sang Mokta ring Paring Malaya. Siapakah yang dimaksud dengan “Baginda yang wafat di Paring Malaya”tersebut? Jika ia adalah Hayam Wuruk, maka berita dalam Pararaton yang menyebutkan ia meninggal tahun 1389 tentunya kurang tepat.

Pararaton mengisahkan Bhra Hyang Wiśeṣa menjadi bagawan di tahun 1400. Ia digantikan oleh Bhaṭarestrī (raja wanita). Kemudian disusul kalimat Bhre Lasĕm meninggal di Kawidyadaren. Dari berita ini dapat disimpulkan bahwa, raja wanita yang menggantikan Bhra Hyang Wiśeṣa adalah Bhre Lasĕm Sang Ahayu yang tidak lain istrinya sendiri (dalam Nāgarakṛtāgama disebut Kusumawardhanī putri Hayam Wuruk).

Pararaton juga menyebutkan Hayam Wuruk memiliki anak laki-laki bergelar Bhre Wīrabhūmi yang menikah dengan Bhre Lasĕm Sang Alĕmu (saudara perempuan Bhra Hyang Wiśeṣa). Sejak kecil Bhre Wīrabhūmi diadopsi oleh Bhre Wĕngkĕr dan Bhre Daha.

Jika berita dalam Pararaton dipadukan dengan Nāgarakṛtāgama, maka dapat digambarkan sebagai berikut. Saat Nāgarakṛtāgama ditulis tahun 1365, Kusumawardhanī (putri Hayam Wuruk) menjabat sebagai Bhre Kabalan. Adapun yang menjadi Bhre Lasĕm adalah Indudewī (sepupu Hayam Wuruk, putri Bhre Wĕngkĕr). Kelak setelah Rājadewī (istri Bhre Wĕngkĕr) wafat, Indudewī menggantikan ibunya sebagai Bhre Daha. Putra Hayam Wuruk yang lahir dari selir pun diadopsi oleh Bhre Daha (Indudewī) dan dinikahkan dengan Nāgarawardhanī (kakak Wikramawardhana) yang saat itu menjadi Bhre Wīrabhūmi. Nāgarawardhanī kemudian menjadi Bhre Lasĕm menggantikan Indudewī, sedangkan suaminya menjadi Bhre Wīrabhūmi menggantikan dirinya. Dalam Pararaton, Nāgarawardhanī disebut dengan nama Bhre Lasĕm Sang Alĕmu.

Bhre Wĕngkĕr meninggal tahun 1388 digantikan oleh Bhre Wīrabhūmi sebagai raja istana timur. Adapun Hayam Wuruk meninggal tahun 1389 digantikan Wikramawardhana (Bhra Hyang Wiśeṣa) sebagai raja istana barat. Pada tahun 1400 Bhra Hyang Wiśeṣa menjadi bagawan (pendeta) dan menyerahkan takhta kepada istrinya yaitu Kusumawardhanī.

Nāgarawardhanī (Bhre Lasĕm Sang Alĕmu) meninggal. Bhra Hyang Wiśeṣa kembali memimpin istana barat, sedangkan istrinya menjadi Bhre Lasĕm Sang Ahayu. Hal ini membuat Bhre Wīrabhūmi marah karena ia juga mendudukkan putrinya sebagai Bhre Lasĕm. Maka, terjadilah Perang Parĕgrĕg mulai tahun 1401. Pada tahun 1406 Bhre Wīrabhūmi tewas dipenggal mantri angabaya istana barat yang bernama Raden Gajah.

Berita Cina berjudul naskah Ming-shih juga mengisahkan perpecahan di Tanah Jawa. Pada tahun 1403 istana barat yang dipimpin Tu-ma-pan dan istana timur yang dipimpin Pu-ling-ta-ha sama-sama mengirimkan duta ke Tiongkok. Tu-ma-pan adalah ejaan Cina untuk Bhre Tumapĕl (putra Bhra Hyang Wiśeṣa). Rupanya kala itu Bhre Tumapĕl yang lebih aktif memimpin pemerintahan istana barat mewakili ayahnya yang telah menjadi pendeta. Adapun Pu-ling-ta-ha yang memimpin istana timur adalah ejaan Cina untuk Bhre Daha (alias Indudewī, ibu angkat Bhre Wīrabhūmi). Meskipun ia seorang wanita, namun sepertinya lebih berkuasa daripada anak angkatnya.

