Mantri Lěs Dan Beleteng Panglima Perang Majapahit Dalam Invasi Ke Sunda

- Februari 01, 2018
Gajahmada, pernah bersumpah ketika ia dilantik menjadi Mahapatih Amangkubumi, ia bersumpah katanya "Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa[1]". Yang maksudnya Gajahmada tidak akan berhenti puasa apabila ia, belum menaklukan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik kedalam kekuasaan Majapahit. 

Dalam sumpahnya itu jelas, Sunda merupakan wilayah sasaran yang mesti ditaklukan olehnya, dengan demikian ketika waktu yang direncanakan telah tiba, Gajahmada kemudian memerintahkan pasukannya untuk melakukan penaklukan ke Kerjaan Sunda. Dalam upaya invasi itu Gajahmada mengutus Mantri Lěs Dan Beleteng  sebagai komandan perangnya.

Dengan demikian Mantri Lěs Dan Beleteng adalah dua panglima perang Majapahit yang ditugaskan negaranya untuk menaklukan Kerajaan Sunda Galuh. Penyerbuan tersebut dikisahkan dilakukan dengan besar-besaran, areal pertempuran digelar di perbatasan Kerajaan Sunda Galuh, sementara tempat laga saling adu pedang dan panahnya berlangsung di padang luas yang berbukit-bukit. Peristiwa tersebut terjadi sebelum peristiwa perang bubat. 

Serbuan Majapahit ke Sunda yang dipimpin oleh Mantri Lěs Dan Beleteng ini merupakan rentetan Invasi terakhir yang dilakukan Majapahit ke Kerajaan Sunda Galuh. Setelah peristiwa ini Majapahit kapok dan memilih melakukan cara lain untuk melakukan penaklukan terhadap kerajaan Sunda Galuh. 

Dalam perang terakhir yang menentukan nasib, dikisahkan Pasukan Sunda dapat meggempur habis-habisan tentara Majapahit, Mantri Lěs Dan Beleteng keduanya tersungkur bersimbah darah setelah terkena tebasan parang yang disabetkan Patih Sunda. 

Mendapati kedua panglima perangnya meregang nyawa, konsentrasi prajurit Majapahit menjadi buyar, mereka kemudian berlari mundur menyelamatkan diri, akan tetapi, Pasukan Sunda yang sudah terlanjur memuncak amarahnya itu, terus mengejar pasukan Majapahit yang melarikan diri, pengejaran dilakukan dengan kesungguhan. 

Pelarian Prajurit Majapahit itu kemudian terhenti setelah mereka mengetahui diepannya ternyata jurang yang curam. Sementara dalam keadaan itu di belakang mereka berbaris ribuan Prajurit Sunda yang siap menebas mereka.  Sungguh tidak ada pilihan lain bagi Prajurit Majapahit, pilahanya cuma dua Mati melawan Prajurit Sunda, atau cacat karena terjun ke jurang. 

Tetara Majapahit terbagi dua ada yag degan gagah berbalik ke Belakang untuk melakukan perlawanan terakhir meski harus mati, semetara sisanya lebih memilih melompati Jurang dengan rasa ketakutan yang mendalam. 

Dalam peperangan yang berkecamuk itu satu demi satu Parajurit Majapahit gugur berkalang tanah, sebagianya lagi melompat ke jurang. Adapun sebagaian kecilnya mereka meletakan pedang dan senjata mereka kemudian meminta pengampuan, agar mereka dijadikan tawanan dan jangan dibunuh. 

Demikianlah kisah mengenai Invasi Majapahit yang gagal. Kegagalan invasi tersebut dikisahkan karena Prajurit Sunda begitu tangguh. Kisah di atas tersebut dikisahkan dalam Kindung Sunda. Adapun alih aksara dan terjamah Kidung Sunda yang membahas mengenai itu adalah sebagai berikut:

Alih Aksara [2]

"Ih angapa, Gajah Mada, agung wuwusmu i kami, ngong iki mangkw angaturana sira sang rajaputri, adulurana bakti, mangkana rakwa karěpmu, pada lan Nusantara dede Sunda iki, durung-durung ngong iki andap ring yuda. 
Abasa lali po kita nguni duk kita aněkani jurit, amrang pradesa ring gunung, ěnti ramening yuda, wong Sunda kagingsir, wong Jipang amburu, praptâpatih Sunda apulih, rusak wadwamu gingsir. 
Mantrimu kalih tinigas anama Lěs Beleteng angěmasi, bubar wadwamu malayu, anânibani jurang, amurug-murug rwi, lwir patining lutung, uwak setan pating burěngik, padâmalakw ing urip. 
Mangke agung kokohanmu, uwabmu lwir ntuting gasir, kaya purisya tinilar ing asu, mengkene kaharěpta, tan pracura juti, ndi sasana tinutmu gurwaning dustârusuh, dadi angapusi sang sadubudi, patitânêng niraya atmamu těmbe yen antu".

Terjamah[3]
“Wahai Gajah Mada, apa maksudnya engkau bermulut besar terhadap kami? Kami ini sekarang ingin membawa Tuan Putri, sementara engkau menginginkan kami harus membawa bakti sama seperti dari Nusantara. Kami lain, kami orang Sunda, belum pernah kami kalah berperang. 
Seakan-akan lupa engkau dahulu kala, ketika engkau berperang, bertempur di daerah-daerah pegunungan. Sungguh dahsyat peperangannya, diburu orang Jipang. Kemudian patih Sunda datang kembali dan bala tentaramu mundur. 
Kedua mantrimu yang bernama Lěs dan Beleteng diparang dan mati. Pasukanmu bubar dan melarikan diri. Ada yang jatuh di jurang dan terkena duri-duri. Mereka mati bagaikan kera, siamang dan setan. Di mana-mana mereka merengek-rengek minta tetap hidup. 
Sekarang, besar juga kata-katamu. Bau mulutmu seperti kentut jangkrik, seperti ta*hi anjing. Sekarang maumu itu tidak sopan dan berkhianat. Ajaran apa yang kau ikuti selain engkau ingin menjadi guru yang berdusta dan berbuat buruk. Menipu orang berbudi syahdu. Jiwamu akan jatuh ke neraka, jika mati!”
Penggalan kandungan Kidung Sunda sebagaima di atas tersebut merupakan percakapan antara Gajah Mada dengan Patih Kerajaan Sunda ketika berada di Bubat, waktu itu niat Raja Sunda ingin menikahkan anaknya Dyah Pitaloka dengan Raja Hayam Wuruk. Tapi Gajah mada mencegatnya dan memaksa Rombongan Raja Sunda untuk mengakui takluk terhadap Majapahit. Sehingga dengan amarah yang besar Patih Sunda justru mengumpat Gajah Mada serta menyinggung peristiwa Invasi Majapahit ke Sunda yang berakhir dengan kegagalan. 

Catatan Kaki
[1] Sumpah ini dalam sejarah dikenal dengan nama sumpah Palapa
[2] Alih Aksara Kidung Sunda diperoleh dari Wikipedia
[3] Ibid


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search