Tapa Wuda Ratu Kalinyamat dan Terbunuhnya Arya Penangsang

- November 06, 2018
Tengah malam, Ki Rungkut suruhan Arya Penangsang mengendap-endap di Istana kemudian memasuki tempat berabaringnya Sultan Demak. Kala itu Sultan Demak sedang pulas tertidur didampingi istrinya, tidurnya menyamping sementara istrinya memeluknya dari samping.

Ki Rungkut kemudian menusukan kerisnya ketubuh Sultan Demak, Keris itu menacap kedada Sultan Demak hingga tembus ke perut Istrinya. Sultan Demak yang terbangun dengan bersimbah darah itu tidak tinggal diam, ia menendang Ki Rungkut hingga terjatuh, sementara keris yang menancap didadanya kemudian ia cabut, keris itu kemudian ia balik tusukan kepada Ki Rungkut, seketika itu juga Ki Rungkut tewas, akan tetapi karena luka yang parah Sultan Demak pun kemudian wafat bersama Istrinya. Begitulah yang dikisahkan  dalam Babad Tanah Jawi.
Sultan Demak yang tewas karena dibunuh oleh Suruhan Arya Penangsang itu adalah Sunan Perwata Sultan Demak ke IV kakak dari Ratu Kalinyamat. Setelah Arya Penangsang berhasil membunuh Sultan Demak ia kemudian memproklamirkan dirinya menjadi Sultan Demak ke V, sementara Ibukota Demak yang semula di pusatkan di Gunung Perwata di pindahkanya ke Jipang.

Pada mulanya Arya Penangsang merupakan Adipati (Raja Bawahan) Demak yang memerintah di Jipang, ia sebenarnya anak dari Calon Sultan Demak ke III (Raden Kikin/Pangeran Seda Lapen), ayahnya dibunuh oleh Sultan Trenggono yang juga merupakan saudara dari ayahnya. Dari itu sebenarnya Arya Penangsang menuntut ha katas tahta Demak, sehingga ia kemudian membunuh Sunan Perwata anak dari Sultan Trenggono.

Selepas terbunuhnya Sunan Perwata, dan pemproklamiran Arya Penangsang sebagai Sultan Demak yang baru, para Adipati bawahan Demak melakukan protes kepada Arya Penangsang, termasuk didalamnya Adipati Jepara yang kala itu diperintah oleh Adipati dan Ratu Kalinyamat.

Bersama suaminya Adipati Kalinyamat, Ratu Kalinyamat kemudian mendatangi Jipang dan mempertanyakan prihal pembunuhan kakaknya oleh Arya Penangsang, tapi sesampainya di Jipang Adipati dan Ratu Kalinyamat itu justru disambut dengan keris, Arya Penangsang menangtang Adipati Jepara itu  untuk duel maut, perkelahian pun terjadi hingga Adipati Jepara tewas tertikam keris Arya Penangsang.

Karena perempuan, Nasib Ratu Kalinyamat tidak seburuk suaminya, ia dibebaskan oleh Arya Penangsang untuk kembali pulang ke Jepara. Tapi dalam perjalanan pulangnya itu Ratu Kalinyamat menyimpan dendam yang sangat besar pada Arya Penangsang, ia tidak terima atas kematian kakaknya Sunan Perwata dan Sumainya Adipati Kalinyamat di tangan Arya Penangsang.

Dalam perjalan pulang ke Jepara, ia membelokan kakinya ke Gunung  Danaraja, di gunung ini ia melakukan semedi atau bertapa, tujuannya untuk mencari keajaiban guna dapat membalaskan dendamnya pada Arya Penangsang.

Di Gunung Danaraja Ratu Kalinyamat bertapa dengan telanjang bulat, sebab itulah pertapaannya ini dalam bahasa jawa dikenal dengan istilah “Tapa Wuda” . dalam pertapaannya ini ia bersumpah “ Aku tidak akan memakai Pinjung (Kain/Pakean) sebelum Arya Penagsang tewas, maka bagi siapa yang dapat membunuh Arya Penangsang, aku akan mengabdi padanya”.

Selain Adipati Jepara, banyak juga sebenarnya para Adipati yang tidak menyukai tingkah laku Arya Penangsang dalam memperoleh tahta Demak, salah satunya adalah Adipati Pajang, atau Ipar dari Ratu Kalinyamat, waktu itu Pajang diperintah oleh Jaka Tingkir atau Hadiwijaya.

Memperoleh kabar bahwa Ratu Kalinyamat sedang bertapa di Gunung Danureja, Jaka Tingkir kemudian mendatangi Ratu Kalinyamat, disana ia diperintahkan oleh Ratu Kalinyamat untuk membunuh Arya Penagsang dengan iming-iming ia akan diakui sebagai penguasa yang mewarisi wilayah Kerajaan Demak.

Gayung rupanya bersambut, Jaka Tingkir kemudian memproklamirkan pembangkangan pada Demak, ia pun mengumumkan sayambara, katanya “ Barangsaiapa yang dapat membunuh Arya Penangsang maka ia akan dianugerahi tanah Pati dan Mataram”.

Meskipun sayambara ini membuat murka Arya Penangsang, tapi tetap saja, Syambara ini diminati banyak orang, di antara yang berminat dalam Sayambara itu adalah Ki Pamanahan, Ki  Panjawi dan Raden Bagus atau Danang Sutawijaya.

Perang Pajang Vs Demak pun kemudian meletus, peperangan besar terjadi di Sungai Bengawan Sore, dengan taktik yang licik, Ki Pamanahan, Ki Panjawi dan Raden Bagus atau Danang Sutawijaya berhasil memancing Arya Penangsang untuk duel satu lawan satu, akan tetapi ketika Arya Penangsang memasuki arena duel, ternyata ia dikeroyok, ia pun terbuhuh karena tertusuk tombak, sementara kepalanya di penggal untuk kemudian diserahkan kepada Jaka Tingkir. Jaka tingkirpun kemudian dikisahkan menyerahkan kepala itu kepada Ratu Kalinyamat.

Selepas terbunuhnya Arya Penangsang, Ratu Kalinyamat yang dahulu merupakan salah satu pewaris Kesultanan Demak dari jalur Sultan Trenggono dan kakaknya Sunan Perwata, menyerahkan Demak dibawah Pajang, maka setelah itu, Jaka Tinggkir memproklamirkan pendirian kesultanan Pajang, sementara Demak kemudian dimasukan menjadi Kerajaan bawahan Pajang.

Pada masa itu, Pajang memperlakukan Jepara sebagai Negara sahabat, bukan Negara bagian Pajang, oleh karena itu Ratu Kalinyamat kemudian pulang ke Jepara dan menjadi Raja Wanita disana, kelak Ratu Kalinyamat dan Kerajaan Jeparanya itu terkenal di seluruh Nusantara, sebab dibawah pemerintahanya, ia berhasil menghancurkan Armada Portugis di Ternate, melakukan penyerbuan ke Malaka dengan puluhan kapal Perang dan Ribuan tentara Jepara.

Atas keperkasaannya itu, orang Portugis menjuluki Ratu Kalinyamat sebagai “Rinha  de Jepara Senhora Pedrosa Erika” untuk mengetahui maksud dari julukan tersebut, dapat anda baca pada artikel kami yang berjudul “ Ratu Kalinyamat, Rinha de Jepara Senhora Pedrosa Erika”.  


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search