Kisruh Penentuan Awal Ramadhan Masa Sultan Trenggono

- Januari 05, 2019
Kisruh soal penentuan awal bulan Ramadhan dalam sejarah Islam sebenarnya sudah biasa, ketika Kesultanan Demak diperintah oleh Sultan Trenggono, kisruh mengenai  ru’yatul hilal di awal bulan Ramadhan ini menguap kepermukaan. Sunan Kudus yang kala itu sebagai Imam Masjid Agung Demak berdebat hebat dengan Sunan Kalijaga, peristiwa inilah yang kelak membuat emosi Sunan Kudus, sehingga beliau kemudian meletakan jabatannya sebagai Imam Masjid Agung Kesultanan.

Kisah mengenai perdebatan Sunan Kudus dengan Sunan Kalijaga ini dapat ditemui dalam Buku Karya Abimayu (2017: 320), sayangnya bahasan mengenai kisruh penentuan awal Ramadhan masa Sultan Trenggono ini hanya dibahas secara singkat saja.

Dalam buku itu dijelaskan bahwa:

"Pada tahun 1543, Sultan Trenggono mengundang Sunan Kalijaga untuk pindah ke Demak. Sebelumnya Sunan Kalijaga berdakwah di Cirebon membantu Sunan Gunung Jati. 

Beberapa waktu kemudian, terjadi perdebatan antara Sunan Kalijaga dengan Sunan Kudus dalam menentukan awal Ramadhan. Dalam hal ini, Rupanya Sultan Trenggono lebih memilih pendapat Sunan Kalijaga, sehingga awal Ramadahan di Demak pada tahun itu mengikuti pendapat Sunan Kalijaga. Keputusan Sultan Trenggono mengenai penetapan awal Bulan Ramadahan itu rupanya melahirkan polemik.  


Sunan Kudus rupanya tersinggung, beliau merasa sudah tidak dihargai pendapatnya meskipun sebagai Imam Masjid Agung Demak. Oleh karena itu Sunan Kudus kemudian mengundurkan diri dari Imam Masjid Agung Demak. Selepas itu kemudian Sunan Kalijaga diangkat menjadi Imam Baru, dan diberikan tanah perdikan di Kadilagu”. 


Tidak dijelaskan lebih lanjut mengenai kehidupan Sunan Kudus setelah peristiwa itu, akan tetapi jika dibandingkan dengan kisah sejarah lainnya, maka dipastikan Sunan Kudus selepas peristiwa itu meninggalkan Demak untuk kemudian menetap di Kudus. Di Kudus beliau kemudian membangun Masjid yang kelak dikenal dengan nama Masjid Agung Kudus.

Dalam tahapan selanjutnya pertentangan Sunan Kalijaga dengan Sunan Kudus ini sepertinya merembet ke urusan Politik, keduanya juga dipastikan berbeda soal pandangan politik. Sunan Kalijaga lebih memihak Sultan Trenggono dan keluarganya, sementara Sunan Kudus cenderung tidak suka dengan Sultan Trenggono dan keluarganya.

Sebagaimana diketahui bahwa Sultan Trenggono naik tahta setelah sebelumnya terlibat perebutan tahta dengan saudara tirinya, Raden Kikin. Kedua anak Raden Patah ini dikisahkan saling umbar pengaruh demi untuk mendapatkan tahta. Raden Kikin didukung Sunan Kudus sementara Sultan Trenggono didukung Sunan Kalijaga.

Baca Juga: Raden Patah, Istri dan Anak-Anaknya

Polemik perebutan tahta ini baru berakhir setelah anak Sultan Trenggono yang bernama Raden Mukmin (Sunan Perwata-Kelak menjadi Sultan Demak ke IV) membunuh Raden Kikin. Pembunuhan itu menurut Serat Kanda dilakukan ditepi Sungai, sebab itulah Raden Kikin dikenal juga dengan nama Pangeran Seda Ing Lapen atau Pangeran yang wafat di tepi sungai.

Kelak selepas kemangkatan Sultan Trenggono, Sunan Kudus mendukung Arya Penangsang anak dari Raden Kikin untuk merebut tahta dari tangan Sunan Perwata, dalam hal ini Sunan Perwata kemudian dapat dibunuh, cerita selanjutnya Arya Penangsang kemudian menjadi Sultan Demak ke V.

Baca Juga: Kematian Sultan Trenggono dalam Catatan Portugis

Mendapati gerakan Politik Sunan Kudus yang agresif, rupanya Sunan Kalijaga tidak tinggal diam, Sunan Kalijaga melalui pengaruhnya kemudian mempengaruhi muridnya “Jaka Tingkir” untuk merebut tahta Demak dari Arya Penangsang.

Baca Juga: Sejarah Kesultanan Pajang, Masa Pendirian, Kejayaan dan Keruntuhannya

Kelak Jaka Tingkir yang memiliki nama asli Hadiwijaya itu kemudian dapat membunuh Arya Penangsang. Selepas peristiwa terbunuhnya Arya Penangsang, Hadiwijaya kemudian mengangkat dirinya menjadi Sultan Pajang I, beliau tidak melanjutkan tahta Demak.

Baca Juga: Tapa Wudha Ratu Kalinyamat dan Terbunuhnya Arya Penangsang

Gambaran kisah di atas adalah rekonstruksi dari penulis bahwa sejatinya pertentangan antara Sunan Kudus dan Sunan Kaliga tidak hanya sebatas paham keagamaan saja, tapi lebih dari itu, keduanya terlibat dalam percaturan politik kala itu. Pertentangan keduanya dalam hal politik praktis ini kuat dugaan besar kecilnya dipengaruhi juga oleh kisruh penentuan awal ramadhan masa Sultan Trenggono. 


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search