Mengenal Bagelen, Tanah Kelahiran Arya Wiralodra Pendiri Indramayu

- Oktober 19, 2018
Dalam sejarah Indramayu, dikisahkan bahwa Arya Wiralodra merupakan putera Tumenggung Gagak Singalodraka dari Bagelan. Bapaknya dikisahkan sebagai Adipati di sana.

Bagelen kini tidak setenar dahulu, sebab kini Bagelen hanya sebuah nama kecamatan saja, padahal dahulu yaitu sebelum abad ke 20 awal Bagelen dikenal sebagai Provinsi/Keadipatian/Keresidenan yang wilayahnya meliputi Kab Purworejo dan Kab Kebumen Sekarang. Bagelen surut pamornya setelah dibubarkan Belanda pada tahun 1901.

Secara geografis bagelen merupakan sebuah wilayah di pesisir selatan Jawa Tengah yang sekarang lebih dikenal sebagai Purworejo. Purworejo merupakan nama baru sebagai pengganti nama Brengkelan, ibukota Karesidenan Bagelen.

Karesidenan Bagelen terdiri atas Kabupaten Brengkelan (Purworejo), Kabupaten Semawung (Kutoarjo), Kabupaten Karangduwur (Kemiri), dan Kabupaten Ngaran ( masuk wilayah Kebumen). Kabupaten Purworejo sekarang meliputi wilayah yang termasuk ke dalam Karesidenan Bagelen dahulu, yaitu gabungan antara wilayah Brengkelan, Semawung dan Karangduwur.

Kedudukan Bagelen sebagai sebuah karesidenan kemudian dihapus pada 1 Agustus 1901 dan dimasukkan ke dalam wilayah Karesidenan Kedu. Sementara nama Bagelen sekarang hanya dipergunakan sebagai nama sebuah kecamatan di Kabupaten Purworejo [1]

Karesidenan Bagelen terletak diantara 109º 21’-110º 11’ Bujur Timur dan di 7º-7º 57’ Lintang Selatan. Karesidenan Bagelen sebelah utara berbatasan dengan Karesidenan Pekalongan, sebelah Selatan berbatasan dengan Samudera Hindia, sebelah barat berbatasan dengan Karesidenan Banyumas dan Tegal, dan sebelah timur berbatasan dengan Karesidenan Kedu dan Yogyakarta. Dengan luas wilayah 3831 km2 .

Bagelen pada tahun 1830 termasuk kedalam wilayah yang tingkat kepadatan penduduknya sedang, Bagelen memiliki dataran tinggi yang terbentuk dari deretan pegunungan Kendeng yang memanjang dari timur ke barat pada perbatasan utara Karesidenan Bagelen. Sementara dataran rendah terdiri atas rawa-rawa dan deretan desa di sepanjang pantai. Deretan desa yang bermula dari Desa Kadilangu di tepi Sungai Bogowonto memanjang ke barat sampai tepi Sungai Cincingguling di Perbukitan Karangbolong dikenal dengan nama Urut Sewu[2]

Daerah Bagelen sejak zaman kekuasaan Mataram Hindu telah dikenal sebagai daerah yang dinamis dan banyak terlibat dalam percaturan sejarah. Di daerah yang menjadi penghasil bahan makanan yang melimpah ini, telah ada kehidupan manusia yang teratur dan dilandasi nilai spiritual tinggi.

Sebagai contoh, ditemukan peninggalan megalitik di Desa Mudalrejo, Kecamatan Loano, penemuan calon beliung, batuan tegak dan berbentuk phallus di Desa Donorati serta penemuan kapak perunggu di tepi Sungai Jebol Desa Tridadi Kecamatan Loano[3]

Penemuan peninggalan sejarah berupa prasasti dari masa Mataram Hindu juga menjadi sebuah bukti kebesaran Bagelen. Bagelen digambarkan oleh W.J. Van Der Meulen SJ sebagai nama lain dari Holing. Holing merupakan perubahan nama dari Halin, singkatan dari Bhagahalin, sebuah kerajaan yang berlokasi di lembah Sungai Bogowonto. Sementara, sekitar tahun 600 Masehi, Ratu Sanjaya mendirikan sebuah kerajaan di Bagelen, dengan wilayah berbentuk segitiga yang berpusat di Ledok, pojok paling utara dari Bagelen. Wilayahnya meliputi Pantai Selatan, dengan puncak Gunung Prahu (Dieng) dan Bogowonto sebagai sungai utama[4].

Nama Bagelen sendiri pada masa Kerajaan Mataram Islam lebih terkenal lagi. Keruntuhan Demak dan berpindahnya pusat kekuasaan ke Pajang, tidak menjadikan kesetiaan Bagelen menipis. Peranan para jawara atau Kenthol Bagelen dalam peperangan sangat besar.

