Prasasti Huludayeuh, Ungkap Proyek Besar Kerajaan Sunda diwilayah Cirebon

- Oktober 22, 2018
Prasasti Huludayeuh adalah prasasti peninggalan abad ke IX-X Kerajaan Sunda yang ditemukan di Blok Huludayeuh Desa Bobos Kabupaten Cirebon. Prasasti ini dikramatkan oleh penduduk setempat, karena menurut cerita turun temurun yang disampaikan para pendahulu sesepuh desa tersebut, Prasasti ni harus dijaga dan tidak boleh dirusak, dari itulah para sesepuh penduduk setempat menjaga betul-betul Prasasti ini. Meskipun Prasasti ini keberadaanya sudah diketahui lama, akan tetapi belum pernah dilaporkan ke pemerintah, baru pada tahun 1991 prasasti ini dilaporkan ke pemerintah, setelah dilakukan penelitian dan penerjemahan rupanya isinya memuat berita tentang proyek besar Kerajaan Sunda.
Ilustrasi
Menurut Dinas Kebudayaan Jawa Barat, sebagaimana yang tertera dalam websitenya, dinyatakan bahwa:

“Kondisi prasasti, pada sisi kiri dan kanan dan atas terpenggal sehingga aksara hilang. Selain itu permukaan batu dan tulisan agak aus dan usang. Permukaan batu yang berinskripsi tulisan kuno, relatif rata yang kemungkinan mengalami proses perataan dan penghalusan dengan benda keras. Prasasti memiliki arah hadap ke arah baratdaya. Inskripsi tulisan menggunakan huruf Pasca Pallawa berbahasa Sunda Kuno . Melihat dari kondisi prasasti, yang masih dapat terbaca inskripsi tulisan berjumlah 11 baris. Karena adanya kerusakan fisik, sehingga teks tidak dapat diterjemahkan secara harfiah. Berdasarkan paleografi dapat diduga Prasasti Huludayeuh ini sejaman dengan Kayuwangi-Balitung (abad IX-X M)”

Adapun Alih Akasara dan terjamah Prasasti Huludayeuh, adalah sebagai berikut:
Alih Aksara
...tra .. na ...
.. sri mahharaja ra (ta)
(ha) ji ri pakwan/ sya san, ratu
(de0wata pun/. Masa sya ...
... hretaken/ bumi naha ...
Lipuken/ na bwan/ na ...
.. narah san dwi sisuk/ laja ...
- i na rbahken/ ikan, ka ...
susipadakah. Nalasan/ ...
na nudubasu. Mipatatka) ...
is/ nikan, kada pu(n) .
Terjamah
Prasasti ini dibuat atas perintah Sri Maharaja Ratu Haji di Pakuan Sya san ratu Dewata sebagai tanda peringatan atas pekerjaan-pekerjaan yang telah dilaksanakan untuk kepentingan rakyat. 
Kondisi Prasasti, Kampung Huludayueh Bobos Cirebon
Berdasarkan kontekstual isi Prasasti tersebut dapatlah dipahami bahwa kerajaan Sunda yang Rajanya disebut Ratu Haji Sangyang Dewata yang berkedudukan di Pakwan mengabarkan bahwa telah selesai suatu proyek pembangunan untuk rakyat, dimana proyek tersebut dikerjakan secara sukses, dari itulah kerajaan kemudian membuat Prasasti sebagai tanda peringatan.

Tidak dijelaskan proyek apa yang dimaksud, mengingat hanya sebegitu sajalah tulisan yang mampu dibaca oleh para peneliti, mengingat tulisan lainnya mengalami kerusakan dimakan usia sehingga tidak dapat terbaca.

Meskipun demikian setidak-tidaknya prasati itu menggambarkan bahwa di wilayah Kab Cirebon yang kini dikenal dengan desa Bobos tersebut pernah tersentuh pembangunan besar di Jaman Kerajaan Sunda, sehingga sang Raja Sunda sendiri kemudian memerintahkan pembuatan Prasasti untuk tanda kenang-kenangan atau peringatan. Perlu dipahami bhawa tidak mungkin seorang Raja memerintahkan pembuatan Prasasti kalau proyek pemerintah yang dijalankan itu hanya proyek kecil-kecilan saja.

Kini Prasasti itu masih tetap ditempat asalnya, mengingat penduduk setempat melarang pihak pemerintah untuk membawa prasasti itu ke Musium. Hal tersebut dikarenakan amanat dari pendahulu-pendahulu desa itu agar prasasti tersebut jangan dipindah tempat dan terus dijaga ditempat asalnya. 


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search