Penumpasan Pemberontakan Negara Islam Indonesia (DII/TII) Di Indramayu

- Juni 07, 2017
Setelah kemerdekaan Indonesia tercapai secara penuh, dan kemudian Indonesia menetapkan landasan bernegara dengan Pancasila dan UUD 45 nya, ada kelompok yang merasa tidak puas, kelompok-kelompok tersebut diantaranya adalah mantan Pejuang Kemerdekaan yang menginginkan Islam menjadi landasan Negara Indonesia.
Bendera DII/NII
Oleh sebab itulah kemudian kelompok ini melakukan pemberontakan. Mereka mendirikan Negara di atas Negara, Negara yang mereka dirikan dinamai Darul Islam Indonesia mereka juga memiliki bendera sendiri yang dikenal dengan bendera Islam Indonesia Adapun Darul Islam sendiri  berarti Negara Islam Indonesia disingkat DII atau NII. 

Baca Juga

Meraka juga mempunyai tentara-tentara perjuangan yang solid dan handal, umumnya mantan Pejuang kemerdekaan dari gabungan milisi-milisi Islam garis keras. Tentara DII dinamai Tentara Islam Indonesia atau disingkat dengan TII. 

DII/TII dipimpin oleh seorang Amir yang bernama Soekarmadji Maridjan Kartosoewirjo yang merupakan Sahabat dekat Soekarno sendiri saat berguru pada pemimpin Sarekat Islam Tjokroaminoto. 

Pusat pergerakan DII di Indonesia berada di Jawa Barat dan Banten. Padamulanya gerakan pendirian DII ini didukung rakyat, oleh sebab itulah rakyat Jawa Barat ikut serta dalam memperjuangkan DII, diantaranya Rakyat Indramayu. 

Berikut adalah salah satu nenek asal Indramayu yang masih Fasih dalam melantunkan lagu yang diduga lagu NII. Wallahu A'lam.

Kondisi soasial dan ekonomi di Indramayu pada tahun 1950-1960 amat miskin dan memprihatinkan, sedangkan di sisi lain DII/TII mengharapkan pendanaan perjuanganya dari sumbangan rakyat, pada tahun-tahun tersebut rakyat Indramayu tidak memenuhi keinginan DII/TII karena miskin. Oleh sebab itu selanjutnya DII/TII mulai hilang kendali. Mereka memaksa, bahkan merampok uang, beras, ternak dari rakyat, yang melawan bahkan kemudian dibunuh dan dianggap merintangi perjuangan. 

Kebengisan DII/TII menurut saksi sejarah sebagaimana yang dismapiakan orang-orang tua di Indramayu yang hidup dijaman itu digambarkan amat menakutkan, pada malam hari TII menggedog rumah-rumah penduduk terutamanya yang kaya dan mengambil harta benda mereka secara paksa, bahkan ada juga anak gadisnya yang di bawa DII/TII untuk dibawa serta mereka, semetara yang melawan akan ditembak mati. 

Tingkah laku DII/TII yang jauh dari ahlaq Islam ini kemudian lambat laun di benci masyarakat. Dan mulai saat itu masyarakat Indramayu sudah tidak lagi menaruh suka pada perjuangan DII/TII. Masyarakat kemudian menginformasikan keberadaan anggota DII/TII ke Tentara Nasional Indonesia, terjadilah kemudian kontak-kontak senjata antara TNI dan TII yang mengakibatkan terjadinya korban diantara keduanya. 

Namun strategi TII dalam berperang ini terbilang handal, menguasai medan tempur dan menggunakan teknik grilya, dalam siang hari mereka bersembunyi di hutan-hutan yang tersebar di Indramayu dan malam harinya melakukan penyergapan-penyergapan sehingga TNI pada waktu itu kwalahan.

Pada tahun 1958 Soekarno merencanakan Penumpasan DII/TII di Jawa Barat secara menyeluruh. Penumpasan DI/TII termuat dalam Rencana Pokok (RP) dan Rencana Operasi (RO) TNI. Tahun 1958, Kodam III/Siliwangi berkonsentrasi ke arah pemulihan keamanan di Jawa Barat. Kemudian, lahirlah konsep Perang Wilayah (sudah disahkan dengan Ketetapan MPRS No. II/MPRS/1960).
Rencana Penumpasan DII/NII
Sementara itu, penelitian tentang kontra gerilya berjalan terus. Salah satu hasil penelitian kontra gerilya, keluarlah Rencana Pokok 211 (RP 211) yang tertuang dengan kata kunci jitu berbunyi: ”Membatasi gerak dari lawan”.

Menyesuaikan dengan mobilitas DI/TII, maka keluarlah pada waktu itu Rencana Operasi 212 pada 1 Desember 1959. Kemudian bulan Februari 1961 dikeluarkan Rencana Operasi 2121 (RO 2121) yang merupakan percepatan dari RO 212, isinya berupa kebijaksanaan bahwa pemulihan keamanan untuk wilayah Jawa Barat akan diselesaikan dalam jangka waktu itu atau hanya sampai tahun 1965. 

Rencana Pokok (RO) yang dihasilkan dari rentetan rencana oprasi yang di rencanakan pemerintah itu kemudian menghasilkan sebuah oprasi penumpasan yang diberi nama “Oprasi Pagar Betis atau Oprasi Bratayuda”.

Dinamakan Pagar Betis karena oprasi itu dilakukan dengan memagari hutan-hutan yang dijadikan persembuyian anggota DII/TII dengan penjagaan ketat pada waktu malam sehingga anggota DII/TII pada malam hari tidak bisa keluar hutan, sedangkan dalam siang harinya TNI melakukan pengejaran dan Pemburuan terhadap anggota DII/TII masuk kedalam hutan, dinamakan juga dengan oprasi Bratayuda karna pada dasarnya perang tersebut menggambarkan perang saudara antar sesama saudara sendiri, sebagaimana perang bratayuda dalam kisah Mahabarata.

Oprasi pagar betis dalam menumpas gerakan DII/TII di Indramayu melibatkan ribuan rakyat Indramayu, rakyat Indramayu dari tiap-tiap desa yang muda-muda dibawa tentara untuk ikut serta mengepung DII/TII yang berembunyi di hutan. 

Hutan yang dijadikan persembunyian Anggota DII/TII waku itu adalah Hutan Loyang yang sekarang masuk pada wilayah Kecamatan Cikedung Indramayu. 
Hutan Loyang Markas DII-NII Di Indramayu
Oprasi pagar betis yang dilakukan TNI dan rakyat Indramayu tersebut kemudian berhasil dan banyak menumpas anggota DII/TII yang bersembunyi di hutan loyang, meskipun banyak juga rakyat dan TNI yg menjadi korban. 

Dan ketika pada tahun 1962 Amir DII Soekarmadji Maridjan Kartosoewirjo tertangkap di Gunung Geber Majalaya (Arah selatan Bandung) oleh TNI dari divisi Siliwangi, kemudian sisa-sisa DII/TII di seluruh Jawa Barat termasuk di Indramayu kemudian menyerahkan diri.

Meskipun demikian banyak juga diantara mereka yang tidak mau menyerahkan diri kemudian memilih menghilangkan jati diri dan berbaur lagi dengan masyarakat.
 

Start typing and press Enter to search