Pararaton mengisahkan, setelah Bhre Wīrabhūmi tewas, Bhre Daha diboyong Bhra Hyang Wiśeṣa ke istana barat. Pada tahun 1429 Bhra Prabhustrī (Kusumawardhanī) meninggal dunia. Adapun kematian suaminya, yaitu Bhra Hyang Wiśeṣa diceritakan sebelum dirinya.

SUHITA dan RATNAPANGKAJA (1429 – 1447)

Pararaton (1613) mengisahkan Bhra Hyang Wiśeṣa memiliki seorang anak yang lahir dari Bhre Lasĕm Sang Ahayu, bernama Bhra Hyang Wĕkasing Sukha yang meninggal tahun 1399. Bhra Hyang Wiśeṣa juga memiliki tiga anak lain yang tidak disebut nama ibunya, yaitu Bhre Tumapĕl, Dewī Suhitā, dan Śrī Kṛtawijaya yang juga bergelar Bhre Tumapĕl. Selain itu, Bhra Hyang Wiśeṣa juga menikahi Bhre Mataram, anak perempuan Bhre Wīrabhūmi.

Ada pendapat bahwa Dewī Suhitā adalah anak Bhra Hyang Wiśeṣa yang lahir dari Bhre Mataram. Alasannya ialah Raden Gajah yang dulu memenggal Bhre Wīrabhūmi ganti dihukum mati pada tahun 1433. Yang unik adalah Pararaton mengisahkan Bhre Daha menjadi raja Majapahit pada tahun 1437, kemudian pada tahun 1447 dikisahkan Bhra Prabhustrī meninggal dunia. Pada bab sebelumnya ditulis bahwa Bhra Prabhustrī adalah julukan Dewī Suhitā. Itu artinya, Bhre Daha yang naik takhta tahun 1437 adalah gelar lain Dewī Suhitā. 

Bhre Daha (Indudewī) yang diboyong Bhra Hyang Wiśeṣa setelah Perang Parĕgrĕg dikisahkan meninggal pada tahun 1416. Ada kemungkinan jabatannya diwarisi oleh Dewī Suhitā. Yang menjadi pertanyaan, siapakah yang menjadi raja Majapahit setelah Bhra Hyang Wiśeṣa (Wikramawardhana) dan Bhra Prabhustrī (Kusumawardhanī) wafat pada tahun 1429?

Putra sulung Bhra Hyang Wiśeṣa, yaitu Bhra Hyang Wĕkasing Sukha sudah meninggal lebih dulu pada tahun 1399. Kemudian putra kedua, yaitu Bhre Tumapĕl yang dicatat dalam berita Cina sebagai Tu-ma-pan juga telah meninggal pada 1427. Adapun anak ketiga, yaitu Dewī Suhitā baru menjadi raja (Bhra Prabhustrī) pada tahun 1437.

Kemungkinan besar yang menjadi raja Majapahit antara tahun 1429 – 1437 adalah suami Dewī Suhitā yang bernama Aji Ratnapangkaja, bergelar Bhra Hyang Parameśwara. Pararaton mengisahkan Aji Ratnapangkaja adalah keponakan Bhra Hyang Wiśeṣa, yaitu putra dari adiknya yang bernama Bhre Kahuripan yang menikah dengan Raden Sumirat alias Bhre Paṇḍansalas.

Bhra Hyang Wiśeṣa dalam Nāgarakṛtāgama sama dengan Śrī  Wikramawardhana yang memiliki adik bernama Śrī Surawardhanī. Saat Nāgarakṛtāgama ditulis, jabatan Surawardhanī adalah raja bawahan di Pawwanawwan. Sedangkan penulis Pararaton mengingat jabatan terakhirnya adalah Bhre Kahuripan.

Aji Ratnapangkaja juga bergelar Bhre Kahuripan. Mungkin ia menerima jabatan ini setelah ibunya (Surawardhanī) meninggal. Tahun kematian Aji Ratnapangkaja alias Bhra Hyang Parameśwara menurut Pararaton adalah 1446, sedangkan istrinya, yaitu Prabhustrī alias Dewī Suhitā meninggal tahun 1447.

Sekali lagi, kisah Aji Ratnapangkaja menjadi raja Majapahit baru sebatas dugaan dan memerlukan penelitian lebih lanjut.

