Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

CARIOS PASUNDAN

Carios Pasundan

PENUMPASAN PARA PEMBANGKANG

Bagian (1)

Tidak lama setelah Pajajaran melantik Pangeran Surawisesa menjadi Raja baru di Pajajaran (1521), Adik Sang Maharaja yang menjadi Pucuk Umun di Banten Girang memberontak. 

Pemberontakan tersebut didukung oleh 15 Raja Bawahan lainnya di seluruh Pajajaran. Prabu Surawisesa yang bijaksana kemudian mengultimatum para Pembangkang itu agar kembali ke Pangkuan Negara Pajajaran. Tapi ultimatum itu ditolak. 

Dengan terpaksa, Prabu Surawisesa mengerahkan tentaranya untuk melakukan Penumpasan pada Pra Pembangkang. Misi Penumpasan dipimpin langsung oleh Sang Maharaja. 

Satu persatu dari 16 Negeri bawahan Pajajaran itu ditundukkan, para Pucukumunnya di tangkap dan kemudian diadili, banyak nyawa yang melayang pada masa Perang saudara ini. 

Pada lain sisi, Para Pejabat dan Kerabat Kerajaan dari 16 Negeri-Negeri Pajajaran itu banyak yang lolos, mereka melarikan diri, salah satu Negeri yang dituju adalah Negara Cirebon. 

Di Negara Cirebon, para pelarian yang selamat itu salah satu diantara mereka dihadapkan kepada Sunan Gunung Jati. 

Dihadapan Raja Cirebon itu, para pelarian menceritakan mengenai sebab musabab kenapa mereka memberontak dengan pajang lebar dan detail, Sunan Gunung Jati yang mendengar cerita dari pelarian itu mukanya memerah, beliau sangat marah. 

"Rupanya Paman Surawisesa sudah kebablasan, Kebijakannya dalam memerintah Negara Jelas akan membahayakan Negara kita" Begitu kira-kira Ucapan Sunan Jati selepas menanggapi uraian dari sang Pelarian. 

Tidak lama setelah itu, Sunan Gunung Jati memanggil salah satu Panglimanya, kemudian memerintahkan agar segera mengirimkan Surat yang ia buat, surat itu ditujukan Kepada Sunan Giri dan Sultan Demak. Si Panglima yang diperintah itupun kemudian Melesat dengan Kudanya menuju Demak dan Giri.

MENJELANG PERANG TERBUKA

Bagian (2)

"Ampun Gusti, bahwa sisa-sisa para Pemberontak dari Kalapa Dalem, Tanjung, Ancol, Banten Girang, Simpang, Gunung Batu, Saung Agung, Rumbut, Gunung Ageung, Padang, Pagawok, Muntur, Hanum, Pagerwesi, Medhang Kahyangan serta orang-orang dari Gunung Banjar telah meminta perlindungan pada Cirebon, dan Cirebon pun melindunginya, perlukah kita menyerang Cirebon....!?" Demikian laporan salah satu Panglima Pajajaran kepada Prabu Surawisesa. 

Mendengar laporan sekaligus pertanyaan dari salah satu Panglimanya, Prabu Surawisesa sejenak diam, suasana di Keraton Bhima waktu itupun hening. 

Prabu Surawisesa kemudian berdiri, lalu berkata " Aku Segan dengan kakakku, Sang Walangsungsang itu, bagaimanapun mewarisi darah Siliwangi sama seperti aku, akan tetapi demi keamanan Negara Pajajaran ini, aku titahkan kalian untuk segera mempersiapkan bala tentara kita diperbatasan Cirebon guna menghadapi kemungkinan yang buruk...".  Mendengar titah tersebut, para Panglima Pajajaran kemudian menjawab " Daulat Tuanku....., Perintah akan kami jalankan". 

Ditempat yang lain, Giri, Demak dan Cirebon bersepakat akan merebut seluruh wilayah Pesisir Pajajaran. Wilayah yang mula-mula akan direbut adalah Banten, kemudian dilanjutkan dengan Kalapa. 

Salah seorang Abdi dari Kuningan yang mengikuti Rapat kemudian bertanya :

"Mengapa yang mula-mula harus direbut adalah Banten, bukankah lebih baiknya kita merebut wilayah-wilayah Perbatasan Cirebon dan Pajajaran dulu, Seperti Galuh, Rajagaluh, Dermayu, Karawang, Kalapa dan baru kemudian Banten .......!?

