Munculnya Istilah Si Hidung Belang Pada Skandal Mesum Batavia 1629

- November 18, 2018
Istilah “si hidung belang”  sangat familier sekali di telinga  orang Indonesia, istilah tersebut mempunyai maksud pria cabul yang menyukai wanita-wanita muda untuk dikencaninya, begitulah pada umumnya orang memaknai istilah si hidung belang.

Istilah Hidung Belang ini muncul selepas terjadinya skandal mesum di lingkungan Kastil Batavia (Jakarta)  yang melibatkan dua muda-mudi yang dimabuk cinta, yaitu Sara Specx dan Pitter Jacobzoon. Tepatnya muncul pada tahun 1629 Masehi. 

Pada tahun 1627 Jacquis Specx menitipkan anak perempuannya kepada J.P Coen yan kala itu menjadi Pejabat Tinggi VOC Belanda di Batavia (Jakarta). Sebab ia untuk sementara waktu akan pergi ke Belanda. Anak itu bernama Sarra Specx, anak ini berparas campuran Eropa Jepang, sebab ibunya merupakan Gundik dari Jepang yang dinikahi Jacquis Specx.

Juni 1629 Sara genap berumur 12 tahun, pada abad ke 17 gadis seusia itu dikategorikan sebagai gadis belia menuju matang. Pada masa-masa itu juga Sara dipastikan baru mengalami mensturasi pertamanya.

Sara dalam tiap harinya bekerja sebagai pengiring Eva Ment, istri J.P Coen, sebagai pengiring istri pejabat VOC, Sara tentu terbiasa berjumpa dengan banyak laki-laki. Dalam perjumpaannya dengan banyak laki-laki  rupanya ia tertarik pada laki-laki campuran bernama Pitter Jacobszon. Begitupun sebaliknya Pitter juga rupanya menyukainya.

Pitter kala itu baru berumur 16 tahun, ia bekerja sebagai Vandrig (Serdadu Rendahan) yang biasa menjaga Kastil Batavia. Ayahnya merupakan pedagang Belanda sementara ibunya merupakan perempuan Pribumi.

Seringnya Sara dan Pitter berjumpa, kemudian membawa keduanya menjadi sepasang kekasih, namun intensitas pertemuan kedua muda-mudi yang dimabuk cinta itu rupanya menjadikan mereka lupa daratan, mereka bersenggama selayaknya suami istri ditiap pertemuan, begitulah kisahnya.
Sampai pada suatu malam, mereka bersenggama di rumah J.P Coen yang masih berada didalam lingkungan kastil Batavia dimana Pitter bekerja. Malangnya kelakuan keduanya ternyata tertangkap basah oleh J.P Coen.

Keduanya kemudian digelandang J.P Coen untuk di hukum. Tepat 6 Juni tahun 1629 hukuman kemudian ditetapkan, Pitter di Pancung di alun-alun Kota, sedangkan Sara menyaksikan bagaimana kekasihnya di pancung, sementara ia sendiri ditelanjangi, dicambuk dan dijadikan totonan masyarakat yang menyaksikan.

Pada saat sebelum di Pancung wajah Pitter dicoret-coret dengan arang oleh Algojo sebagai tanda bahwa Petter pelaku pencabulan. 

Setelah dipancung kepala Pitter rupanya menggelinding ke tanah, penduduk yang menyaksikan itu melihat bagian wajah pitter terutama bagian hidungnya yang berbelang karena arang. Merekapun kemudian menyebutnya "Si Hidung Belang". Begitulah asal-usul istilah kata "Si Hidung Belang"

Gambaran kisah di atas, menunjukan pada kita bahwa betapa kerasnya hukuman pelaku perzinahan zaman Kompeni Belanda, bahkan J.P Coen sendiri yang kala itu menjabat sebagai petinggi menyerahkan pelaku perzinahan untuk segara dihukum bukan malah melindunginya, meskipun anak yang akan dihukumnya itu adalah anak teman baiknya sendiri.

Sara nasibnya tidak seburuk kekasihnya, ia masih hidup sampai bapaknya datang dari Belanda, kisah ini pada masa itu viral dimana-mana, bahkan kabarnya sampai tembus ke Negeri Belanda. Kerasnya hukuman zinah yang ditetapkan VOC Belandadi Batavia  ini diprakarsai dan didukung oleh Dewan Greja Protestan, tujuannya untuk mendidik moral penduduk koloni.

Kelak ketika Ayah Sara Jacquis Specx menduduki jabatan sebagai Gubernur jendral ia kemudian mengurangi peran para pendeta Dewan Greja Protestan itu.

Selepas kejadian yang memalukan itu, Sara dikisahkan menikah dengan sorang Pendeta. Pada tahun 1635 Sara mengikuti suaminya untuk tinggal di Taiwan, disana ternyata Sara kemudian meninggal dunia pada umur 19 tahun.

Baca Juga: Hukuman Bagi Pelakor Pada Masa Kompeni Belanda


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search