Pertarungan Ki Gede Tegalgubung Vs Ki Gede Susukan (Keruntuhan Kerajaan Sindangkasih)

- Juli 24, 2017
Pada mulanya baik Ki Gede Susukan maupun Ki Gede Tegal Gubung adalah sahabat seperguruan dan keduanya merupakan murid Sunan Gunung Jati yang kemudian ditugaskan memerintah di Desa Susukan dan Tegal Gubung. Meskipun kedua-duanya murid Sunan Gunung Jati, akan tetapi aroma persaingan diantara keduanya dalam segala hal begitu tinggi.

Ketika Cirebon dalam masa kejayaanya, negeri-negeri disekeliling Cirebon menghaturkan sembah bakti sebagai tanda takluk kepada Cirebon, namun demikian disamping ada negeri-negeri yang secara sukarela bersedia dibawah pemerintahan Cirebon, ada juga negeri-negeri yang tidak mau tunduk kepada Cirebon dan memilih berperang ketimbang menjadi bawahan Cirebon, salah satu Negeri itu adalah Sindangkasih. Waktu itu yang yang menjadi Raja di Sindangkasih bernama Dalem Digja.

Melihat pembangkangan Sindangkasih terhadap Cirebon, Ki Gede Tegalgubung kemudian mengajukan diri untuk menaklukan Sindangkasih kepada Sunan Gung Jati.

Melihat gebrakan-gebrakan ambisius  Ki Gede Tegalgubung, Ki Gede Susukan tidak mau tinggal diam, belu juga kemudian mengajukan diri kepada Sunan Gunung Jati agar juga di ijinkan untuk dapat menaklukan Sindangkasih. Ki Gede Susukan pun kemudian mendapatkan ijin.

Tentara Cirebon yang dipimpin oleh Ki Gede Tegalgubung dan Ki Gede Susukan kemudian berangkat menuju Sindangkasih. Para tentara Sindangkasih pun tidak tinggal diam, mendengar berita Cirebon akan menyerang, Dalem Digja selaku Raja Sindangkasih mengumpulkan tentara kerajaannya untuk bersiap menghadapi serangan Cirebon.

Perang kemudian pecah, mayat-mayat dari kedua belah pihak bergelimpangan, bau anyir amis darah membumbung dilangit Sindangkasih. Sindangkasih waktu itu seperti gelap tak bermentari. Itulah tanda bahwa seluruh tentara Sindangkasih dapat dikalahkan oleh Cirebon.

Mendapat kabar, seluruh tentaranya tak sanggup membendung tentara Cirebon, sang Raja Sindangkasih pun kemudian melarikan diri dari Istananya, moksa tanpa bekas. Mulailah setelah itu Sindangkasih resmi dibawah naungan pemerintahan Cirebon.

Setelah mendapatkan kemenangan di medan perang, tentara Cirebon yang dipimpin Ki Gede Tegalgubung dan Ki Gede Susukan kemudian merangsek masuk kedalam Istana, dan benar saja keduanya tidak mendapati Sang Raja. Namun demikian didalam Istana keduanya menemukan 2 Putri sang Raja yang tertinggal tidak ikut melarikan diri (moksa). Kedua Puteri Raja itu bernama Raras dan Riris.

Setelah memperoleh kemenangan gemilang, pasukan Cirebonpun kemudian kembali lagi ke Cirebon dengan membawa banyak rampasan perang, dan juga sekaligus memboyong Puteri Raras dan Riris.

Mengingat jauhnya jarak tempuh dari Sidangkasih menuju Cirebon serta kadaan yang tidak memungkinkan karena datanggnya gelapnya malam, Ki Gede Tegal Gubung kemudian membuat perkemahan dan menyuruh seluruh tentara yang telah memenangkan peperangan tersebut beristirahat sebelum melanjutkan peralanan kembali ke Cirebon ke esokan harinya.

Dalam perkemahaan tersebut, timbulah niat dalam diri Ki Gede Susukan untuk sesegera mungkin bertolak ke Cirebon untuk mengabarkan kemenangannya kepada Sultan Cirebon, kemudian Ki Gede Susukan beserta orang-orang Susukan prajuritnya itu meninggalkan Ki Gede Tegal Gubung yang masih dalam perkemahan.