Salah seorang Utusan Cirebon kemudian menjawab " Sekarang Pajajaran kemungkinan besar akan mensiagakan pasukannya diperbatasan, sulit bagi kita menembusnya, sementara itu di Banten Girang telah terjadi kekosongan pemerintahan, sebab penguasanya telah dilengserkan, sementara di Banten Pesisir, meskipun secara defacto masih diperintah Oleh Pucukumun-nya, akan tetapi sebagian masyarakat sana adalah Pengikut Maulana Hasanuddin yang setia, mudah bagi kita menggulingkannya, kita tidak perlu membawa banyak tentara, barulah nantinya selepas kita menguasai Banten kita Rebut Kalapa, agar Perjanjian antara Prabu Pajajaran dan Kafir Portugis itu tidak terwujud!" Begitu jawab utusan Cirebon. 

Pada waktu yang telah ditentukan, Ketika Kapal yang mengangkut gabungan tentara Cirebon & Demak berlabuh di Banten Pesisir, huru-hara pun terjadi, namun karena karpet merah telah dipersiapkan oleh Maulana Hasannudin, mereka dengan mudah menerjang tentara Pajajaran yang ditugaskan di daerah itu. 

Bersama Bala tentara Cirebon & Demak, Maulana Hasanuddin mengepung Keraton Banten Pesisir. Pucukumun Banten Pesisir yang tak lain juga sebagai Paman dari Maulana Hasanuddin sendiri tidak bisa berbuat banyak, beliau pun akhirnya menyerahkan diri. 

Selepas jatuhnya Banten, Prabu Surawisesa yang baru saja mendapatkan laporan dari Panglima tempurnya meremas-remas kain yang menutupi lututnya, beliau pun kemudian berkata " Kita Kecolongan.....".

Selanjutnya dengan amarah yang berkobar-kobar, Prabu Surawisesa berkata " Perintahkan Bala tentara kita yang ada di Perbatasan Cirebon untuk menyerang Cirebon......!!!" Sementara kalian, segera pimpin pasukan kita untuk merebut Banten.....!!". 

Titah Prabu Surawisesa kala itu terdengar menggelegar, seolah-olah seperti suara terjangan badai yang menghantam bebatuan karang.

SEOLAH-OLAH MELAWAN DEWA INDRA

(CARIOS PASUNDAN : BAGIAN 3 )

Keraton Pakungwati pagi itu sibuk, Arya Kuningan, Patih Jagabaya, Pangeran Karangkendal, Nyimas Panguragan, dan segenap pejabat tinggi Cirebon lainnya yang tidak mengikuti misi penaklukan Banten & Kalapa berkumpul, mereka duduk didalam Paseban Agung menunggu Kedatangan Sunan Gunung Jati dan Pangeran Cakrabuana.

Untungnya para Abdi Dalem Keraton sebelumnya telah membakar kemenyan kualitas tinggi, dimana wangi asapnya mampu merelaksasi  para pembesar Cirebon yang sedang tegang, sehingga mereka tampak sedikit tenang. 

Tidak lama kemudian, Pangeran Walangsungsang datang ke Paseban Agung diikuti oleh Sunan Gunung Jati yang jalan dibelakangnya. Keduanya kemudian mengucapkan salam dan kemudian duduk diantara para Pembesar Cirebon. 

Pagi itu suasana cerah, mereka membicarakan hal-hal darurat menyangkut keamanan Negara. 

Sunan Gunung Jati berkata " Anakku Arya Kuningan, Aku sudah berbicara dengan Uwak Cakrabuana, dan aku juga hari ini menetapkan, bahwa aku tugaskan engkau untuk menuju Palimanan, memimpin bala tentara Cirebon dalam menghadapi kemungkinan serangan Pajajaran dari wilayah-wilayah Perbatasan kita dengan mereka, dan aku perintahkan juga agar Pangeran Karangkendal  membantunya".

Mendengar perintah tersebut, anak angkat Sunan Gunung Jati itu kemudian menjawab ;

 "Segala perintah Ayahanda Sultan akan hamba laksanakan

Begitupun juga demikian dengan Pangeran Karangkendal beliau juga menjawab dengan jawaban kesanggupan.

