Kerajaan Japura Cirebon

Kerajaan Japura adalah salah satu kerajaan kecil dibagian timur wilayah pesisir Cirebon yang eksistensinya disebut-sebut dalam catatan lokal maupun catatan asing. Menurut catatan lokal, Japura adalah satu kerajaan yang pernah berdiri pada abad ke 15 masehi hingga abad ke 16 masehi. 

Menurut perkiraan beberapa Sejarawan, bahwa istilah Japura berasal dari dua kata bahasa Sansekerta, yaitu kata "Ja" yang berarti "depan/terdepan" dan "Pura" yang berarti kota, dinamakan demikian Karena Japura memang Kota Terdepan atau Kota Pelabuhan yang maju. Meskipun demikian sejarawan lain berpendapat bahwa Japura itu mulanya bernama Gajahpura, karena Negeri Japura adalah negeri yang yang mempunyai Patung Gajah didepan Ibu Kota Kerajaannya. 

Japura menjadi negeri yang diperhitungkan ketika negeri itu  dipimpin oleh Prabu Amuk Marugul, mulanya merupakan kerajaan bawahan dari Kerajaan Galuh. Ketika diprintah oleh Prabu Amuk Marugul, Japura menjadi kerajaan yang maju karena memiliki pelabuhan yang cukup ramai. 

Lambat laun, perekonomian Japura  lebih unggul dibandingkan negara bawahan Galuh lainnya yang ada diwilayah timur Galuh, seperti Singapura dan Sindangkasih, bahkan kegiatan perekonominya dapat menandingi Kawali Ibu Kota Kerajaan Galuh. 

Kemajuan Japura membuat Prabu Amuk Marugul ingin memisahkan diri dari Kerajaan Galuh, sehingga pada tahun 1422, Galuh melakukan serangan terhadap  Japura. Serangan Galuh ke Japura dipimpin oleh Raden Pamanah Rasa (Prabu Siliwangi) yang kala itu masih berusia 19 tahun. Dalam catatan yang lain, Prabu Amuk Marugul yang sebetulnya masih saudara dengan Siliwangi terlibat perseteruan sehingga menyebabkan hubungan keduanya tidak harmonis. 

Serangan Galuh ke Japura adalah serangan yang melibatkan bantuan kerajaan kecil bawahan Galuh lainnya di wilayah timur kekuasan Galuh seperti Kerajaan Singapura, Surantaka dan Sindangkasih. 

Menurut naskah Carita Purwaka Caruban Nagari, Raden Pamanah Rasa sejak kanak-kanak di asuh oleh uaknya Ki Gedeng Sindangkasih (Raja Sindangkasih) bahkan dinikahkan dengan putrinya Nyi Ambet Kasih. Selain itu,  di masa mudanya Raden Pemah Rasa pernah mengikuti Syamebara di Negeri Surantaka yang digelar oleh Raja Singapura, Ki Gedeng Tapa. Dalam sayambara itu, Pemanah Rasa tampil sebagai pemenang, sehingga ia berhak memperistri Putri Ki Gedeng Tapa, Nyai Subang Larang. Dalam cerita yang lain dalam Syembara ini Amuk Marugul ikut serta sebelum akhirnya dikalahkan oleh Raden Pemanah Rasa. 

Baik penguasa Singapura, maupun Sindangkasih menurut Naskah Carita Purwaka Caruban Nagari merupakan mertua Raden Pamahan Rasa, oleh karena itu, ketika menyerang Japura, Prabu Anggalarang, Raja dari Kerajaan Galuh yang juga ayah kandung dari Raden Pemanah Rasa menyerahkan amanat penyerangan pada putranya dengan memimpin bala tentara Galuh yang dibantu oleh Singapura dan Sindangkasih. 

Serangan Galuh ke Japura menyebabkan Japura kalah, catatan lokal mencatat bahwa selepas Amuk Marugul Mangkat okoh yang disebut Ki Gede Japura (anak Amuk Marugul) didaulat menjadi pengganti Prabu Amuk Marugul. Hal ini mengindikasikan bahwa Kedudukan Japura sebagai Kerajaan bawahan Galuh (Karena Pengusanya disebut Prabu) dihapuskan dan digantikan dengan penguasa yang berjuluk Ki Gede. Menurut catatan lain setelah ditaklukan Galuh, Japura dimasukan kedalam kekuasaan Kerajaan Singapura (sekarang Desa Mertasinga). 

