Pemberontakan PKI Di Cirebon Serta Bukti Sisa-Sisa Pembantaiannya

- Juni 10, 2017
PKI pada dasarnya adalah wadah dari orang-orang Indonesia yang berpaham dan berita-cita mendirikan Negara Indonesia berdasarkan idiologi Komunis. PKI sendiri bermaksud Partai Komunis Indonesia. Melalui partai inilah orang-orang Komunis Indonesia memperjuangkan cita-citanya.

Baca Juga : Tujuan Partai Komunis Indonesia

Dalam sejarah Indonesia bahwa yang memperjuangkan Indonesia merdeka secara garis besar terdiri dari jenis manusia-manusia dengan idiologinya masing-masing, secara umum digolongkan menjadi tiga kelompok (1) Kelompok Nasionalis Ala Barat (2) Kelompok Komunis Ala Uni Soviet dan (3) Kelompok Agamis. Ketiga kelompok ini dalam prakteknya bererbut pengaruh dalam menentukan Idiologi Negara Indonesia. 

Dari ketiga kelompok tersebut ternyata tidak satupun yang sukses membentuk falsafah landasan negara Indonesia. Semuanya mentah dan kalah yang menang adalah tarik ulur kelompok ketiga di atas sehingga menghasilkan kelompok baru yang disebut Nasionalis Agamis. 

Kelompok Nasionalis Agamis inilah kemudian yang pada nantinya melahirkan Pancasila dan UUD 45 nya, yag kemudian dijadikan falsafah dan landasan Negara Indonesia merdeka. 

Meskipun Kelompok Nasionalis, Komunis dan Agamis telah bersatu sehingga mereka menjadi Nasionalis Agamis yang melahirkan Pancasila, akan tetapi dari ketiga kelompok tersebut banyak juga yang memilih membangkang, mempertahankan egonya untuk mendirikan Negara sesuai idiologinya masing-masing.

Baca Juga: Pemberontakan Negara Islam Indonesia DII/TII Di Indramayu
Pembangkangan dan Pemberontakan Komunis setelah disahkannya Falsafah Negara yang Panasila dan UUD 45 nya itu terjadi diberbagai tempat di Indonesia salah satunya di Cirebon. 

Sebelum terjadi peristiwa pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948, PKI ternyata lebih dulu melakukan Pemberontakan di Cirebon kejadian tersebut terjadi pada 12 Februari 1946. Adapun pembentukan Cabang PKI Cirebon sendiri terjadi pada 7 November 1945, sedangkan yang menjadi ketuanya adalah Mohamad Joesoef dan Suprapto. Meskipun demikian Cabang PKI Cirebon ini tidak diakui oleh Orang-orang komunis yang berhaluan moderat ( Yang Menyetujui Pancasila/Yang Telah menjadi Nasionalis Agamis).

PKI Cirebon pimpinan Mohamad Joesoef dan Suprapto mendatangkan Laskar (tentara) Merah PKI dari Jawa Tengah dalam upaya melakukan kudeta lokal di Cirebon, para Laskar Merah PKI tersebut tiba di Stasiun Kereta Api Cirebon pada 9 Februari 1946 dengan bersenjata lengkap, dan pada 12 Februari 1946 menginap di Hotel Ribrink, berlokasi persis sebelah utara alun-alun Kejaksan hotel ini kemudian dijadikan markas PKI Cirebon.
Markas PKI Cirebon Hotel Ribink-Phoenix
Mendengar kabar mengenai Laskar Merah PKI yang datang ke Cirebon dengan persenjataan lengkap, Polisi Tentara Cirebon Letda D Sudarsono datang ke stasiun menemui seorang bintara jaga untuk memastikan kebenaran isu tersebut namun sesampainya di stasiun, Letda D Sedarsono disambut dengan tembakan-tembakan. Ia dikepung oleh pasukan Laskar Merah yang akhirnya ditawan. Selanjutnya, dalam upaya PKI menguasai pemerintahan, kekuatan bersenjata di Cirebon dilucuti, tentara ditangkap dan dijadikan tawanan.


Seluruh kota dikuasai oleh Laskar Merah. Tindakan-tindakannya semakin brutal, merampok dan menguasai gedung-gedung vital. Untuk mengatasi aksi-aksi PKI ini, Panglima II/Sunan Gunung Jati, Kolonel Zainal Asikin Yudadibrata segera mengambil tindakan. 

Ia mengirim utusan untuk berunding dengan Mohamad Joesoef di Hotel Ribrink. Dalam perundingan tersebut Pihak berjanji akan menyerahkan senjata-senjata hasil rampasan esok harinya, tetapi janji ini tidak ditepati.

Karena perundingan gagal, Panglima Divisi II meminta bantuan pasukan dari Komandan Resimen Cikampek untuk dikirim ke Cirebon, maka dikirim 600 prajurit Banteng Taruna dipimpin Mayor Banuhadi. 

Akhirnya pada tanggal 13 Februari  1946 dilakukan penyerbuan yang pertama oleh pasukan gabungan dari TRI (Polisi Tentara Indonesia), yang mana tujuannya merebut Hotel Ribink yang dijadikan markas PKI. Penyerbuan yang pertama ini gagal, karena persenjataan di pihak TRI dan kawan-kawan kurang. Sedangkan senjata musuh lengkap. Pada 14 Februari 1946, dilakukan penyerbuan yang kedua kali yang dipimpin langsung oleh Komandan Resimen Cikampek, Kolonel Moefreini Moekmin. 

Hasilnya, mereka berhasil melumpuhkan PKI, sehingga pasukan PKI menyerah. Pimpinan pemberontak, Mohamad Joesoef dan Suprapto berhasil ditangkap, kemudian diajukan ke pangadilan tentara. 

Meskipun kisah pemberontakan PKI Cirebon ini diakhiri dengan dijebloskanya pimpinan PKI Cirebon Mohamad Joesoef dan Suprapto ke pangadilan tentara sejauh ini belum ada kisah lanjutan mengenai nasib keduanya, apakah dihukum mati atau bagaimana nasib keduanya atas ulah tindakan makarnya tersebut. 

Yang jadi ganjalan selanjutnya adalah, jika pimpinanya diadili, lalu bagaimana nasib laskar merah yang turut serta dalam usaha makar tersebut, bukankah jumlahnya ratusan atau bahkan ribuan ?

Di timur Cirebon, tepatnya di desa Rawaurip Kecamatan Pangenan ada tradisi lokal yang didapat dari sumber-sumber perkataan orang tua dahulu dinyatakan bahwa didesa tersebut konon sempat terjadi peristiwa eksekusi hukuman mati pada kader-kader PKI. 
Pantai Desa Rawaurip Pangenan Cirebon
Secara georgrafis memang desa ini mempunyai pantai sehingga cocok untuk melakukan eksekusi mati. Namun kisah ini tidak jelas juntrungannya apakah yang dimaksud kader PKI tersebut era tahun 1946 yang melakukan kudeta di Cirebon atau aktifis PKI yang diberantas pada rezim Orde Baru.


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search