Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Rara Oyi, Pemikat Raja Dan Putera Mahkota Kesultanan Mataram

Rara Oyi pada mulanya adalah gadis belia yang dijual ayahnya, waktu itu umurnya 11 tahun, ia dijual kepada utusan Kerajaan Mataram yang mencari wanita cantik untuk dijadikan selir Susuhunan Amangkurat I, Raja Mataram yang baru ditinggal wafat salah satu Permaisurinya. Tapi, Raja rupaya menolak, sebab Rara Oyi masih kanak-kanak. 

Raja kemudian menitipkan Rara Oyi kepada Ngabai Wirareja untuk dibesarkan, sebelum kemudian dinikahinya. Tapi sial, baru hitungan beberapa bulan, Rara Oyi dibawa lari Putera sang Raja, ia tak kuasa menahan kecantikan Rara Oyi. Mataram pun kemudian geger, sebab Istri calon Rajanya, diculik putera Mahkota.

Susuhunan Amangkurat I memiliki dua orang permaisuri. Putri Pangeran Pekik dari Surabaya menjadi Ratu Kulon yang melahirkan Raden Mas Rahmat, kelak menjadi Raja Pertama Kasunanan Surakarta. 

Sedangkan putri keluarga Kajoran menjadi Ratu Wetan yang melahirkan Raden Mas Drajat, kelak menjadi Raja pertama Kasultanan Yogyakarta. Adapun Putera Amangkurat I yang menculik Rara Oyi itu adalah Raden Mas Rahmat. 

Mendapati penculikan calon Istrinya, rupanya murka Susuhunan Amangkurat I tidak bisa dibendung, apalagi ketika beliau mengetahui aktor dibalik penculikan itu adalah puteranya sendiri. Ia merasa di injak-injak harga dirinya. Ia juga kemudian memerintahkan untuk membunuh semua orang yang terlibat dalam penculikan, sekaligus juga menangkap hidup-hidup Rara Oyi dan Putera Mahkota. 

Sementara itu dalam pelarian Raden Mas Rahmat dikisahkan menikahi Rara Oyi, keduanya hidup bahagia saling mencintai. Tapi kisah indah antara pangeran yang dimabuk cinta dengan calon istri bapaknya itu tidak berlangsung lama. Sebab keduanya kemudian berhasil ditangkap untuk kemudian diseret kemuka Raja. 

Meskipun terkenal kejam pada para pembangkang, Tapi begitulah Amagkurat I, dalam hatinya yang terdalam, sebenarnya ia tak kuasa membunuh darah dagingnya sendiri. Tapi demi tegaknya wibawa Raja dimata khalayak, Ia kemudian memerintahkan anaknya Raden Mas Rahmat agar membunuh Rara Oyi degan cara meminumkan Racun padanya, jika Putera Mahkota ingin di ampuni oleh Raja. Pada mulanya Raden Mas Rahmat menolak perintah Raja, sebab ia sangat mencintai Rara Oyi. 

Tapi Raja justru mengancam, jika Raden Mas Rahmat tidak mau membunuh Rara Oyi, maka ia pun akan dibunuh, sebagai hukuman atas penculikian calon istri Raja. Rara Oyi menjerit, ia tak mau Raden Mas Rahmat ikut dibunuh, ia memohon kepada Mas Rahmat agar mau membunuhnya. Dengan terpaksa, Raden Mas Rahmat kemudian meracuni kekasih hatinya sendiri. Meski ia merasa sakit. Rara Oyi pun kemudian meninggal dunia.

Meskipun Raden Mas Rahmat terbebas dari hukmuan mati, tapi Amangkurat I kemudian melucuti jabatannya sebagai putera Mahkota, ia kemudian dibuang ke suatu daerah yang bernama Lipura. Dalam masa pembuangan ini, dendamnya kepada orang tuanya terus membara, Mas Rahmat dengan harta simpanan yang dimilikinya  kemudian membiyayai pemberontakan yang digagas oleh Raden Trunojoyo.

Pemberontakan itu kelak menghancurkan Kerajaan Mataram. Semetara Amangkurat I wafat dalam pelarian, setelah sebelumnya Istana Kerajaan direbut oleh Trunojoyo. Peristiwa kewafatan Amangkurat I itu terjadi pada tahun 1667. Pada tahun itu juga secara Tradisional ditandai sebagai tahun keruntuhan Kesultanan Mataram.

Referensi
[1] De Graaf, H.J., 1987. Desintegrasi Mataram Di Bawah Mangkurat I, Grafiti Press:Jakarta.
[2] De Graaf, H.J., 1987. Awal Kebangkitan Mataram, Grafiti Press: Jakarta