Sementara itu, Pangeran Walangsungsang kemudian berkata : " Muridku Panguragan, Aku perintahkan engkau untuk menyusup ke Rajagaluh dan memata-matai kekuatan lawan, catat segala hal yang perlu di catat, dan segera laporkan bila sangat perlu....!!"  

Wanita berjuluk Gandasari itupun akhirnya menjawab, "Segala perintah guru akan hamba laksanakan.."

Selanjutnya Pangeran Walangsungsang juga memerintahkan Patih Jagabaya dan para bawahannya untuk membentengi Kota Raja Cirebon dengan kekuatan penuh. 

Ditempat lain, Pasukan Pajajaran telah tiba di Perbatasan Banten Pesisir, mereka bergerak untuk merebut negeri itu dari orang-orang Cirebon dan Demak yang sebelumnya telah merebutnya. 

Pasukan Pajajaran yang dikenal tangguh itupun kemudian menyerang Pasukan musuh yang juga telah siaga di depan mereka, perang pecah dengan dahsyatnya. 

Gebrakan tentara Pajajaran itu membuat lulu lantak pasukan musuh, sehingga pasukan musuh mundur ke pusat kota. 

Melihat musuhnya lari kocar-kacir, Pasukan Pajajaran mengejarnya, seolah olah mereka tidak sabar untuk sesegera mungkin melumat habis orang-orang yang telah merampas wilayah kekuasaannya. 

Tapi rupanya, mundurnya Pasukan Cirebon dan Demak ke Pusat kota itu adalah jebakan. 

Fatahillah, Maulana Hasanuddin, Arya Kemuning, Patih Keling, Pangeran Carbon sudah mempersiapkan bala tentara mereka untuk menghalau Pasukan Pajajaran. 

Manakala Pasukan Pajajaran itu memasuki Pusat Kota dengan memacu kuda perangnya, Fatahillah memerintahkan kepada pasukannya " Keluarkan Ki Jimat.....!!!, Tembaaaak .....!!

Prajurit Demak yang mendengar aba-aba itu lalu mengeluarkan Meriam Ukuran besar itu dan menembakkannya ke arah Pasukan berkuda Pajajaran 

"Doooooooooor.....!!!!"  Bunyi nyaring Meriam Ki Jimat membuat suasana menjadi ngeri, sementara muntahan pelurunya membuat Pasukan Berkuda Pajajaran yang sedang lari kencang seketika ambrol, mereka gugur bersimbah darah. 

Tidak hanya satu kali, meriam Ki Jimat terus ditembakkan sehingga pelurunya menghantam pasukan Pajajaran yang lain, mereka sebagian besrnya ambruk berkalang tanah. 

Panglima Perang Pajajaran yang mengetahui gawatnya keadaan, segera memacu kudanya kemudian berkata pada pasukannya yang masih tersisa " .....Mundur...........10X!" 

Dengan tergopoh-gopoh, Pasukan Pajajaran itu mundur, mereka kalang kabut. 

Ditengah-tengah pelarian Meraka, ada satu Prajurit yang sempat bertanya kepada Prajurit lainnya, katanya "Apakah kita tadi diserang dengan Petir .......!!?

Dengan tersenggal-sengal karena sambil berlari, temannya kemudian menjawab "Sepertinya Dewa Indra membantu mereka, dan mengirimkan gunturnya untuk menyerang kita".

Melihat Pasukan Pajajaran yang mundur dengan tergopoh-gopoh, Maulana Hasanuddin berkata pada Fatahillah; 

"Maaf kakang, izinkan hamba untuk mengejar mereka, dan kemudian menghabisi mereka.....!!

Mendengar perkataan tersebut, Fatahillah tersenyum dan kemudian menjawab sambil memegangi Pundak Maulana Hasanuddin "Adinda, Agama kita tidak mengajarkan menyerang musuh yang sudah mengaku kalah, mereka mundur berarti mengaku kalah". 

Mendengar jawaban dari Fatahillah, Maulana Hasanuddin yang kala itu masih muda hanya diam sambil menyadari kekeliruannya.

