Djoeanda Pahlawan Sunda Yang Namanya Diabadikan Sebagai Nama Bandara di Jawa Timur

- Desember 06, 2018
Nama Bandara atau Bandar Udara di Indonesia, khususnya yang terletak di daerah, bisanya mengambil nama-nama Pahlawan dari daerahnya masing-masing, akan tetapi di Jawa Timur rupanya lain, Bandara terbesar di Provinsi ini justru mengambil nama Pahlawan yang berasal dari tanah Sunda, Pahlawan itu bernama Djoeanda.

Djoeanda atau Juanda dikalangan masyarakat yang tidak terlampau peduli sejarah lebih dikenal sebagai nama Bandara Internasional di Ibukota Provinsi Jawa Timur Surabaya, ketimbang sebagai nama pahlawan asal Pasundan. Begitulah memang keadannya.

Meskipun demikian, perlu dipahami bahwa sebagai Pahlawan Nasional yang gigih dalam membangun bangsanya, rupanya kesukuan dan ras Djoeanda yang berasal dari Sunda tidak menghalangi masyarakat Jawa Timur untuk mengabadikan nama sang Pahlawan menjadi nama Bandar Udara kebanggaanya. Begitulah faktanya.

Latar Belakang Kehidupan Djoeanda

Djoeanda nama asli dan gelarnya adalah Ir. H. Raden Djoeanda Kartawidjaja (EYD: Juanda Kartawijaya), Djoeanda dilahirkan di Kota Tasik Malaya Jawa Barat pada 14 Januari 1911, ayahnya adalah Raden Kartawidjaja yang merupakan Priyayi di Tasik Malaya, sementara Ibunya bernama Nyi Monat seorang perempuan yang bersahaja.

Sebagai seorang anak Priyayi yang berkecukupan Djoeanda rupanya tidak terlampau kesulitan dalam memperoleh pendidikan, ia tercatat lulus dari berbagai tingkatan pendidikan dizamannya, ia lulus dari sekolah Hollandsch Inlansdsch School (HIS), Eropa Europesche Lagere School (ELS), Hoogere Burgerschool te Bandoeng (HBS Bandung), Technische Hoogeschool te Bandoeng (THS), Pada sekolah terakhir yang sekarang menjadi Intitut Teknologi Bandung itulah Djoeanda kemudian mendapatkan gelar Insinyurnya (Ir).

Kiprah dan Perjuangan Djoeanda

Perjuangan Djoeanda dalam kemerdekaan dan upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia dilakukannya dengan jalan diplomasi, sementara kiprahnya dalam pembangunan Indonesia dilakukannya dengan cara melakukan pembangunan demi pembangunan Infrastruktur yang kala ia hidup baru saja dimulai.

Mensikpun demikian, sebenarnya pada saat masih muda Djoeanda  hanya aktif dalam organisasi non politik seperti Paguyuban Pasundan dan anggota Muhammadiyah, Djoeanda pernah menjadi pemimpin sekolah Muhammadiyah dan Djoeanda juga pernah bekerja sebagai pegawai Departemen Pekerjaan Umum povinsi Jawa Barat, Hindia Belanda sejak tahun 1939.

Sejak lulus dari TH Bandung,  Djoeanda  pernah ditawari menjadi asisten dosen di TH Bandung namun Djoeanda lebih memilih mengajar di SMA Muhammadiyah di Jakarta dengan gaji seadanya. Setelah mengajar selama 4 tahun, pada tahun 1937  Djoeanda mengabdi di dinas pemerintah Jawaatan Irigasi Jawa Barat, selain itu juga Djoeanda  aktif sebagai anggota Dewan Daerah Jakarta.

Pada 28 September 1945, Djoeanda memimpin pemuda untuk mengambil alih Jawaatan Kereta api dari Jepang, disusul dengan pengambil alihan jawatan Pertambangan , Keresidenan, Kotapraja, serta obyek militer yang ada di gudang utara Bandung.

Pemerintah Indonesia kemudian mengangkat Djoeanda sebagai kepala jawaatan kereta api wilayah Jawa dan Madura. Setelah itu, Djoeanda diangkat menjadi Menteri Perhubungan. Djoeandapun pernah menjabat sebagai Menteri pengairan, Kemakmuran, Keuangan dan juga Pertahanan.

Karena hal tersebut Djoeanda oleh kalangan pers dijuluki dengan nama Menteri Marathon karena sejak awal kemerdekaan, Djoeanda telah menjabat sebagai menteri muda perhubungan hingga menjadi Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan hingga menjadi Menteri Pertama pada masa Demokrasi Terpimpin.

Selain itu, kiprah Djoenda yang paling menonjol dalam memperjuangkan negaranya adalah dengan cara membuat luas Negara Indonesia menjadi dua kali lipat dari sebelumnya.

