Kisah Pilu di Balik Wafatnya Sultan Matangaji Cirebon

- November 08, 2018
Matangaji adalah julukan bagi Sultan Mohamad Sefudin, beliau merupakan Sultan ke V dari Kesultanan Kasepuhan Cirebon yang bertahta pada 1753-1773. Dijuluki Matangaji karena beliau merupakan seorang Sultan yang matang dalam mengaji atau pandai dalam ilmu agama, beliau juga dikisahkan mendalami ajaran Mahayekti [Sufi].

Dimasa pemerintahannya, Sultan Matangaji gigih melakukan perlawanan terhadap Belanda, perjuangannya dalam menentang Belanda menjadikannya sebagai Sultan yang di cintai rakyatnya, pengikutnya dimana-mana. Tapi akhir hayat dari Sultan ini dikisahkan pilu sebab beliau dibunuh oleh adik Iparnya sendiri. Penghianatan itu dilakukan di Pintu Ukir Keraton Kasepuhan.
Bagai seorang Pejuang semsial Sultan Matanagaji, tentu mati dimedan juang lebih mulia daripada mati ditangan saudara sendiri, apalagi yang melakukan pembunuhan terhadapnya adalah kerabat sendiri. Inilah kisah piluannya.

Adik Ipar Sultan Matangaji yang membunuh Sultan yang dicintai rakyat itu adalah Ki Muda, kala itu ia menjabat sebagai pengurus Kuda Keraton, awal mula dari pembunuhan Sultan Matangaji oleh Ki Muda itu dilatar belakangi oleh kisah yang panjang.

Kisah itu bermula dari muakanya Sultan Matangaji kepada Belanda, Sultan menggap Belanda sudah menyengsarakan rakyat, bahkan terlulu banyak ikut campur urusan Keraton. Tapi karena sadar Belanda lebih unggul persenjataanya dibanding Cirebon, maka Sultan melakukan upaya besar untuk membuat senjata secara besar-besaran.

Berdasarkan pertimbangan yang matang Sultan akhirnya mengubah fungsi taman Sunyaragi sebagai Bunker pembuatan senjata sekaligus tempat pelatihan prajurit dalam upaya persiapan melawan Belanda.

Taman Sunyaragi sebelumnya merupakan taman air terbesar di Jawa, taman itu pada mulanya dibangun Pangeran Arya Cirebon sebagai hiburannya para Sultan dan dayang-dayangnya. Ditempat itu Sultan Matangaji dengan senyap memproduksi ribuan Senjata jenis tombak, pedang, golok, anak panah, keris dan lain sebagainya.
Senjata Peninggalan Era Sultan Matangaji Di Musium Keraton Kasepuhan
Upaya diam-diam penyusunan kekuatan oleh Sultan Matangaji ini rupanya ada yang membocorkan, sehingga dengan Sigap Belanda menyerbu Sunyaragi, terjadi peperangan besar antara Belanda dan Pasukan Sultan Matanggaji, akan tetapi karena kurang persipan, pasukan Sultan Matangaji rupanya dapat dipatahkan oleh Belanda, meskipun demikian Sultan Matangaji dan sebagaian pengikutnya berhasil menyelamatkan diri ke daerah selatan Cirebon, tepatnya di Sumber.

Di Sumber, Sultan dengan pengikut setianya yang masih tersisa kemudian membangun Pesantren, dalam pesantren yang ia bangun Sultan dengan tekun mengajarkan Agama dan ilmu kedigjayaan pada santri-santrinya. Merasa kagum dengan Sultan, para santri itu pada akhirnya ingin turut serta melawan Belanda, akan tetapi Sultan mengajukan syarat kepada Santri yang ingin ikut mati dijalan Allah, yaitu harus benar-benar matang dahulu dalam mengaji.

Syarat itu yang kemudian menjadikan Sultan Kasepuhan ke lima ini dijuluki sebagai Sultan Matangaji, karena selain beliau sebagai sorang yang pandai atau matang ilmu agamanya, beliau juga mengharuskan pengikutnya matang dulu dalam agama sebelum ikut berjihad melawan Belanda.

Bentrokan antara Pengikut Sultan Matangaji dengan Belanda terjadi berkali-kali, dalam perang antar keduanya Belanda mengalami kerugian yang cukup besar, mengingat perjuangan Sultan Matangaji dan pengikutnya dalam menghadapi Belanda dilakukan secara grilya [Sembunyi-Sembunyi]. Yaitu menyergap musuh dikala lengah, kemudian menghilang dikala musuh mengejar.

Putus asa dalam menghadapi perlawanan Sultan Matangaji, Belanda kemudian menggunakan taktik licik, ia menggunakan tangan Ki Muda adik Ipar Sultan sebagai alat untuk menangkap Sultan.

Melalui perantara Ki Muda, Belanda mengajak Sultan Matangaji untuk berunding. Dalam perundingan itu rupanya Balanda memasang jebakan, Sultan Matangaji kemudian di tangkap sementara pengikutnya dibantai habis oleh pasukan Belanda.

Dalam upaya penangkapan Sultan Matangaji Belanda sebenarnya ingin langsung membunuh Sultan di tempat perundingan, akan tetapi Sultan dikisahkan memiliki kekuatan mistis sehingga Sulit dibunuh. Sultan Matangaji hanya bisa ditangkap dan untuk kemudian dijeblosakan dalam tahanan keraton.

Niat Belanda untuk menghabisi Sultan Matangaji rupanya masih tetap bergejolak, Belanda memerintahkan Ki Muda untuk membunuh Sultan Matangaji dengan iming-iming jabatan tinggi, yaitu menggantikan Sultan Matangaji. Setelah mendapatkan tawaran itu, Ki Muda dikisahkan mencari cara agar dapat membunuh Sultan Matangaji, cara pembunuhan akhirnya ditemukannya.

Sultan dikisahkan hanya dapat dibunuh dengan senjatanya sendiri, oleh karena itu Ki Muda mengambil senjata pusaka Sultan Matangaji dan kemudian menusakannya. Kisah pilu itu terjadi di depan Pintu Ukir Keraton Cirebon.

Begitulah kisahnya, kisah seorang Sultan yang gigih melawan kesewenang-wenangan Belanda demi kesejahteraan rakyatnya, di Cirebon namanya tetap harum hingga kini, meskipun dizaman setelah kewafatnya, Belanda dengan berbagai cara merusak nama baik Sultan. Diantara cara-cara buruk Belanda untuk merusak nama baik Sultan adalah munculnya berita bohong yang dibuat Belanda mengenai Sultan Matangaji, Sultan dipropagandakan sebagai seseorang yang mengidap gangguan jiawa karena mendalami ilmu Mahayekti.

Daftar Bacaan:
[1] Para Raja di Kesultanan Kasepuhan Cirebon
[2] Kisah Pengungsi Cina Rembang, dan Pembangunan Taman Sunyaragi di Cirebon
[3] Kisah Terbunuhnya Sultan Matangiji di Pintu Ukir. Di akses dari Radar Cirebon, pada 08-11-2018


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search