Sejarah Desa Cupang Kecamatan Gempol Kabupaten Cirebon

- November 20, 2018
Sejarah Desa Cupang Gempol Cirebon
Desa Cupang adalah salah satu desa yang terletak dibawah Kecamatan Gempol Kabupaten Cirebon, Desa ini terbilang asri sebab terletak di areal pegunungan. Mata pencaharian rakyatnya pada umumnya bertani, sementara yang lainnya bekerja sebagi PNS, serta buruh Pabrik yang tersebar diwilayah Kabupaten Cirebon.

Di tinjau dari sisi sejarahnya, asal-usul kata ” Cupang” sendiri diperacayai sebagai gabungan kata dalam bahasa Cirebon  “Cu=Cukup dan Pa=Pangan” yang bermaksud “Cukup Makan”. Munculnya kata Cupang itu diawali kisah yang melegenda.

Dahulu di desa yang kini disebut desa Cupang itu, diceritakan telah hidup seorang suami Istri yang bernama Ki Dawud dan Nyi Dawud, menurut legenda penduduk setempat keduanya berasal dari Mesir.

Ki Dawud bersama istrinya hidup berkecukupan di tempat itu, sebab didaerah keduanya tinggal tidak susah bercocok tanam, Padi, Singkong, Pisang dan tanaman lainnya dapat ditanam dengan mudah ditempat itu. Untuk memenuhi gizi, kadang juga Ki Dawud memancing, ikan hasil tangkapannya biasanya digunakan untuk lauk pauk sehari-hari, begitulah kegiatan Ki Dawud dalam mencukupi kehidupannya.

Pada suatu ketika, seperti biasanya Ki Dawud pergi memancing di Sungai, tapi entah kenapa kali ini Ki Dawud tidak kunjung mendapatkan ikan, padahal biasanya ia selalu mendapatkan ikan yang banyak.

Merasa sudah lama tapi belum juga mendapatkan ikan, Ki Dawud kemudian bersiap meninggalkan sungai untuk pulang, akan tetapi ketika mencabut kail pacingnya, rupanya dalam kail itu tersangkut ikan “Pelet” berukuran kecil, jenis ikan ini apabila memakan umpan di kail biasanya tarikanya tidak begitu besar, sehingga pemancing kadang tidak tersa jika umpannya telah dimakan. Pantas saja tidak kunjung mendapatkan ikan, lha wong umpannya sudah dimakan ikan, begitu kira-kira fikir Ki Dawud.
Ikan Cupang/Ikan Pelet Yang Hidup Di Sungai-Sungai Cirebon
Ki Dawud kemudian pulang hanya dengan membawa ikan kecil, sesampainya di rumah Ki Dawud kemudian menyerahkan ikan tersebut kepada Istrinya untuk dimasak. Ikan pun kemudian di olah dan diletakan dalam kuali untuk dimasak. Akan tetapi terjadi keanehan ketika ikan itu dimasak. Ikan itu rupanya berubah membesar didalam kuwali, sehingga kejadian aneh tersebut dilaporkan Nyi Dawud kepada suaminya.

Mendapati kejadian aneh itu, akhirnya Ki Dawud mengurungkan niatnya untuk memask ikan itu. Ikan yang sudah mati itu kemudian dibunggus oleh Ki Dawud dengan kain kafan, dan kemudian dikuburkannya  di suatu tempat, kini tempat itu percis terletak dibawah Pohon Asam sebelah barat Balai Desa. Ikan itu kemudian dinamakan ikan Cupang oleh Ki Dawud menggantikan anama  yang sebelumnya “Ikan Tempel”, sementara makam dari ikan itu kelak dikenal dengan nama makam Buyut Cupang.

Setelah Ki Dawud dan Nyi Dawud meninggal,  keduanya kemudian dikuburkan disamping makan itu, sehingga tidak mengherankan disitus makam Buyut Cupang terdapat tiga kuburan utama. Perlu dipahami bahwa ikan itu dinamakan Cupang oleh Ki Dawud dikarenakan beliau benar-benar kecukupan pangganya selama hidup. Bahkan ketika ia mendapatkan ikan kecilpun, ternyata ikan itu menjadi besar untuk mencukupi pangan keluarganya. Daerah dimana kisah Ikan Cupang itu ada, kelak dinamakan Desa Cupang. 


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search