Dahulu sebelum Djoenda memperjuangkan batas-batas wilayah Indonesia, Wilayah Indonesia hanya meliputi kepuluan Indonesia dengan beberapa mil laut dari pulau-pulau yang ada, tapi berkat usahanya seluruh laut yang menghubungkan pulau-pulau di Indonesia menjadi wilayah kekuasaan Indonesia, tidak lagi menjadi laut Internasional, itulah hebatnya Djoanda, konsep yang Djoeanda terapkan dalam teroterial wilayah negara ini kemudian dikenal dengan Deklarasi Juanda.

Usaha Djoeanda dalam mengkalim laut Internasional yang menghubungkan pulau-pulau di Indonesia itu pada mulanya ditentang Amerika, namun berkat kepiawaiannya dalam bernegosiasi Djoeanda akhirnya dapat membungkam Amerika dengan alasan-alasan dan teori-teorinya.

Kini Teori Djoeanda dalam deklarasi Juanda itu dijadikan acuan PBB dalam mengukur batas wilayah Negara Kepualauan di Dunia. Itulah kiprah dan kehebatan Djoeanda selama hidupnya.

Jabatan Yang Pernah Dijabat Djoeanda

Selama hidupnya, Djoenda berjuang dengan cara menjadi Politisi, ia tercatat pernah menjabat sebagai:
  1. Menteri Pekerjaan Umum Indonesia (29 Januari 1948 – 4 Agustus 1949)
  2. Menteri Perhubungan Indonesia (2 Oktober 1946 – 4 Agustus 1949)
  3. Menteri Perhubungan Indonesia( 6 September 1950 – 30 Juli 1953)
  4. Perdana Menteri Indonesia  (9 April 1957 – 9 Juli 1959)
  5. Menteri Pertahanan Indonesia (9 April 1957 – 9 Juli 1959)
  6. Menteri Keuangan Indonesia (10 Juli 1959 – 6 Maret 1962)

Asal-Usul Ditetapkannya Nama Djoeanda Menjadi Nama Bandara

Mengenai asal-usul kenapa nama Djoeanda dijadikan sebagai nama Bandara di Jawa timur adalah bermula dari pembangunan Bandara di Surabaya untuk kepentingan Militer, kala itu Ir Djoenada merangkap jabatan sebagai tiga pejabat Negara sekaligus, yaitu menjadi Perdana Mentri, Menjadi Mentri Pertahanan, dan juga menjadi mentri keuangan Indonesia. Aneh memang tapi begitulah kenyataannya, dimana kondisi negara waktu itu tidak memungkinkan untuk membayar pejabat negara dengan lebih.

Pada saat merangkap menjadi tiga pejabat sekaligus Djoenda dengan tekad baja membangun Bandara untuk kepentingan Pangkalan Angkatan Udara Indonesia dengan mati-matian, meskipun kala itu ketersediaan dana tidak memungkinkan.

Bandara Djoeanda mulai dibangun pada tahun 1959, selesai pada 12 Agustus 1964. Beliau sendiri tidak pernah menyaksikan buah dari kerja kerasnya dalam membangun Bandara, sebab beliau terburu wafat pada tanggal 7 November 1963 dalam umur 53 tahun.

Pada saat sebelum peresmian Bandara Juanda dilakukan, para pegawai, ketua proyek, dan kerabat-kerabat Djoenada merasa sedih hatinya, karena mereka mengangap orang yang berjasa dalam pembangunan Bandara justru tidak dapat melihat hasil dari jerih payahnya, tidak berbeda dengan teman sejawat dan seperjuangan lainnya, maka Presiden Soekarnopun merasakan kesedihan yang sama, oleh karena itu, demi mengenang jasa besar Djoenda dalam membangun Bandara, pemerintah memutuskan menamai bandara itu dengan nama Djoenada, atau Juanda.

Kelak Bandara Juanda yang semula hanya sebagai bandra TNI angkatan Udara itu diubah fungsinya menjadi Bandara umum untuk mengurusi keperluan angkutan udara masyarakat, sehingga bentuknya seperti sekarang yaitu menjadi Bandara Internasional yang melayani rute perjalanan udara dari dalam dan luar negara.

Penghargaan Pemerintah Pada Djoeanda

Ada beberapa penghargaan yang telah diberikan pemerintah untuk mengenang dan berterimakasih kepada Djoeanda, diantaranya menggunakan namanya sebagai nama bandara di Surabaya, Jawa Timur, pemerintah juga menjadikan namanya sebagai nama  hutan Raya di Bandung (Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda), serta menjadikan namanya sebagai museum dan monumen yang disebut monumen Ir. H. Djuanda di Bandung.

Djoeanda diangkat menjadi pahlawan sejak 1963 tidak lama selepas kewafatannya, yaitu berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No.244/1963, beliau diangkat sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Penghargan lainnya untuk tokoh ini adalah penggunaan fotonya sebagai gambar uang pecahan Rp 50.000 yang terbit pada 2016 hingga sekarang.
Uang RI Pecahan Rp. 50.000


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search