Catatan mengenai Japura juga dicatat oleh Apotekr Portugis, Tome Pires. Orang asing tersebut menyebutkan bahwa, pada tahun 1512-1513, di Jawa ada negeri-negeri yang diperintah oleh para Pate (Patih/Adipati/Raja).  Salah satunya adalah Japura, menurut Tome Pires, Japura kala itu diprintah oleh Pate Codia (Patih Qodi ?), negeri Japura menurut catatan Tome Pires adalah Kerajaan bawahan Demak. 

Ilustrasi Negeri Japura

Catatan Tome Pires menunjukan jika pada awal abad ke 16, Japura telah menjadi negeri Islam dibawah perlindungan Kesultanan Demak, pada tahun 1512-1513, Demak kala itu sedang diprintah oleh Patih Unus (Yunus), Sultan kedua Demak. Kemungkinanya, Japura masuk kedalam kekuasaan Demak dilakukan atas inisiatif penguasa Japura (Ki Gede Japura) secara sukarela, karena sejak dari dulu memang penguasa Japura selalau bersebrangan dengan Prabu Siliwangi, oleh karena itu adalah hal yang logis bila Japura memilih Demak dibandingkan harus menjadi bawahan Pajajaran yang dirajai oleh Sribaduga Maharaja. 

Sementara itu, dalam catatan lokal yang lain, sebagaimana  dalam Naksah Pustaka Kertabhumi, Negeri Japura disebut sebagai Negeri Islam, dimana kebanyakan rakyatnya menjadi pengikut Syekh Lemah Abang (Syek Siti Jenar) di Negeri itu pula Pesantren Lemah Abang, pusat ajaran Syekh Siti Jenar berdiri. 

Dikemudian hari, Syekh Lemah Abang melakukan makar terhadap Kesultanan Demak, karena dianggap membantu muridnya, Ki Ageng Pengging mendirikan Kesultanan Islam di Pengging yang bebas dari kekuasaan Kesultanan Demak. 

Setelah Demak menyerbu Pengging dan mengeksekusi mati Ki Ageng Pengging, Demak mengutus bala tentaranya yang di pimpin Sunan Kudus untuk menangkap Seykh Siti Jenar di Japura. Namun penangkapan tersebut sangat sulit, karena Syekh Siti Jenar merupakan ulama kharismatik yang didukung dan disucikan oleh kebanyakan rakyat Japura. 

Guna menangkap Syekh Siti Jenar, Demak akhirnya meminta bantuan Cirebon yang kala itu menjadi sekutu Demak. Melalui Cirebon, berkumpulah para Wali di tanah Jawa untuk melakukan pemanggilan Syekh Siti Jenar ke Pengadilan. Panggilan tersebut dipatuhi oleh Syekh Siti Jenar.

Baca Juga: Riwayat Syekh Siti Jenar

Menurut Naskah Mertasinga, Syekh Siti Jenar diadili oleh para wali di Masjid Agung Kesultanan Cirebon, yang mengadili adalah sebagaian anggota walisongo dan wali-wali lainnya yang ada di tanah Jawa. Dalam pengadilan tersebut Syekh Siti Jenar diputuskan bersalah dan dijatuhi hukuman mati. 

Masih menurut Naskah Mertasinga, bahwa Syekh Siti Jenar/Syekh Lemah Abang, dieksekusi mati di alun-alun Kesultanan Cirebon, tubuhnya diikat dibawah pohon tanjung sebelum akhirnya ditusuk menggunakan sebilah keris oleh Sunan Kudus, adapun keris yang digunakan adalah Keris Sanghyang Naga, pusaka milik Sunan Gunung Jati. 

Selepas peristiwa meninggalnya Syekh Siti Jenar, tidak ada catatan kuno lainnya membahan mengenai Japura, kemungkinan pada abad-abad selanjutnya, Japura termasuk didalamnya Singapura, Sindangkasih dan Negeri Surantaka dilebur menjadi kekuasaan Kesultanan Cirebon. 

Penulis: Bung Fei

Baca Juga: Prabu Amuk Marugul

Belum ada Komentar untuk " Kerajaan Japura Cirebon"

Posting Komentar

Berkomentarlah yang terarah dan jelas agar dapat dipahami dan dibalas admin.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel