Kala Putri Jaka Tingkir Kepergok Mesum Dalam Kaputren

- Februari 03, 2019
Jaka Tingkir-mempunyai seroang putri yang cantiknya dikisahkan luar biasa, putri itu dijuluki sebagai Sekar Kedaton yang bermaksud kembangnya istana. Sebagai seorang Sultan tentu Jaka Tingkir tidak kesulitan dalam menjaga putri kesayanganya itu, putrinya ditempatkan dalam tempat khusus yang dijaga puluhan prajurit pilih tanding, tempat khusus untuk Putri Raja itu dikenal dengan nama Kaputren. Tapi penjagaan yang ketat itu rupanya kebobolan juga, sebab Putrinya itu ternyata kepergok mesum dengan seorang Pemuda didalam Kaputren.

Kisah mengenai kepergok mesumnya Sekar Kedaton ini dikisahkan dalam babad tanah jawi, kisah ini juga yang kelak melatar belakangi pemberontakan Keadipatian Mataram pada Kesultanan Pajang.

Baca Selengkapnya Dalam : Mataram Islam, Kerajaan Yang Lahir dari Amuk Gunung Merapi

Dalam babad tanah jawi disebutkan bahwa, laki-laki yang nekad menyatroni Kaputren untuk menemui Sekar Kedaton itu adalah Raden Pabelan, anak dari Tumenggung Mayang seorang pejabat Kesultanan Pajang yang masih kerabat dengan Sutawijaya Adipati Mataram.

Raden Pabelan sebenarnya merupakan kekasih dari Sekar Kedaton, entah bagaimana kisahnya akan tetapi yang jelas karena merasa tak tahan ingin menemui Sekar kedaton, Raden Pabelan rupanya nekad menerobos Kaputren, dikaputren keduanya dikisahkan bercumbu sebagimana layaknya dua insan yang dimabuk cinta.

Usaha nekad Raden Pabelan yang menemui Sekar Kedaton di lingkungan dalam Kaputren tempatnya para putri Raja ini rupanya membawa malapetaka baginya, ia ditangkap Prajurit Istana, kemudian diseret ke muka Raja.

Jaka Tingkir begitu memuncak amarahnya selepas mendapatkan laporan mengenai kejadian itu, apalagi ketika ia mendengar bahwa lolosnya Raden Pabelan ke Kaputren untuk menemui Putrinya itu diduga karena bantuan Tumenggung Mayang.

Entah karena terlalu emosi karena anak kesayanganya dinodai atau karena apa, yang jelas selepas peristiwa itu Raden Pabelan dijatuhi oleh Jaka Tingkir  dengan hukuman Mati.

Detik-detik dieksekusi matinya Raden Pabelan ini membuat Ibunda Raden Pabelan gelisah, iapun meminta bantuan pada kakanya Sutawijaya yang kala itu sebagai Adipati Mataram agar membujuk Jaka Tingkir untuk membatalkan hukuman mati Pada Raden Pabelan.

Tapi, usaha Ibunda Raden Pabelan itu rupanya sia-sia, sebab Permintaan Adipati Mataram tidak digubris, bahkan hukuman yang dijatuhkan Jaka Tingkir bertambah berlipat, sebab selain menghukum mati Raden Pabelan ia juga menghukum Tumenggung Mayang dengan penghinaan.

Tumenggung Mayang dilucuti jabatannya, dirampas kekayaannya, serta direncanakan akan dibuang bersama keluarganya ke Semarang untuk dihinakan.

Penjatuhan hukuman Mati dan penghinaan terhadap keluarga Tumenggung Mayang ini dapat dikatakan sebagai keputusan Jaka Tingkir yang paling gegabah, sebab sepertinya ia menjatuhkan hukuman bukan atas dasar pertimbangan kebijaksanaan, akan tetapi karena sikap emosionalnya semata. Sikap emosional yang meledak karena anak kesayanganya dianggap dikotori.

Kelak sikap gegabah Jaka Tingkir ini membuat murka Adipati Mataram, hingga kemudian Keadipatian Mataram memberontak ke Kesultanan Pajang. Bagi orang Mataram kehormatan keluarga adalah segalanya, alasan kehormatan itulah yang kemudian membuat orang-orang Mataram merasa termotifasi untuk sesegara mungkin menumbangkan Pajang.

Dalam kisah selanjutnya, Pajang mampu diruntuhkan Mataram. Keadipatian Mataram kelak menggantikan Pajang, menjelma menjadi Kesultanan besar yang wilayahnya hampir meliputi seluruh Pulau Jawa.

Baca Juga: Sejarah Kesultanan Pajang, Masa Pendirian, Kejayaan dan Keruntuhannya


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search