Kisah Tergila-gilanya Siti Khadjah Pada Baginda Nabi Muhammad

- Agustus 15, 2018
Selepas baginda lamaranya ditolak oleh ayah kekasih hatinya sebagaimana yang telah dikisahkan dalam artikel “Ummu Hani Cinta Pertama Baginda Nabi Muhamad”, beliau kemudian bangkit menyongsong hidup, beliau tetap mengembala kambing milik orang kaya di Mekah, hari-harinya disibukan dengan bekerja dan memahami hidup melalui perenungan, sampai suatu ketika beliau kemudian diminta untuk menjadi karyawan Kontrak untuk berdagang ke luar Mekah oleh Khadjah, sorang saudagar wanita terkaya di Mekah. Waktu itu memang Khadjah membutuhkan Karyawan dadakan, lagipun berdasarkan rekomendasi teman-teman bisnisnya, Muhamad lah yang cocok dijadikan sebagai Karyawan, selain berlatar belakang dari keluarga Bani Hasyim yang agamis, beliau juga dikenal akan kejujurannya.
Pengalaman inilah, yang menjadikan baginda semacam saudagar dadakan, beliau memang sebelumnya tidak pernah berdagang apalagi mengepalai rombongan perdagaan keluar Negeri. Profesinya sebagai pengembala kambing kemudian ditinggalkannya sejenak, demi untuk mendapatkan kesempatan mempelajari ilmu perdagangan dan menyusuri luasnya dunia.

Munurut Ibnu Ishaq, Khadijah pada mulanya membutuhkan orang jujur untuk menjajakan dagangannya ke Syam, beliau mendapatkan nama dan kejujuran Muhamad dari berita-berita yang berkembang di Mekah, oleh sebab itu kemudian ia mengutus seorang pembantunya untuk meminta Muhamad menjadi karyawannya dengan iming-iming imbalan yang besar, akan tetapi syaratnya dalam perdagangan itu ia nantinya akan ditemani oleh Maysarah, seorang pegawai dan pembantu kepercayaan Khadijah. Meskipun namanya seperti perempuan Maysarah ini adalah seorang laki-laki.

Pada saat melakukan kegiatan perdagangan di Syam, Mayasrah rupanya tercengang dengan perilaku Baginda, ia mengagumi kecakapan Nabi dalam berdagang, ditambah-tambah kagum juga pada kejujurannya. Gaya dagang Nabi di Syam ini kemudian mengantarkannya disukai pembeli, hingga barang dagangan yang dijualnya berlipat-lipat keuntungannya bahkan ludes terjual. Inilah yang membuat kagum Maysarah.
Setelah barang dagangan habis, pulanglah keduanya ke Mekah, dan ketika di Mekah inilah, Maysarah yang memang dari semula diterjunkan sebagai mata-matanya Khadijah ini menceritakan kepada tuannya tentang perilaku baginda Nabi selama berjualan. Disinilah awal mula benih-benih Cinta Khadijah muncul, sebab perkataan Maysarah ini bukan tanpa bukti, ada buktinya, yaitu melimpahnya keuntungan yang didapat dalam perdagangan.

Saban hari rupanya Khadijah memikirkan tentang baginda, ia kagum, hingga kemudian kekagumannya itu, mengantarkanya untuk curhat kepada teman baiknya yaitu, Nafisah binti Munyah. Dalam pergerumulan curhatan dua sahabat itu, akhirnya disepakati Khadijah harus segera memiliki Muhamad, sebab jika tidak, Muhammad kemungkinan akan menikah dengan orang lain. Oleh karena itu Khadijah menguts Nafisah binti Munyah untuk menyampikan keinginanya kepada  Muhamad.
Pada zaman itu sebenarnya tidak lazim seorang perempuan menyatakan keinginan menikahi laki-laki tertentu langsung kepada laki-laki yang dituju, ini gambaran bahwa Khadijah pada dasarnya tergila-gila pada pribadi Baginda.

Nafisah binti Munyah kemudian dikisahkan menemui Baginda dan menyampaikan keinginan sahabat baiknya itu untuk mengajak Baginda menikah, tawaran ini kemudian diterima oleh Baginda. Beliau kemudian melaoprkan kejadian itu kepada pamannya Abu Thalib, terang saja pamannya ini terkejut, sebab Khadijah itu selain cantik juga merupakan perempuan cerdas sekaligus terkaya di Mekah, banyak pembesar Qurays yang lamaranya ditolak oleh Khadijah, sedangkan keponakannya justru malah diajak menikah oleh Khadijah.

Kabar ini juga Bagi Abu Thalib membanggakan, sebab menaikan drajat Bani Hasyim dimata orang-orang Qurays, beliaupun kemudian melakukan rapat mendadak untuk penentuan nasib keponakannya, dan berdasarkan rapat Bani Hasyim bahwa mereka berksimpulan amat bangga dengan ponakannya itu, mereka berbondong-bondong membantu baginda Nabi Muhamad untuk melakukan lamaran kepada Khadijah.

Dalam Sirah Nabawiyah karya Syaifurahman dijelaskan bahwa; lamaran dan perkawinan itu digelar dengan besar-besaran, karena menyertakan maskawin sebanyak 20 ekor unta muda pilihan, jika sekarang harga unta muda pilihan harganya sekitar Rp 40.000.000 maka dikali 20 ekor menjadi Rp. 800.000.000, jumlah maskawin yang fantastis memang.
Pada waktu baginda menikah dengan Khadijah, umur baginda dikisahkan 25 tahun, sementara Khadijah berumur 40 tahun, dari perkawinan keduanya kelak dianugerahi 4 orang putera dan putri. Yaitu Qosim, Zainab, Ruqayah, Fatimah dan Abdullah. 


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search