SRI KERTAWIJAYA (1447 -1451) 

Pararaton (1613) mengisahkan Dewī Suhitā tidak memiliki anak, sehingga ia digantikan adik bungsunya sebagai raja Majapahit, yang bernama Bhre Tumapĕl. Adapun yang dimaksud dengan Bhre Tumapĕl adalah Śrī Kṛtawijaya yang disebut sebagai putra bungsu Bhra Hyang Wiśeṣa. Ia mewarisi jabatan sebagai Bhre Tumapĕl setelah kakaknya yang nomor dua meninggal pada tahun 1427. Menurut Pararaton, istri Śrī Kṛtawijaya adalah Bhre Daha, adik bungsu Aji Ratnapangkaja. Kematian Śrī Kṛtawijaya dicatat terjadi pada tahun 1451.

Nama raja Dyah Kṛtawijaya juga ditemukan dalam prasasti Waringinpitu (1448) dengan gelar Wijayaparakramawardhana. Adapun istrinya bernama Dyah Jayeśwarī menjabat sebagai Bhaṭṭāra ring Daha, bergelar Jayawardhanī. Prasasti ini sesuai dengan berita dalam Pararaton.

SANG SINAGARA (1451 – 1453)

Menurut Pararaton (1613), Śrī Kṛtawijaya digantikan oleh Śrī Rājasawardhana, yang ketika meninggal di tahun 1453 disebut dengan nama Sang Sinagara. Pararaton tidak menyebutkan asal-usul raja ini.

Nama Rājasawardhana dijumpai dalam prasasti Waringinpitu (1448) yang dikeluarkan oleh Śrī Kṛtawijaya. Dalam prasasti itu, namanya disebut sebagai laki-laki pertama sesudah raja. Rājasawardhana ketika itu menjabat sebagai Bhaṭṭāra ring Kahuripan yang memiliki nama asli Dyah Wijayakumāra. Keterangan ini sesuai dengan berita dalam Pararaton, bahwa Rājasawardhana awalnya adalah Bhre Pamotan yang kemudian menjadi raja di Kĕling dan Kahuripan.

Pada tahun 1513 seorang apoteker Portugis bernama Tomé Pires mengunjungi Jawa dan mencatat kala itu raja bernama Batara Vojyaya yang merupakan cucu Batara Sinagara. Menurut keterangan yang diperoleh Tomé Pires, konon Batara Sinagara menderita sakit jiwa. Disebutkan bahwa Batara Sinagara adalah anak Batara Matara. Mungkin itu adalah ejaan Portugis untuk Bhaṭāra ing Mataram.

Ketika Nāgarakṛtāgama ditulis, yang menjabat sebagai raja di Mataram adalah Wikramawardhana. Jika dipadukan dengan catatan Tomé Pires, maka Rājasawardhana adalah anak Wikramawardhana. Itu berarti, Rājasawardhana adalah adik Śrī Kṛtawijaya. Namun, hal ini bertentangan dengan Pararaton yang menyebut Śrī Kṛtawijaya adalah anak bungsu Wikramawardhana (Bhra Hyang Wiśeṣa), sehingga tidak mungkin memiliki adik.

Maka, kemungkinan kedua Tomé Pires salah mendapatkan info, yaitu Batara Sinagara bukan anak Batara Matara, tetapi cucunya. Itu berarti Rājasawardhana bukan adik Śrī Kṛtawijaya, melainkan putranya. Dengan demikian dapat dipahami mengapa nama Rājasawardhana di tahun 1448 disebut sebagai laki-laki nomor dua sesudah raja, karena ia adalah putra mahkota yang kelak menggantikan Śrī Kṛtawijaya memimpin Majapahit.

Kemungkinan ketiga, info yang diperoleh Tomé Pires sudah benar, yaitu Sang Sinagara adalah anak Bhre Mataram. Maksudnya ialah, Śrī Kṛtawijaya sebelum menjadi Bhre Tumapĕl lebih dulu pernah menjadi Bhre Mataram menggantikan ibunya.

TELUNG TAHUN TAN HANA PRABHU

Pararaton (1613) menyebutkan sesudah Sang Sinagara meninggal di tahun 1453, Kerajaan Majapahit mengalami kekosongan takhta selama tiga tahun.

BHRA HYANG PURWAWISESA (1456 – 1466)

Menurut Pararaton (1613), pada tahun 1456 Bhre Wĕngkĕr putra Bhre Tumapĕl naik takhta setelah tiga tahun kosong. Raja baru ini bergelar Bhra Hyang Pūrwawiśeṣa yang akhirnya meninggal di tahun 1466.

