Wafatnya Arya Penangsang

- Januari 29, 2019
Wafatnya Arya Penangsang dalam sejarah ditandai juga sebagai akhir dari riwayat Kesultanan Demak, sebab selepas Arya Penangsang wafat, Demak tidak lagi sebagai Kesultanan melainkan berubah menjadi Keadipatian bawahan Kesultanan Pajang.

Wafatnya Arya Penangsang tidak terlepas dengan konflik yang dibangunnya sendiri dengan keluarga Sultan Trenggono. Sebagaimana diketahui bahwa selepas kemangkatan Sultan Trenggono yang melanjutkan tahta Kesultanan demak adalah Sunan Perwata anak dari Sultan Trenggono, Sunan Perwata dibunuh oleh Arya Penangsang.

Selepas Sunan Perwata mangkat , Arya Penangsang memproklamirkan diri menjadi Sultan Demak, ia rupanya melakukan tindakan-tindakan gegabah, karena banyak melakukan pendekatan kekerasan pada keluarga Sultan Trenggono dan para Adipati bawahan Demak yang diidentifikasi masih setia pada keluarga Trenggono. Belakangan para Adipati dan Keluarga Sultan Trenggono inilah kemudian yang membunuh dan menggulingkan Arya Penangsang dari tampuk kekuasaan sebagai Sultan Demak V.

Menurut babad tanah jawi, ketika Arya Penangsang gagal membunuh menantu Sultan Trenggono yang bernama Hadiwijaya (Jaka Tingkir), maka usahan untuk melakukan pembunuhan dan penggulingan Arya Penangsang meningkat. Terlebih-lebih Hadiwjaya ini merasa sakit hati sebab Istri Sauduaranya Ratu Kalinyamat diperlakukan tidak manusiawi oleh Arya Penangsang.

Baca Juga: Tapa Wuda Ratu Kalinyamat dan Terbunuhnya Arya Penangsang

Berbekal dorongan dari ratu Kalinyamat dan para Adipati yang masih setia pada keluarga Sultan Trenggono, Hadiwijaya berbuat nekad, ia memproklamirkan diri memberontak pada Demak. Bahkan ia dengan terang-terangan mengumumkan Sayambara yang isinya “Barang Siapa yang berhasil memenggal kepala Arya penangsang akan ia hadiahi tanah Pati dan Mataram”.

Waktu itu sebenarnya Hadiwijaya tidak punya ha katas Tanah Pati dan Mataram sebab sebagaimana diketahui Pati dan Mataram waktu itu wilayah kekuasaan Demak. Ini berarti bahwa Sayambara itu sebenarnya sebagai penanda bahwa ia ingin menjadi Sultan Seluruh Tanah Jawa dan menghapuskan Demak, jika ia berhasil menghapuskan Demak dan dapat membunuh Sultanya (Arya penangsang), maka ia akan menjadi seorang Sultan yang akan memberikan tanah Pati dan Mataram pada orang-orang yang yang berjasa itu.

Sayambara yang digelorakan Hadiwijaya ini rupanya ditanggapi positif oleh Ki Pemanahan,Ki Penjawi, Ki Juru Mertani dan Raden Bagus. Mereka mengikuti Sayambara dengan harapan dapat mengubah hidup mereka.

Selepas mendapatkan Izin untuk ikut dalam Sayambara, Pamanahan beserta rombongan bergegas untuk melaksanakan aksinya untuk melakukan pembunuhan pada Arya penangsang. Mula-mula yang dilakukan oleh kelompok ini adalah menemui salah seorang tukang rumput untuk kuda Gagak Rimang milik Arya Penangsang.

Oleh Ki Pemanahan, salah satu telinga dari tukan Rumput itu diiris hingga darah mengucur ke tubuhnya. Selain itu tukang rumput ini juga dikalungi selembar surat tantangan dari Juru Mertani, tukang rumput itu kemudian disuruh menghadap Arya Penangsang. Sambil meraung-raung kesakitan, tukan rumput itu menghadap Arya penangsang.

Melihat abdinya yang diperlakukan tidak manusawi oleh penangtangnya, Arya Penangsang rupanya naik Pitam. Ia bergegas menghentikan aktifitasnya kemudian langsung menaiki kuda Gagak Rimang untuk mendatangi tempat tantangan yang telah ditentukan penantang, ia memecut kudanya melesat ke Sungai Bengawan sore.

Bersama pasukannya Arya Penagsang menyebrangi Sungai Bengawan Sore, akan tetapi ketika ia menyebrangi Sungai, ia dihujani panah dan Tombak, tombak dan panah itu dikisahakan merobek lambungnya, sehingga ususnya kemudian keluar dari perutnya.

Meskipun demikian Arya Penangsang tidak bergeming, ia menjuntaikan ususnya keluar, sambil memacu kudanya menuju sebrang Sungai. Arya Penangsang menyamirkan usunya kepuasakanya Keris Setang Kober yang terselip di pinggangnya.

Setiba di seberang Sungai Arya Penangsang menunjukan keperkasaannya, Pasukan Ki Pamanahan diobrak-abriknya. Melihat pasukannya yang kian menipis, Pamanahan, Panjawi, dan Raden Bagus menghadapi Arya Penangsang.

Manakala Arya Penangsang dapat menagkap Raden Bagus, Juru Mertani meminta agar Arya Penangsang membunuh Raden Bagus dengan keris pusakanya.

Dengan amarah yang meluap-luap, Arya Penangsang menghunus Keris Setan Kober dari werangkanya. Hasrat hati ingin membunuh tapi malang baginya. Arya Penangsang justru membunuh dirinya sendiri sebab ketika ia menghunuskan keris pusakanya Usus yang sebelumnya ia selipkan pada keris pusakanya itu terputus. Arya Penangsang kemudian wafat.

Setelah kewafatan Arya penangsang barulah kemudan Pemanahan Memenggal kepala Arya Penangsang. Wafatnya Arya Penangsang ditangan konspirasi Ki Pemanahan dan komplotannya ini terjadi pada 1549.

Begitulah kisah menganai wafatnya Arya penangsang. Selepas kemangkatannya. Maka Demak tidak lagi menjadi Kesultanan yang menguasai Jawa dan daerah-daerah taklukannya yang luas, melainkan haya sebagai Keadipatian bawahan Kesultan Pajang.

Baca Juga: Kerajaan Demak, Masa Pendirian, Kejayaan dan Keruntuhannya

Berkomentarlah yang terarah dan jelas agar dapat dipahami dan dibalas admin.
EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search