Kisah Buaya Buntung Dari Bantar Kaphetakan

- Juni 30, 2018
Jika buaya pada umumnya menyukai daging tanpa pandang bulu, apakah daging domba, kerbau, rusa dan sebagainya, maka tidak demikian dengan buaya buntung, ia hanya menyukai daging prawan yang molek-molek saja.

Kisah buaya buntung dari Bantar Kaphetakan yang sekarang menjadi desa Kapetakan itu gegernya sampai Ibu Kota Kerajaan Cirebon. Bahkan saking kronisnya Sunan Gunung Jati menerjunkan murid tercantiknya Rara Bagdad untuk memancing buaya buntung yang suka menculik para prawan cantik itu untuk keluar dari persembunyiannya.

Bantar Kaphetan merupakan nama lain dari rawa-rawa yang dipenuhi air, disinilalah tempat buaya buntung itu bersembunyi. Wilayah bantar kaphetakan pada masa itu merupakan wilayah kekuasan Ki Gede Bungko. Salah satu pejabat Kerajaan Cirebon yang diberi kekuasaan di Desa Bungko dan sekitarnya.

Suatu hari Ki Gede Bungko digegerkan oleh peristiwa yang menurutnya memusingkan, sebab setiap malam tiba rakyatnya terutama yang memiliki anak gadis disatroni seorang laki-laki yang tak dikenal. Kejadian itu terus berulang-ulang hingga banyak Prawan yang menjadi korban keganasan laki-laki itu.
Meskipun telah dilakukan ronda dan penjagaan keamanan di desa-desa dibawah kekuasaan Ki Gede Bungko, tapi rupanya gerakan laki-laki playboy atau yang dalam bahasa Cirebon disebut Buaya Buntung itu tetap tidak terpantau. Ia tetap berhasil menyatroni para prawan yang di incarnya.

Mendapati kaeadaan itu, Ki Gede Bungko kemudian melaporkan kejadian di desanya itu kepada Sultan Cirebon yang kala itu dijabat oleh Sunan Gunung Jati. Mendapati laporan itu Sunan Gunung Jati kemudian memerintahkan murid wanitanya yang bernama Rara Bagdad untuk menangkap buaya buntung yang misterius itu.

Sunan Gunung Jati kemudian dikisahkan menyusun sebuah rencana penangkapan, Rara Bagdad diperintahkannya untuk membuka Sayambara pencarian jodoh, ia diperintahkan untuk menantang seluruh pembesar Cirebon dan luar Cirebon untuk bertarung dengannya, siapa saja yang dapat mengalahkannya maka berhak untuk mengawininya.

Sayambara model pencarian jodoh bagi wanita-wanita sakti di Cirebon ini memang sudah tradisi, sama seperti kisah pencarian jodohnya Nyimas Gandasari.
Baca Juga : Nyimas Gandasari, Prawan Sunti Nan Sakti
Singkat cerita, banyak para pembesar Cirebon dan luar Cirebon yang datang untuk mengikuti sayambara ini, dalam sayambara itu, tidak ada satupun para pembesar Cirebon yang mampu mengalahkan Rara Bagdad, semuanya mentah dan terkalahkan.

Mendapati semua yang mengikut sayambara terkalahkan Rara Bagdad kemudian menantang kepada siapa saja yang hadir untuk ikut dalam sayambara, dalam kondisi itulah kemudian sosok pria misterius muncul, ia adalah Buaya buntung yang sering menggangu penduduk Bungko.

Pria misterius itu kemudian bertarung dengan Rara Bagdad di atas arena, ia rupanya sakti, kesaktiannya dikisahkan luar biasa, Rara Bagdad terdesak, dalam kondisi terdesak itulah ia kemudian melarikan diri, terus melarikan diri hingga sampai ke hadapan Sunan Gunung Jati. 

Mengetahui buruannya melarikan diri buaya buntung  mengejar, dan terus mengejar, hingga pengejarannya terhenti karena ia mendapati Rara Bagdad berada disamping Sunan Gunung Jati.

Buaya Buntung itu pun kemudian di tangkap, dan setelah ditangkap ia kemudian dijatuhi tuduhan menggangu ketertiban Desa Bungko dengan cara menggangu para gadis-gadisnya. 

Pada mulanya pria misterius itu membantah, akan tetapi karena karomahnya Sunan Gunung Jati, ia pun dikisahkan mengakui, dan bahkan menangis karena sudah melakukan perbuatan yang tak bermoral. Ia kemudian tobat, dan memeluk Islam dihadapan Sunan Gunung Jati.

Buaya Buntung, atau seorang laki-laki Palyboy itu dikenal dengan nama Pangeran Puti. Selepas peristiwa itu Pangeran Puti kemudian dimaafkan dan dibiarkan hidup di Bantar Kapethakan. 

Bantar Kaphetakan kini menjadi sebuah desa yang dikenal dengan Desa Kapetakan. Nama Kapetakan juga kini dijadikan nama Kecamatan di wilayah itu. Desa ini terletak di utara Cirebon.

Informasi mengenai kisah Pangeran Puti yang suka menyatroni para Perawan itu dapat kita jumpai dalam Naskah Mertasinga Pupuh XXXVII.01-08. Dalam naskah ini Pangeran Puti digambarkan dengan bahas a kiasan, dia diumpamakan sebagai seorang laki-laki yang dianugerahi kesaktian luar biasa, sebab ia mampu hidup di air, ia tinggal di kedalaman air Bantar Kaphetakan, merajai 40 buaya jadi-jadian. 

Pangeran Puti sendiri dalam naskah ini digambarkan sebagai keturunan Syekh Syamsu Trambas, anak dari Syekh Mustaqim. Meskipun demikian ia juga digambarkan bukan sebagai pemeluk Islam, oleh karena itulah kemudian di Islamkan oleh Sunan Gunung Jati.


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search