Jika meninjau prasasti Waringinpitu (1448), saat itu yang menjabat sebagai Bhaṭṭāra ring Wĕngkĕr adalah Girīśawardhana yang memiliki nama asli Dyah Sūryawikrama. Namanya disebut sebagai laki-laki nomor tiga sesudah Śrī Kṛtawijaya dan Rājasawardhana. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sesudah Rājasawardhana meninggal, Girīśawardhana naik takhta untuk mengisi kekosongan yang terjadi selama tiga tahun, di mana ia bergelar Bhra Hyang Pūrwawiśeṣa.

Lalu siapakah Bhre Tumapĕl ayah Bhra Hyang Pūrwawiśeṣa? Menurut Pararaton, ada dua anak Wikramawardhana yang menjadi raja bawahan di Tumapĕl, yaitu Bhre Tumapĕl kakak Suhitā, dan Bhre Tumapĕl Śrī Kṛtawijaya adik Suhitā. Karena di atas disimpulkan bahwa Rājasawardhana adalah anak Śrī Kṛtawijaya, maka kiranya Bhra Hyang Pūrwawiśeṣa juga dapat disimpulkan sebagai anak Bhre Tumapĕl Śrī keṛtawijaya

SURAPRABHAWA (1466 – 1478)

Pararaton (1613) menyebutkan setelah Bhra Hyang Pūrwawiśeṣa meninggal, yang menjadi raja adalah Bhre Paṇḍansalas. Setelah dua tahun ia bertakhta, terjadi peristiwa anak-anak Sang Sinagara pergi meninggalkan istana, yaitu Bhre Kahuripan, Bhre Mataram, Bhre Pamotan, dan Bhre Kṛtabhumi. Bhre Paṇḍansalas terhitung sebagai paman mereka yang meninggal di istana pada tahun 1478.

Jika Bhre Paṇḍansalas adalah paman anak-anak Sang Sinagara, itu artinya ia adalah adik Rājasawardhana. Dalam prasasti Waringinpitu (1448) dapat dilihat, nama laki-laki yang disebutkan sesudah Śrī Kṛtawijaya, Rājasawardhana, dan Girīśawardhana adalah Singhawikramawardhana yang memiliki nama asli Suraprabhāwa.

Prasasti Trawulan III yang dikeluarkan Śrī Kṛtawijaya juga menyebutkan nama Dyah Suraprabhāwa Śrī  Singhawikramawardhana yang saat itu menjabat sebagai Bhaṭāre Tumapĕl. Disebutkan bahwa ia adalah anak bungsu raja yang telah menikah dengan Bhaṭāre Singhapura, yang memiliki nama asli Dyah Śrīpurā alias Śrī Rājasawardhanadewī.

Pararaton menyebutkan istri Bhre Paṇḍansalas adalah Bhre Singapura. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Bhre Paṇḍansalas adik Sang Sinagara adalah sama dengan Bhaṭāre Tumapĕl Dyah Suraprabhāwa alias Singhawikramawardhana.

Setelah menjadi raja Majapahit, Dyah Suraprabhāwa memakai gelar Śrī  Giripatiprasūtabhūpati Ketubhūta. Nama ini tercatat dalam prasasti Pamintihan tahun 1473.

WIJAYAKUSUMA dan RANAWIJAYA 

Pararaton (1613) menyebutkan bahwa Bhre Paṇḍansalas adalah raja terakhir Majapahit yang meninggal di istana pada tahun 1478, dengan sengkalan berbunyi “sunya nora yuganing wong”. Tidak dijelaskan bagaimana nasib Majapahit selanjutnya. 

Menurut naskah Sĕrat Kaṇḍa yang berasal dari era Jawa Baru, dikisahkan bahwa Kerajaan Majapahit berakhir di tahun 1478 dengan sengkalan “sirna ilang kĕrtaning bumi”. Dalam naskah itu disebutkan raja terakhir Majapahit yang bernama Prabu Brawijaya dikalahkan oleh anaknya sendiri, bernama Raden Patah adipati Dĕmak.

Akan tetapi, menurut prasasti Pĕṭak (1486) bukan Raden Patah yang mengalahkan Majapahit. Prasasti tersebut dikeluarkan oleh Bhaṭāra Prabhu Girīndrawardhana yang memiliki nama asli Dyah Raṇawijaya, di mana ia menetapkan anugerah dari raja sebelumnya kepada Śrī Brahmārāja Ganggādhara yang telah berjasa membantu Sang Munggwing Jinggan sehingga bisa menang melawan Majapahit. 