PATAH DISEGALA LINI

(CARIOS PASUNDAN BAGIAN 4)

Meskipun pada waktu itu di lingkungan Istana Bima dalam kondisi gerimis, Mangkubumi Jayadilaga dan Para Mantri Pajajaran keringatnya bercucuran, sementara para Panglima perang Pajajaran tertunduk lesu ketakutan. Mereka takut Sanghyang Surawisesa murka.

" Hai kamu Panglima Awi Luhur, ceritakan kepada saya, mengapa kalian kalah perang di Banten Pesisir.....!?" Tanya Sanghyang Surawisea. 

Panglima Awi Luhur menjawab ; " Ampun Gusti, sebetulnya dalam peperangan murni kami tidak terlampau kesulitan dalam menghadapi orang-orang Cirebon dan Demak itu, bahkan kami mampu membantai banyak Prajurit mereka, hanya saja mereka mempunyai senjata yang mematikan, mereka mempunyai meriam, besar meriam itu lebih besar dari pilar-pilar di istana Bima ini, jangkauan pelurunya sangat jauh, bunyinya bagaikan guntur, tentara berkuda kami sebagaiannya ambruk dihantam meriam itu"

Mendengar jawaban abdinya, Sanghyang Surawisesa berdiri dari Singaasananya kemudian berjalan mondar-mandir tanpa arah, dan kemudian berkata " Betulkah itu Panglima Kalapa Tengah....!?" 

Panglima Kalapa Tengah yang sebelumnya tertunduk lesu kemudian bangkit, menyembah dan kemudian menjawab " Maaf Gusti, yang dikatakan Panglima Awi Luhur benar adanya. Ingatkah Gusti ketika hamba menemani Gusti Ke Malaka menemui Portugis ?, sesungguhnya Meriam orang Demak yang ditempatkan di Banten itu besarnya mengungguli Meriam-Meriam Portugis yang terpasang di Benteng yang ada di Malaka. Berdasarkan penyelidikan yang hamba lakukan, bahwa dalam rangka membuat Meriam itu, Sultan Trenggono dibantu oleh para teknisi dari Negeri Rom, yaitu Negeri dimana Khalifah Pengikut ajaran Muhamad Tinggal".

Mendengar jawaban dari kedua Panglimanya, Sanghyang Surawisesa terduduk lemas di Singgasananya kembali. Ia merasa Ngeri yang dibangun susah payah oleh ayahnya akan hancur dimasa pemerintahannya.  

Mendapati gerak-gerik Rajanya yang sedang putus asa, Mangkubumi berkata " Ampun Gusti, jangan terlampau risau, meriam besar yang ditempatkan di Banten itu sifatnya meriam pertahanan, tidak mungkin dapat secara cepat digunakan untuk menyerang Pakuan, sebab perlu diangkut melalui hutan dan jalan berbukit-bukit dengan banyak Sungai, yang perlu kita lakukan adalah mengamankan jalur itu agar kita jangan sampai kecolongan

Mendengar pemaparan Mangkubhumi-nya, Sanghyang Surawisesa bangkit lagi kemudian memberi titah, "Kalian seluruh Panglimaku, cepat amankan Ibu Kota Raja dari segala kemungkinan terburuk, dan amankan juga jalur-jalur perjalanan menuju Pakuan, apabila ada Pasukan Demak ataupun Cirebon yang memasukinya segera habisi tanpa menunggu perintahku lagi " begitu titahnya. 

Seluruh Panglima Perang Pajajaran yang hadir di Keraton Bhima waktu itu kemudian serempak menjawab " Baik Gusti, segala Titah Baginda akan kami laksanakan.....!". 

Pada tempat yang lain, tepatnya di Perbatasan Cirebon dan Pajajaran, Pasukan Pajajaran yang terdiri dari gabungan negeri-negeri bagian Pajajaran wilayah timur seperti Rajagaluh, Talaga, Galuh, Sindangkasih, Gempol dan Igel bersorak Sorai akan menyerbu Cirebon, bala tentara yang besar itu dipimpin oleh Arya Kiban, akan tetapi manakala mereka memasuki Palimanan, tentara Pajajaran itu dihadang oleh Pasukan Cirebon pimpinan Arya Kuningan. 

