Wafatnya Cecep Bustomi, dan Mandegnya Kritk Pimpinan Ormas Nahi Mungkar Pada Tentara

- September 29, 2018
Kritikan para petinggi ormas-ormas Nahi Mungkar hari-hari ini memang cenderung keras, mereka tanpa ragu mengkritik atau bahkan menghina pemerintahan yang sedang berjalan, akan tetapi jika diamati betul-betul, kritik dan cercaan mereka rupanya pilah-pilih, mereka sepertinya enggan mengkritik aparat bersenjata khusunya tentara, gambaran ini mengingatkan kita pada tragedi terbunuhnya Cecep Bustomi pada tahun 2000. Kuat dugaan mandegnya kritik para pimpinan ormas Nahi Mungkar pada tentara dipengaruhi oleh peristiwa wafatnya Cecep Bustomi.
Pada tahun 2000 Cecep Bustomi pimpinan Fron Hizbullah wafat, beliau dibunuh oleh segrombolan orang-orang bersenjata didalam mobilnya. Kasus itu mencuat setelah Anggota Fron Hizbullah terlibat keributan dengan Pratu Enjat Supriatna anggota Kopasus yang sedang melakukan pengamanan hiburan dangdut di Desa Petir, Serang, Banten . Dalam keributan ini Pratu Enjat Supriatna terbunuh oleh laskar Fron Hizbullah.

Terbunuhnya Cecep Bustomi secara tragis menimbulkan desas-desus di media, tuduhannya mengarah kepada teman-teman Pratu Enjat Supriatna. Sebab sebelum dibunuh Cecep Bustomi dikisahkan diundang ke Markas Kopasus Grup I di Serang untuk dimintai keterangan mengani kasus terbunuhnya Pratu Enjat Supriatna. Dalam perjalanan pulang dari Markas Kopasus itulah cecep Bustomi terbunuh setelah sebelumnya terlibat kejar-kejaran dengan sekelompok pria bertopeng yang mengendarai motor.

Sebelum terbuhnya Pimpinan Fron Hizbullah Cecep Bustomi, ternyata juga adalagi kasus pembunuhan yang hampir serupa, kali ini menimpa salah satu petinggi ormas Nahi Mungkar Fron Pembela Islam, yaitu Habib Shaleh Allatas, beliau ditembak dihalaman rumahnya kejadian itu diduga karena sebelumnya FPI merazia salah satu tempat hiburan di Jakarta dan ternyata pemilik tempat hiburan itu punya beking kuat  aparat bersenjata, begitu tuduhan yang terlontar dari beberapa media.

Baik FPI maupun FH, merukan ormas yang sama-sama mengusung Nahi Mungkar, atau memberantas kemungkaran, pimpinan pada kedua ormas ini adalah shati sejiwa, Cecep Bustomi sendiri murapakan bagian dari FPI, karena konon beliau merupakan salah satu penggagas atau pendiri FPI juga.

Pada masa sebelum tahun 2000an, atau sebelum terjadinya pembunuhan terhadap Cecep Bustomi dan Habib Shaleh Allatas, daya Kritik para pimpinan ormas-ormas ini tanpa tedeng aling-aling, mereka mengkritik siapa saja yang menurut mereka dalang atau dibalik menjamurnya maksiat. Mereka tidak segan-segan menuduh bahkan membodoh-bodohi tentara yang terlibat dalam kemaksiatan, mereka juga kadang menghina Institusi tentara didalam ceramah-ceramahnya.

Tapi itu dulu, sebelum terjadinya kasus pembunuhan Cecep Bustomi dan Habib Shaleh Allatas, sekarang para pimpinan ormas ini cenderung pilah-pilih mengkritik, mereka sepertinya menahan diri untuk bentrok dengan tentara. Entah sebabnya apa, apakah mereka troma terhadap peristiwa terbunuhnya Cecep Bustomi dan Habib Shaleh Allatas..? Entahlah…

Sumber Bacaan
Kompasiana; Perangi Masiat 2 Petinggi FPI Dibunuh


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search