Kemudian dalam prasasti Jiyu I disebutkan bahwa Girīndrawardhana Dyah Raṇawijaya adalah raja yang berkuasa atas Wilwatiktapura (nama lain Majapahit) – Janggala – Kaḍiri. 

Nama raja yang memerintah sebelum Dyah Raṇawijaya ditemukan dalam prasasti Jiyu III yaitu Śrī Mahāraja Bhaṭāre Kling Śrī Girīndrawardhana, yang berjuluk Śrī  Singhawardhana, yang memiliki nama asli Dyah Wijayakusuma. Dalam prasasti itu disebutkan bahwa Dyah Wijayakusuma telah mempersiapkan anugerah untuk Śrī Brahmārāja Ganggādhara, namun ia keburu meninggal. Maka, Brahmārāja Ganggādhara pun meminta kepada raja yang baru, yaitu Dyah Raṇawijaya untuk meneguhkan anugerah tersebut.

Pada tahun 1513 Tomé Pires dari Portugal mengunjungi Jawa dan mencatat nama raja saat itu adalah Batara Vojyaya atau Batara Vigiaja yang istananya terletak di Dayo. Mungkin itu adalah ejaan Portugis untuk Bhaṭāra Wijaya yang bertakhta di Daha (Kediri). Dilihat dari kemiripan nama, mungkin Bhaṭāra Wijaya yang dicatat Tomé Pires di tahun 1513 sama dengan Bhaṭāra Prabhu Dyah Raṇawijaya yang mengeluarkan prasasti Pĕṭak dan Jiyu di tahun 1486.

Tomé Pires menyebutkan Batara Vojyaya adalah anak Batara Mataram, sedangkan Batara Mataram adalah anak Batara Sinagara. Mungkin yang dimaksud dengan Batara Mataram adalah Dyah Wijayakusuma yang memerintah sebelum Dyah Raṇawijaya. Jadi, menurut naskah tersebut, Dyah Raṇawijaya adalah cucu Sang Sinagara

Dalam Pararaton disebutkan, Sang Sinagara memiliki empat anak, yaitu Bhre Kahuripan, Bhre Mataram, Bhre Pamotan, dan Bhre Kṛtabhumi. Mereka berempat meninggalkan istana di tahun 1468 saat paman mereka, yaitu Bhre Paṇḍansalas baru berkuasa dua tahun.

MASA AKHIR MAJAPAHIT

Anak-anak Sinagara juga tercatat dalam Kakawin Banawa Sĕkar, yaitu Śrī Naranātha ring Kahuripan, Śrī Parameśwareng Lasĕm, Śrī Nṛpati Pamotan, Śrī Naranātha ring Mataram, dan Śrī Nātheng Kṛtabhumi. Kakawin Banawa Sĕkar ditulis oleh Mpu Tanakung yang mengisahkan upacara Śrāddha untuk orang tua mereka. Jika Sang Sinagara meninggal di tahun 1453, maka upacara tersebut tentunya dilaksanakan di tahun 1465, yaitu pada masa pemerintahan Bhra Hyang Pūrwawiśeṣa (sebelum Bhre Paṇḍansalas).

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa setelah terjadi kekosongan selama tiga tahun, Bhre Wĕngkĕr alias Girīśawardhana naik takhta dengan gelar Bhra Hyang Pūrwawiśeṣa. Saat itu anak-anak Sinagara dapat menerima. Namun, setelah Girīśawardhana wafat, Bhre Paṇḍansalas alias Dyah Suraprabhāwa naik takhta. Anak-anak Sinagara tidak terima dan mereka pergi meninggalkan istana.

Pada tahun 1478 anak-anak Sinagara menyerang Majapahit di bawah pimpinan Sang Munggwing Jinggan yang dibantu Brahmārāja Ganggādhara. Dyah Suraprabhāwa meninggal dalam istana. Anak Sinagara yang bernama Bhre Mataram alias Dyah Wijayakusuma menjadi raja yang bertakhta di Kĕling. Adapun status Majapahit menjadi sederajat dengan Janggala dan Kaḍiri, yaitu berada di bawah Kĕling. Kemudian Dyah Wijayakusuma digantikan Dyah Raṇawijaya sebagai raja Kĕling yang menyebut dirinya berkuasa atas Majapahit – Janggala – Kaḍiri.

Pada tahun 1513 saat Tomé Pires mengunjungi Jawa, ibu kota sudah pindah ke Daha (Kaḍiri). Saat itu Dyah Raṇawijaya hanya sebagai raja simbol belaka, karena yang berkuasa atas negara adalah Guste Pate Amdura (mungkin ini ejaan Portugis untuk Gusti Patih Mahodara). Berita ini diperkuat oleh catatan Duarte Barbosa dari Italia yang menyebutkan pada tahun 1518 yang berkuasa atas Jawa pedalaman bernama Pate Udra.

Tomé Pires (1513) mencatat sering terjadi peperangan antara Guste Pate Amdura melawan persekutuan para pate pesisir utara yang dipimpin Pate Rodim dari Dĕmak. Pate Rodim dan para pate yang beragama Islam itu membentuk aliansi melawan Daha. Meskipun demikian, tidak semua pate yang beragama Islam mendukung Pate Rodim. Ada seorang bernama Pate Vira dari Tuban yang meskipun muslim tetapi mendukung Guste Pate di Daha. Pate Vira ini adalah narasumber Tomé Pires mengenai kondisi politik di Jawa saat itu.

Maka, dapat disimpulkan bahwa ketika terjadi perang saudara antara Dyah Suraprabhāwa melawan anak-anak Sang Sinagara, kekacauan ini dimanfaatkan Dĕmak dan para sekutunya untuk menyatakan merdeka dari Majapahit. Bahkan, Tomé Pires mencatat adipati Dĕmak (sebelum Pate Rodim) berhasil merebut Cirebon dan Palembang.

Ketika Tomé Pires datang ke Jawa (1513), peperangan terjadi antara Daha melawan Dĕmak. Kadang Dĕmak yang menyerang duluan, kadang Daha yang ganti menyerang. Pihak Daha selaku penerus Majapahit ingin merebut kembali deretan kota pelabuhan utara yang dikuasai Dĕmak. Hanya Tuban saja di wilayah pantura yang masih setia kepada Daha, sedangkan Surabaya kadang melawan Daha, kadang menjadi teman.

Para pujangga Jawa era Mataram menyebut raja terakhir Majapahit bernama Prabu Brawijaya, kemungkinan sama dengan Bhaṭāra Wijaya yang dicatat Tomé Pires (1513). Naskah Purwaka Caruban Nagari (1720) menyebut nama lengkap Prabu Brawijaya Kĕrtabumi. Mungkin sang pujangga menulis berdasarkan ingatan turun-temurun, bahwa Prabu Brawijaya juga bernama Bhre Kĕrtabumi.

Gelar Bhre Kĕrtabumi terdapat dalam Pararaton (1613) yaitu nama anak bungsu Sang Sinagara. Jika Bhre Kĕrtabumi dianggap sama dengan Prabu Brawijaya, itu berarti sama juga dengan Bhaṭāra Prabhu Dyah Raṇawijaya yang berkuasa di tahun 1486. Itu artinya, Dyah Raṇawijaya adalah anak bungsu Sang Sinagara. Namun, menurut Tomé Pires, Batara Vojyaya adalah cucu Batara Sinagara, bukan anaknya.

Pada tahun 1522 penulis Italia bernama Antonio Pigaffeta mendapat keterangan dari para pelaut lainnya, bahwa ada kota besar di Jawa bernama Magepaher yang rajanya telah meninggal, bernama Pati Unus. Menurut catatan Tomé Pires di tahun 1513 Pate Unus adalah raja Japara, yang merupakan pate Islam terbesar kedua sesudah Pate Rodim raja Dĕmak. Jika keterangan ini benar, maka Pate Udra penguasa Daha telah dikalahkan oleh Pate Unus sesudah tahun 1518, sebelum tahun 1522.

Sementara itu, naskah lokal Jawa yang berjudul Babad Sĕngkala mencatat Tuban dan Kaḍiri (Daha) baru bisa ditaklukkan oleh Dĕmak pada tahun 1527. Saat itu yang menjadi raja Dĕmak adalah Sultan Trĕnggana putra Raden Patah.

Belum ada Komentar untuk "Raja-Raja Majapahit dan Silsilahnya"

Posting Komentar

Berkomentarlah yang terarah dan jelas agar dapat dipahami dan dibalas admin.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel