Siu Ban Ci, Ibu Raden Patah Sultan Demak I

 Asal-usul Raden Patah selaku Sultan Demak pertama tentu sudah banyak dibicarakan dan ditulis orang, namun mengenai asal-usul Ibu Raden Patah ternyata belum banyak diketahui orang. Dalam naskah Babad Tanah Jawi, Ibu Raden Patah disebut dengan nama Siu Ban Ci, sementara dalam Naskah Mertasinga dikenal dengan nama “Banyowi”. 

Siu Banci atau Banyowi menurut kedua naskah tersebut adalah Ibu Raden Patah, ia merupakan seorang Cina muslim bernama Siu Tek Yo. Selain seorang muslim Siu Tek Yo juga dikenal sebagai saudagar kaya dan memahami ilmu agama Islam bahkan juga turut menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. 

Asal-Usul Keluarga Siu Ban Ci

Sebagaimana telah disinggung sebelumnya bahwa Siu Tek Yo dikenal sebagai saudagar kaya sekaligus juga sebagai pendakwah agama Islam. Kedalamannya pada agama Islam membuat saudagar ini dikenal juga dengan sebutan “Syekh Bentong”. 

Menurut Sejarah Cirebon, Syekh Bentong adalah anak dari Syekh Quro, ulama asal Champa (Vietnam) yang dahulu menumpang rombongan kapal Laksamana Cheng-Ho dari Cina, Syekh Quro datang menuju ke  pulau Jawa untuk berdagang dan mendakwahkan Islam. 

Syekh Qura adalah ulama yang hidup sezaman dengan Syekh Nurjati (Guru Sunan Gunung Jati) bahkan keduanya masih memiliki hubungan kekerabtan. Baik Syekh Qura maupun anaknya Syekh Bentong memusatkan dakwah Islamnya di Jawa Barat. 

Siu Ban Ci Menikah dengan Brawijaya V (Bre Kertabumi)

Menurut Babad Tanah Jawi, perkawinan Siu Ban Ci dengan Brawijaya V bermula ketika Siu Tek Yo bersama anaknya, Siu Ban Ci, menghadap Bhre Kertabhumi untuk meminta izin berdagang di wilayah Keling. Waktu itu Bre Kertabumi masih menjadi Raja Keling (Sekarang bagian dari wilayah Kediri:Bawahan Majapahit)

Selain menghadap, Siu Tek Yo juga membawa hadiah kepada Bhre Kertabumi yang ditaruh di dalam peti. Isinya ada batu giok dari Tiongkok, beberapa lembar kain sutra mahal, keramik Tiongkok, dupa asal Tiongkok, dan beberapa untai mutiara pilihan. Dan Sang Raja, Bhre Kertabhumi jatuh cinta pada pandangan yang pertama kepada putri Siu Tek Yo. Sang permaisuri, Dewi Amarawati atau Putri Champa sempat bermuka dingin pertanda terbakar api cemburu.

Siu Tek Yo dan putrinya lantas diminta untuk beristirahat di Puri Kanuruhan. Padahal, sebelumnya rombongan saudagar China itu hendak langsung melanjutkan perjalanan pulang ke rumah di Daha. Paginya, Siu Tek Yo dipanggil untuk menghadap Bhre Kertabhumi. Sang Raja Keling meminta agar putrinya, Siu Ban Ci menjadi garwa ampeyan (istri selir).

Siu Ban Ci pun dibawa menghadap sang raja dengan tandu  terbaik dari Puri Kanuruhan menuju Keraton Keling. Konon, Siu Ban Ci adalah selir Brawijaya yang sangat dicintai sehingga menimbulkan kemarahan yang besar pada permaisuri, Dewi Amarawati Sang Putri Champa.

Siu Ban Ci Melahirkan Raden Patah

Menurut Babad Tanah Jawi, saat Siu Ban Ci hamil tiga bulan, permaisuri Bhre Kertabhumi belum juga memiliki keturunan. Dewi Amarawati sang permaisuri meminta agar Bhre Kertabhumi menceraikannya.

Singkat cerita, Siu Ban Ci dititipkan kepada Arya Damar, Adipati Palembang yang masih masuk wilayah kekuasaan Majapahit. Di sana, penduduk Tionghoa sangat banyak sehingga diharapkan Siu Ban Ci betah hidup di sana.

Arya Damar adalah keturunan Jawa dan Tionghoa dengan nama asli Swan Liong, putra Raja Majapahit Bathara Prabu Wikramawardhana dengan seorang selir berdarah Tionghoa. Arya Damar terhitung masih paman Bhre Kertabhumi, karena masih saudara ayahnya, Raden Kertarajasa.

Bhre Kertabhumi meminta agar Siu Ban Ci dinikahi Arya Damar dengan syarat, jangan diapa-apakan sebelum rahim yang ada dalam kandungan itu lahir. Bhre Kertabumi juga memberi nawala (pesan) agar kelak anaknya diberi nama Naraprakosa yang artinya lelaki yang perkasa.

Anak Siu Ban Ci dari benih Brawijaya 5 itu kelak juga memiliki nama Raden Hasan, dengan nama Tionghoa "Jin Bun". Kelak, Raden Hasan merantau ke Jawa untuk menemui rama kandungnya, Bhre Kertabhumi dan menjadi Adipati Demak Bintoro. Dengan dukungan Dewan Majelis Walisongo, Raden Hasan berhasil memerdekakan Kadipaten Demak dan mendirikan Kasultanan Demak Bintoro Sultan Syah Alam Akbar (Serat Pranitiradya) atau Sultan Surya Alam (Hikayat Banjar). Ia juga dikenal dengan Raden Patah yang diambil dari kata dalam bahasa Arab "al-Fatah" yang artinya Sang Pembuka.

Ia juga memiliki adik tiri beda ayah bernama Raden Husain, orang Jawa menyebutnya Raden Kusen. Ia anak Siu Ban Ci dari ayah Arya Damar (Swan Liong) yang kemudian mengabdi di Majapahit, menjadi Adipati Terung dikenal Arya Pecattanda.

Belum ada Komentar untuk "Siu Ban Ci, Ibu Raden Patah Sultan Demak I"

Posting Komentar

Berkomentarlah yang terarah dan jelas agar dapat dipahami dan dibalas admin.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel