Kisah Kematian Kartosuwiryo Sang Khalifah NII

Detik-detik kematian Kartosuwiryo pemberontak yang hendak mengubah ideologi negara Indonesia ini ditulis dalam banyak buku dan sudut pandang. Sang Khalifah NII itu wafat dieksekusi mati pada 16 Agustus 1962.

Kisah kematian Kartosuwiryo sang Khalifah NII itu dimulai ketika pada tanggal 1 April 1962, Panglima Divisi VI Siliwangi, Kolonel Ibrahim Adjie menggelar “Operasi Bharatayudha”. Yang juga melibatkan Divisi Diponerogo dan Brawijaya. Operasi ini juga dikenal dengan nama "Pagar Betis".

Pengejaran terhadap Kartosoewirjo terus menerus dilakukan, tetapi terus menrus pula ia meloloskan diri sampai tibalah hari sial bagi sang Proklamator 
Negara Islam Indonesia itu.
Pada tanggal 2 Juni 1962, Ibrahim Adjie menerima laporan adanya perampokan di Dusun Kampung Pangauban, Paseh. Ia kemudian memerintahkan Kompi C Batalyon 328 /Kijang II agar membuntuti jejak-jejak gerombolan yang jumlahnya kurang lebih 7 orang itu. Sehari kemudian, Letnan Suhada selaku pimpinan Kompi segera membagi pasukannya dengan 3 bagian yang terdiri dari 45 anggota tentara. Pasukan yang dipimpin sendiri oleh Letda Suhada ternyata menemukan jejak yang menuju arah perkampungan di Gunung Geber, Majalaya.

Kartosoewirjo menyerang operasi Pagar Betis ini dengan mengeluarkan PPS (Perintah Perang Semesta) pada tanggal 3 Juni 1962. Namun, pada tanggal 4 Juni 
1962, setelah menyelusuri gunung seharian, akhirnya menjadi hari kemenangan bagi pihak Republik. 

Sesampainya di tempat persembunyian Kartosoewirjo itu, Letda Suhada segera menyerbu gubuk-gubuk yang jumlahnya tidak kurang dari 7 buah itu.

Mayor Aceng Kurnia, Kepala Pengawal Pribadi Sang Imam Negara Islam Indonesia langsung menyerah dan memberitahu jika Kartosoewirjo sedang berada di salah satu gubuk dalam keadaan sakit dan sekarat.

Letda Suhada langsung menuju gubuk yang ditunjuk dan segera menemukan 
Kartosoewirjo dalam keadaan tidak berdaya. Berbaring dengan rambut kusut dan muka pucat serta hanya ditemani oleh isteri dan anaknya, Muhammad Darda yang akrab dipanggil Dodo. 

Setelah keduanya bersalaman dan sedikit berbincang-bincang, Kartosoewirjo akhirnya bisa turun gunung dengan cara ditandu.

Selepas di obati negara dan sembuh dari penyakitnya. Kartosuwiryo di adili. Sesuai dengan keputusan sidang ketiga MAHADPER, 16 Agustus 1962, Kartosoewirjo dinyatakan bersalah karena kejahatan-kejahatan politik yang dilakukannya, yaitu: (1) Makar untuk merobohkan negara Republik Indonesia; (2) Pemberontakan terhadap kekuasaan yang sah di Indonesia dan; (3) Makar untuk membunuh kepala negara Republik Indonesia (Presiden Soekarno). 

Pada 12 September 1962, sebelum eksekusi, Kartosoewirjo mendapat kesempatan berkumpul bersama keluarga, satu dari empat keinginan terakhirnya. Hadir dalam pertemuan tersebut sang istri, Dewi Siti Kalsum, putri tokoh Persatuan Serikat Islam Indonesia (PSII) cabang Malangbong, Ardiwisastra, yang telah memberikannya 12 anak –hanya tujuh yang hidup hingga tahun 1962. Hadir pula kelima anaknya: Tahmid Basuki Rahmat, Dodo Mohammad Darda, Kartika, Komalasari, dan Danti.

Pada tanggal 16 Agustus 1962, Kartosoewirjo dijatuhi hukuman mati oleh 
Mahadper (Mahkamah Angkatan Darat dalam Keadaan Perang) untuk Jawa dan 
Madura yang khusus menangani kasus gembong Darul Islam di Jawa Barat.

Kartosuwiryo dieksekusi mati di kepulauan seribu Jakarta, meskipun begitu hingga saat ini di pulau bagian mana dari kepulauan seribu dan kubur Kartosuwiryo masih dirahasiakan negara. Belakangan ada pendapat yang menyatakan jika Kartosuwiryo dieksekusi dan dimakamkan di Pulau Ubi Kepulauan Seribu.

Belum ada Komentar untuk "Kisah Kematian Kartosuwiryo Sang Khalifah NII"

Posting Komentar

Berkomentarlah yang terarah dan jelas agar dapat dipahami dan dibalas admin.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel