KH Abu Bakar Shofwan, PP Gedongan Cirebon

- Oktober 12, 2019
KH Abu Bakar Shofwan atau yang oleh santri dan penduduk dusun Gedongan disebut Kiai Abu adalah ulama ahli al-Quran yang kelak mendirikan Pondok Pesantren Madrasatul Huffadz 1 yang masih berada di lingkungan pesantren Gedongan, yaitu di Desa Ender Kecamatan Pangenan Kabupaten Cirebon. Selain dikenal sebagai ulama ahli Al-Quran beliau juga dikenal sebagai Kiai yang memiliki suara yang sangat merdu dalam melantunkan ayat-ayat suci al-Quran.

Kiai Abu dimata masyarakat Gedongan adalah Kiai yang bersahaja dan dekat dengan rakyat, beliau juga dikenal sebagai Kiai yang dermawan, atau orang dusun Gedongan menyebutnya dengan istilah “Kiai Loman”. Banyak orang Gedongan yang sangat menykai Kiai Abu terutamanya orang-orang yang sering bersentuhan dengan beliau seperti tukang Beca, Tukang Bangunan dan lain sebagainya.

KH. Abu Bakar Shofwan dilahirkan di desa Pejomblangan Kedungwuni Pekalongan pada tahun 1942. Ayah beliau adalah H. Shofwan bin Muharrir bin Muhamad bin Ahmad Prawiro bin Ahsan Prawiro bin Ahmad Prawiro bin Ahmad Abdullah. Kakek buyut Kiai Abu yang disebut terakhir ini merupakan saudara dari Kiai Khalil Bangkalan. Sedangkan ibu Kiai Abu bernama Hj. Timu binti Ahmad Jaiz Kudus yang merupakan keturunan dari Sunan Kudus.

Pada tahun 1949, Kiai Abu mulai masuk Sekolah Rakyat dan telah berhasil mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an 30 juz bi al-naz}ri dihadapan ayahnya. Setelah itu beliau melanjutkan mengaji pada Kiai Syarif Pekalongan. Setelah mengkhatamkan al-Qur’an pada Kiai Syarif, pada tahun 1953 Kiai Abu mulai menghafal al-Qur’an di Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah dibawah bimbingan Kiai Badawi dan selesai pada tahun 1959. Kemudian Kiai Abu melanjutkan pendidikannya di Pesantren Lirboyo yang saat itu diasuh oleh Kiai Mahrus Ali. Kiai Abu kemudian dinikahkan oleh Kiai Mahrus dengan Nyai Zaenab binti KH. Siradj, yaitu cucu dari KH. Muhamad Sa’id pendiri Pondok Pesantren Gedongan.

Dari pernikahan ini Kiai Abu tidak dikaruniai keturunan. Kiai Abu dikaruniai tiga orang anak dari pernikahannya dengan Nyai Umul Banin binti H. Sanusi. Putra putri beliau bernama Minnatul Maula (lahir 1993), Abdul Wahhab (lahir 1996), dan Ayu Fitriyah (lahir 2001).3 Kiai Abu wafat pada hari Senin, 30 Mei 2016 pukul 7.30 di RS Gunung Jati Cirebon dan dimakamkan di pemakaman umum Gedongan tidak jauh dari makam KH. Muhamad Sa’id.

Sejarah Pendirian d Pondok Pesantren Madrasatul Huffadz 1 Gedongan

Sejarah pendirian Pondok Pesantren Madrasatul Huffadz 1 tidak terlepas dari kaitannya dengan Pondok Pesantren Gedongan yang telah dirintis oleh KH. Muhamad Said pada pertengahan abad ke-18. Sejak awal didirikan, pondok pesantren ini adalah pesantren yang mengajarkan kitab-kitab salaf. Namun setelah KH. Abu Bakar Shofwan memperistri cucu KH. Muhamad Said yakni Nyai Hj. Zaenab binti KH. Siroj, ada warna baru dalam tradisi keilmuan Pondok Pesantren Gedongan. Kiai Abu mendirikan Pondok Pesantren Madrasatul Huffadz yang bergerak dalam bidang tahfiz al-Qur’an. Menurut kesaksian KH. Aqil Siradj, Pondok Pesantren Madrasatul Huffadz 1 merupakan pesantren tahfizh pertama di Cirebon.
Kiai Abu Bakar Shofwan Gedongan
Kiai Abu menikah dengan Nyai Zaenab pada tahun 1969, selang 40 hari kemudian Kiai Abu berinisiatif untuk mengambil adik perempuannya yakni Nyai Khadijah untuk dididik menghafal al-Qur’an. Pada saat itu kondisi Gedongan masih sangat sepi, geliat kegiatan keagamaan masyarakat pun belum terlalu terlihat, meskipun memang telah ada kegiatan pengajian kitab-kitab yang dibacakan oleh beberapa guru. Pada tahun 1973, Nyai Khadijah berhasil mengkhatamkan hafalan 30 juz Al-Qur’an.

Prestasi Nyai Khadijah langsung membuat masyarakat terkesima lalu berbondong-bondong menitipkan putraputrinya kepada Kiai Abu untuk dididik menjadi penghafal al-Qur’an. Melihat santri yang semakin banyak Kiai Abu membangun sebuah bangunan pesantren untuk menampung santri-santri.

Santri putra ditempatkan di langar sedangkan santri putri ditempatkan di dalam pesantren. Seiring perkembangan jumlah santri yang terus meningkat, Kiai Abu kemudian membangun satu lokal tambahan berdekatan dengan bangunan pertama. Saat ini kedua bangunan tersebut digunakan sebagai asrama Pondok Pesantren Madrasatul Huffadz II asuhan cucu Nyai Zaenab.

Setelah Kiai Abu wafat, Madrastul Huffadz I diasuh oleh Nyai Umul Banin yakni isteri Kiai Abu. Pada awalnya bangunan yang berada di belakang rumah Nyai Umul Banin tidak diniatkan untuk membangun pesantren. Kiai Abu hanya berniat membangun 3 kamar untuk ketiga anaknya. Namun setelah dimusyawarahkan, bangunan tersebut kemudian difungsikan sebagai asrama santri Madrasatul Huffadz I. Lantai satu ditempati oleh santri putra sedangkan lantai dua ditempati oleh santri putri.

Lokal santri putra dan putri disekat oleh tembok pembatas, sehingga meskipun berada di dalam bangunan yang sama santri putra dan putri tetap terpisah. Hingga saat ini Pondok Pesantren Madrasatul Huffadz I telah melahirkan ratusan alumni penghafal al-Qur’an yang tersebar di berbagai pelosok Indonesia bahkan hingga ke negeri tetangga.

Berkomentarlah yang terarah dan jelas agar dapat dipahami dan dibalas admin.
EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search