Sementara itu ketika Ki Gede Susukan pergi berangkat ke Cirebon, Ki Gede Tegal Gubung dalam perkemahannya tak kuat iman melihat kecantikan Putri Rara dan Riris, hinggalah kemudian kedua Puteri Raja Sindangkasih itupun kemudian disetubuhinya.

Diceritakan kemudian, setelah Ki Gede Susukan seba menghadap Sunan Gunung Jati, beliau dengan bangga mengabarkan akan kemenangannya menundukan Sindangkasih, dan bahkan cenderung membaggga-banggakan dirinya dan pasukannya, serta merasa diri dan pasukannya paling berkiprah atas kemenangan tersebut.

Selang beberapa lama kemudian Ki Gede Tegal Gubung bersama pasukanya tiba di Cirebon, dan menceritakan segala apa yang terjadi dalam medan pertempuran, Ki Gede Tegal Gubungpun kemudian menyerahkan seluruh harta rampasan perang kepada Sultan tak terkecuali Puteri Rara dan Riris. Namun demikian karena pada hakekatnya Sunan Gunung Jati Sudah mengetahui kabar bahwa Ki Gede Tegal Gubung telah berbuat nista kepada sang puteri, maka Sunan Gung Jati memerintahkan kedua putri itu untuk dibawa serta Ki Tegal Gubung.

Pulanglah kemudian Ki Gede Tegal Gubung sambil membawa serta kedua Puteri kerajaan Sindangkasih tersebut. Sementara itu, merasa dirinya tak membawa apa-apa setelah penaklukan Sindangkasih, Ki Gede Susukan memohon ijin kepada Sunan Gunung Jati agar supaya salah satu dari kedua puteri itu diperuntukan baginya. Sunan Gunung Jati kemudian tidak memberi jawaban apapun dan hanya menyuruh Ki Gede Susukan untuk meminta sendiri kepada Ki Gede Tegal Gubung.

Setelah  mendapatkan jawaban dari Sunan Gung Jati, kemudian Ki Gede Susukan berangkat menuju kediaman Ki Gede Tegal Gubung untuk meminta salah satu Puteri Raja itu, namun demikian Ki Gede Tegal Gubung menolak, karena menurutnya kedua putri itu adalah haknya, dan lagipun Ki Gede Tegal Gubung berniat mengawini keduanya.

Mendengar jawaban Ki Gede Tegal Gubung yang kurag bersahabat dan berwatak tamak itu, kemudian Ki Gede Susukan marah berbesar hingga kemudian menantang Ki Gede Tegal Gubung untuk melakukan perang tanding, dengan syarat jika Ki Gede Susukan Kalah dalam pertarungan, ia rela tidak memiliki salah satu putri, tapi jika Ki Gede Tegal Gubug kalah maka harus menyerahkan salah satu puteri tersebut.

Mendengar tantangan tersebut kemudian gengsi Ki Gede Tegal Gubung sontak melejit, karena baginya seorang kesatria sejati pantang mudur bila ditangtang bertarung.

Pertarungan keduanya kemudian digelar, keduanya saling pukul, tendang, banting dan mengeluarkan jurus-jurus silat andalannya, namun demikian ternyata dalam pertarungan tersebut Ki Gede Tegal Gubung berhasil mengalahkan Ki Gede Susukan.
Setelah peristiwa kekalahan Ki Gede Susukan dalam pertarungan merebutkan Putri Rara dan Riris itu, kemdudian Ki Gede Susukan bersumpah, dan memberi himabaun kepada rakyatnya di Susukan, himbauannya adalah "Agar jangan ada orang Susukan yang mau mengawini orang Tegal Gubung dan bagi rakyat Susukan yang melanggar titah ini, maka Ki Gede Susukan mengutuk perkawinan keduanya". Itulah asal-muasal mengapa orang susukan tidak mau mengawini orang-orang Tegal Gubung.

Kisah di atas merupakan kisah legenda masyhur di Cirebon, kisah ini tertulis dalam Naskah Mertasinga pada pupuh XLX-L.17 Adapun letak Kerajaan Sindang Kasih diperikirakan sekarang berada di Desa Sindang Kasih Kecamatan Beber Kabupaten Cirebon. Nama Kerajaan Ini disebut-sebut dalam naskah-naskah Cirebon lainnya merupakan Kerajaan bawahan Galuh (Kerajaan Sunda Timur).


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search