Kedua Pasukan berhadap-hadapan. Mendapati pasukan Cirebon dipimpin oleh Arya Kuningan, Arya Kiban yang dalam posisi diatas kuda perangnya berkata ;

"Hai Kuningan, penghianat .....!!!, nista sekali dirimu melawan kerajaan yang didirikan nenek moyangmu sendiri, segera turunkan senjatamu dan menyerahlah kepadaku, kemudian ikutlah denganku untuk menghabisi riwayat Cirebon". 

Mendengar ucapan Arya Kiban muka Arya Kuningan memerah padam, ia sangat murka dan kemudian menjawab " Hai Kiban, Orang-orang Korup dan Bejad seperti kalian tidak layak menasehati kami soal  penghianatan, kalianlah yang sebetulnya mengkhianati rakyat

Selanjutnya, sambil memacu kuda Si Windu Tunggangannya, Arya Kuningan melesat hendak melabrak pasukan Pajajaran, ia juga berteriak kencang pada Pasukannya " Serang.........................!!!!

Aba-aba dari Arya Kuningan dengan suara melengking itu membuat Pasukan Cirebon  bergemuruh, mereka melesat menyongsong Pasukan Pajajaran. 

Mendapati Arya Kuningan dan  Pasukan Cirebon telah melesat didepannya, Arya Kiban tetap dalam posisi tenang. 

Dalam hatinya, Arya Kiban berkata " Ingin Cepat mampus rupanya anak Ki Gedeng Luragung itu". 

Dalam posisi akan memacu kudanya, Arya Kiban berkata, "Prajurit, berikan aku tombak......!!!" Sekoyong-koyong Prajurit yang ada disampingnya memberikan Tombak panjang yang hulunya berlumur racun dari bisa ular sendok. 

Ciaaaaaaat !!!!! Dengan tombak ditangan Kananya Arya Kiban memacu kudanya, ia mengincar Arya Kuningan yang juga sedang memacu kudanya sambil menghunus Pedangnya. 

Kondisi Medan tempur waktu itu banyak ditumbuhi rerumputan liar yang dijalari oleh pohon oyong, juga sebagian lokasi terdapat lumpur hidup yang membahayakan. 

Dan ketika......jarak antara Arya Kuningan tidak terlampau jauh, Arya Kiban melemparkan tombaknya......

Tombak itu melesat ke arah Arya Kuningan, malangya ketika Arya Kuningan hendak menangkisnya, puluhan anak Panah yang ditembakkan Prajurit Pajajaran juga rupanya menyasar kepadanya, akibatnya......lemparan tombak itu mengenai kakinya, Arya Kuningan kemudian tersungkur dari kudanya, ia terguling-guling pada semak-semak berlumpur,......kakinya terluka penuh darah, sementara Si Windu, Kuda tungganya melesat entah kemana meninggalkan tuannya.......

Pangeran Karangkendal yang melihat Arya Kuningan sedang dalam bahaya....., melesat  membantunya, sambil berkata kepada pasukan berkuda di belakangnya, " Lindungi Dipati Kuningan.......!!!, tembakan Panah ..............!!!!!

PERANG HABIS-HABISAN DI KOTA RAJA CIREBON 

(CARIOS PASUNDAN BAGIAN 5)

Dengan suah payah, Pangeran Karangkendal berhasil menyelamatkan Dipati Kuningan, ia membawa Dipati Kuningan yang terluka melesat menghindari kerumunan tentara Pajajaran dengan kudanya. " Mundur-muduuuuuuur........!!!" begitu kata-kata terakhir yang diucapkan Pangeran Karangkendal kepada para Prajurit Cirebon. 

Dari jarak yang tidak agak juh, Arya Kiban tertwa terbahak-bahak melihat Pasukan Cirebon lari tungang-langgang. Ia kemudian berkata pada para bawahannya " Tak usah di kejar, biarkan para pengecut-pengecut itu melapor kepada majikannya, kita fokus ke rencana kita, yaitu menyerbu Kota Raja Cirebon...!!"

Kemenangan Pajajaran pada pertempuran di Palimanan membuat seluruh bala tentara pajajaran senang bukan main, mereka tertawa terbahak-bahak dengan puas. 

Beberapa hari kemudian, Bersama para Panglima kerajaan bawahan Pajajaran lain, Arya Kiban menuju Cirebon untuk menaklukannya, serangan awal yang direncanakan Arya Kiban adalah dengan menyerang pusat pemerintahan Cirebon kedua selain Istana Pakungwati, yaitu menyerang Gunung Jati.