Dimulai pada masa pemerintahan Panembahan Senopati, keikutsertaan para Kenthol Bagelen di setiap operasi militer Mataram semakin sering. Pada masa pemerintahan Sultan Agung, dalam memadamkan pemberontakan Dipati Ukur, pasukan Bagelen turut berpartisipasi. Disebutkan, pasukan dari daerah pesisir berbaris di sebelah utara, orang Banyumas di sebelah barat, dan orang Bagelen di sebelah selatan[5]

Bagelen pada masa pemerintahan Sultan Agung termasuk ke dalam wilayah Negaraagung (Negara gedhe) yang masih ada di sekitar Kutagara. Negaraagung sendiri merupakan suatu wilayah di luar Negara yang berisi tanah mahosan dalem atau tanah yang diperuntukkan bagi pemasukan pajak ke kas keraton dan tanah jabatan para bangsawan keratin serta pejabat kerajaan yang tinggal di dalam Negara. Wilayah Negaraagung sendiri dibagi menjadi delapan bagian, yaitu [6]:

  1. Daerah Bumi ( Kedu sebelah barat Sungai Praga) meliputi 6.000 cacah.
  2. Bumi Jo (Kedu sebelah timur Sungai Progo) meliputi 6.000 cacah.
  3. Siti Ageng Kiwo (sisi sebelah kiri jalan besar Pajang Demak) meliputi 10.000 cacah.
  4. Siti Ageng Tengen (sisi sebelah kanan jalan besar Pajang Demak) meliputi 10.000 cacah.
  5. Sewu (daerah Bagelen antara Sungai Bogowonto sampai Sungai Donan, Cilacap) meliputi 6.000 cacah.
  6. Numbak Anyar (daerah Bagelen antara Sungai Bogowonto sampai sungai Progo) meliputi 6.000 cacah.
  7. Panumping (daerah Sukowati) meliputi 10.000 cacah.
  8. Panekar ( daerah Pajang) meliputi 10.000 cacah
Tahun 1655, pada masa pemerintahan Sultan Amangkurat I, Sultan mengangkat empat orang wedana pesisir. Bersamaaan dengan itu, Sultan juga mengangkat empat wedana jaba atau wedana luar atas Negaraagung, yaitu Surakarta, Yogyakarta, Kedu, dan Bagelen.

Selain itu, dalam perang antara Mataram dan Banten, dalam rombongan ekspedisi militer ke Karawang, terdapat armada kapal yang tiga diantaranya diisi prajurit Bagelen. Masing- masing dipimpin oleh Kenthol Abadsara (Ampatsara), Kenthol Pusparaga, dan Wangsamarta [7].

Tanggal 28 Juni 1677, Keraton Plered jatuh ke tangan pemberontakan Trunojoyo dan memaksa Sultan Amangkurat I keluar dari keraton. Hari Senin, 29 Juni 1677, rombongan kerajaan sampai di Jagabaya yang termasuk wilayah Bagelen dan bertemu dengan pasukan pemberontak. Beruntung, datang bala bantuan dari Kyai Baidowi bersama rakyat Bagelen.

Sultan berhasil selamat dan mengeluarkan sebuah pantangan bagi anak keturunannya, agar tidak menyeberangi Sungai Bogowonto membawa pasukan. Atas bantuan dari Kyai Baidowi dan rakyat Bagelen, Sultan bersama permaisuri membangun sebuah masjid yang dikenal sebagai Masjid Santren yang di dalamnya terdapat angka tahun 1679, dua tahun setelah peristiwa penyerangan[8]

Sementara pada masa dominasi penjajah barat, Bagelen juga dikenal dalam catatan sejarah, pada pasca Perjanjian Giyanti wilayah Bagelen sendiri dibagi antara kekuasaan Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta dengan batas yang tidak begitu jelas.

Pembagian yang tumpang tindih serta ketidak ada kejelasan dalam batas wilayah, masalah ini pada kemudiannya  sering membawa pertikaian di kalangan penguasa lokal.

Kondisi Bagelen pasca Perjanjian Giyanti yang mengakibatkan tanah lungguh milik Kasultanan dan Kasunanan saling tumpang tindih membawa dampak negatif bagi kehidupan masyarakat. Batas yang tidak jelas membuat keamanan sulit dikendalikan.

Misal, penjahat yang melakukan kejahatan di wilayah Kasultanan, dapat melarikan diri dengan mudah ke desa di wilayah Kasunanan karena Tamping (polisi desa) Kasultanan tidak dapat memasuki wilyah Kasunanan, begitu pula sebaliknya.

Sentimen lama berpadu dengan persaingan kawula antar kerajaan menimbulkan banyak konflik baru. Berkembangnya birokrasi kerajaan berbanding lurus dengan pertambahan jumlah pegawai dan tanah lungguh yang harus disediakan.

Banyaknya pegawai dan tanah lungguh dimanfaatkan untuk memungut pajak yang lebih tinggi. Bekel (pemungut pajak) dihadapkan pada tekanan untuk mendapatkan pungutan pajak yang besar dan seringkali berujung pada pergantian Bekel yang menimbulkan konflik di desa-desa [9] Bagelen setelah ini semacam wilayah penuh konflik kepentingan, hingga kemudian pada 1901 kedudukan Bagelen sebagai sebuah provinsi/keresidenan dihapuskan oleh Belanda.

Daftar Pustaka 

[1]M. Imansyah Hadad, Wisata Ziarah Kabupaten Purworejo. Purworejo: Pemerintah Kabupaten Purworejo, 2006, hlm. 20.
[2]P.M. Laksono, Tradisi dalam Struktur Masyarakat Jawa Kerajaan dan Pedesaan: Alih-Ubah Model Berpikir Jawa. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1985, hlm. 64.
[3]Radix Penadi, Menemukan Kembali Jati Diri Bagelen dalam Rangka Mencari Hari Jadi. Purworejo: Lembaga Studi dan Pengembangan Budaya, 1993, hlm. 3.
[4]W.J. Van Der Meulen, Indonesia Diambang Sejarah. Yogyakarta: Kanisius, 1988, hlm. 67.
[5]Radix Penadi, op.cit., hlm. 26.
[6] Ibid hlm. 27-28.
[7]M. Imansyah Hadad, op.cit., hlm. 45
[8]A.M. Djuliati Suroyo, hlm. 47-48.


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search