Dengan pasukan yang besar, Arya Kiban menyerbu Gunung Jati, akan tetapi dalam serbuan di Gunung Jati itu, tentara Cirebon tidak meladeninya, Tentara Cirebon diperintahkan oleh Sunan Gunung Jati untuk mundur ke Kota Raja menghindari pasukan Pajajaran pimpinan Arya Kiban dan sekutunya.

Merasa pasukan Cirebon lari kocar-kacir menghadapi pasukannya Arya Kiban menjadi bertambah-tambah yakin, jika Cirebon sebentar lagi akan sanggup ia taklukan. Arya Kiban beserta sekutunya kemudian menuju pusat kerajaan Cirebon untuk segera menaklukannya.

Barulah, ketika Arya Kiban bersama pasukannya masuk ke dalam wilayah kota raja, perang  yang sesunguhnya terjadi, perang penentuan kalah dan menang. Jika Cirebon kalah maka sudah tentu Kesultanan Cirebon dapat dibubarkan, akan tetapi sebaliknya jika Cirebon yang menang maka Rajagaluh, Talaga dan negeri-negeri bawahan Pajajaran timur lainnya akan menjadi taklukannya.

Ketika kedua belah pasukan berhadap-hadapan, dan sebelum Gong tanda bermulanya perang dimulai, Pasukan Cirebon mengatur formasi perang. Formasi perang yang digunakan tentara Cirebon adalah formasi  Burung Bayan.

Dalam formasi itu, Arya Pandalegan ditempatkan pada bagian paruh, Gedeng Kiring ditempatkan pada bagain kepala, sementara bagain sayap kanan dan kiri ditempati oleh Patih Lembu Sasrah dan Tuan Bhumi, Pangeran Kejaksan sebagai badannya, adapun bagain ekornya ditempati oleh Arya Tandhumuni.

Mengamati pasukan Cirebon yang telah menggunakan formasi Burung Bayan, Arya Kiban rupanya memerintahkan pasukannya untuk menggunakan formasi perang yang sama. 

Shangyang Gempol ditempatkan dibagain paruh, Shangyang Igel sebagai Kepalnya, Dalem Rajapaloh sebagai sayap kanan, Sunan Talaga sebagai sayap kiri, Arya Kiban sebagai badannya, sementara Dalem Cianom sebagai ekornya.

Pada saat Gong tanda perang dibunyikan, kedua belah pihak pasukan kemudan saling maju kemedan perang, akan tetapi baru saja perang itu dimulai, tiba-tiba pasukan Cirebon merubah formasi perangnya. 

Formasi perang Burung Bayan yang sudah diterapkan dibalik posisinya. Yang didepan menjadi ekor, sementara yang dahulunya menjadi ekor berubah menjadi kepalanya.

Perubahan formasi perang pasukan Cirebon secara mendadak itu membuat bingung pasukan Pajajaran, Arya Kiban terkadang salah perintah dan cenderung gegabah karena kebingungan, sehingga perang yang berkecamuk dengan dahsyat itu membawa pasukan Pajajaran dalam keterpurukan.

Pada saat pasukan Pajajaran sedang terdesak, pasukan Cirebon mendapatkan tenaga baru, bantuan datang dari pasukan pimpinan Arya Kuningan dan Pangeran Karangkendal yang baru saja samapai ke Cirebon selepas kekalahan mereka  pada perang di Palimanan, perang pun kemudian meletus kembali dengan bertambah-tambah dahsyat.

Dalam perang yang menentukan itu, akhirnya pasukan Pajajaran Pimpinan Arya Kiban itu dapat dikalahkan, Dalem Sindangkasih, Sunan Talaga, Dalem Cianom dan Dalaem Sarakarsa dalam peristiwa ini dikisahkan terbunuh, adapun Shangyang Gempol dan Arya Gumirincing tertangkap dan menyerahkan diri, sementara Shangyang Igel berhasil melarikan diri  bersama pasukannya, meskipun ia sendiri terluka parah karena sabetan pedang. Adapun Arya Kiban rupanya dapat lolos menyelamatkan diri.

Posting Komentar untuk "CARIOS PASUNDAN "