Tragedi Kucir 1913 Part II

- Desember 23, 2019
Pada Tahun 1913 Jaka Sari berjuang membela rakyat. Pada suatu ketika Jaka Sari dan Ki Murba Wijaya berangkat ke Sindanglaut (Cirebon Timur) untuk menghadap kepada seorang pembesar, namanya Raden Bunawan (Goenawan).

Sepulang dari Sindanglaut, lalu mereka membagi tugas: Muhammad Bogor sebagai Supir, Sanusi sebagai penasehat, Ki Tarmidi bertugas membagikan ilmu kesaktian, Kartawiguna dan Sahemin bertugas menyerang musuh, Ki Sapih sebagai penengah (Juru Runding), Ki Satu menjadi penyedia berbagai macam senjata.

Di Losari (Cirebon) musyawarah besar yang dihadiri oleh sejumlah santri dan ulama, para Bupati, dan para tetua. Sidang dipimpin oleh Raden Bunawan (Goenawan), adapun hasil yang diputuskan adalah “Orang Cina harus di serang karena mereka adalah penjajah di Pulau Jawa. Selain itu, mereka juga harus berbaur dengan masyarakat lokal atau orang-orang Jawa”.

Raden Bunawan menyampaikan pada Ki Mandaka untuk segera berangkat menuju Arjawinangun (Cirebon). Ki Mandaka segera bersiap-siap menjalankan printah Raden Bunawan.

Muhamad Bogor memerintahkan Ki Tarmidi, Raden Sanusi dan Jaka Sari untuk segera ke Kota Jamblang (Cirebon). Keberangakatan dikawal oleh segerombolan santri. Di sana Ki Brahim, juga para Haji dan Santri brsiap menyambut kedatangannya. Ki Tarmadi yang menerima mandat langsung dari Muhammad Bogor, menyampaikannya kepada Ki Brahim bahwa hari itu juga diiznkan untuk menyerang orang-orang Cina.
Ilustrasi Kucir Cina
Tibalah mereka di Jamblang. Ki Brahim menyampaikan kepada Baba Seng Kik bahwa Kucir orang-orang Cina akan dipotong, dengan alasan untuk dijadikan azimat supaya banyak mendapatkan ikan saat melaut. Tak lama kemudian keluarlah Baba Keng Wan disusul oleh Baba Su Wing sambil membawa pedang dan senjata. Perkelahian terjadi. Orang-orang Cina menembaki para santri tapi meleset, Cina kalah bertempur. Banyak orang Cina yang tewas sebagian ada yang melarikan diri, sementara nyonya-nyonya menangis ketakutan.

Cina Jamblang menyerah, mereka berfikir lebih baik kucirnya dipotong daripada diusir dari tanah Jawa. Mereka lalu menghadap kepada Demang Wijaya untuk meminta Beos (Surat Izin Tinggal).

Mendengar berita dari Cina Jamblang, Cina Plered meminta bantuan pada Cina Jatiwangi (Majalengka). Setelah tiba di Jatiwangi, Cina Plered bergabung dengan Cina Jatiwangi lalu berangkat menuju Leuwi Munding (Majalengka). Di Kota ini orang-orang Cina berkumpul siang dan malam memikirkan bagaimana menghadapi kaum santri, mereka semuanya ketakutan kecuali Baba Su In, Sung Yat dan Sang Wi, tiga pendekar itu tidak tembus oleh berbagai macam senjata dan siap menghadapi musuh baik para santri, haji maupun ulama.

Tiga pendekar Cina beserta pasukannya bersiap siaga menghadapi kaum santri. Raden Sanusi dan Durajak menyusup dari belakang. Dengan balok kayu besar mereka menyerang orang-orang Cina sehingga banyak yang tewas. Baba Sang Wi dan Sung Yat lari terbirit-birit, seluruh isi rumah orang Cina luluh lantak. Tidak lama kemudian datanglah Demang Suwirya besama Upas dan Serdadu, membawa Bedhil, Pedang dan Meriam.

Pak Murba Wijaya, Jaka Sari, Suhemin dan Muhammad Bogor beserta para santi bergerak menuju pemukiman orang Cina di Arjawinangun (Cirebon), disana musuh sudah merapatkan barisan, Suhrmin menyusup ke rumah orang Cina, masuk ke kandang babi dan memberikan cairan pada minuman babi. Tiba-tiba ratusan babi mengamuk, menggigit dan menyerang nyonya-nyonya Cina. Akibatnya banyak nyonya-nyonya Cina yang terluka. Baba Keng Nyok yang dianggap berani oleh teman-temannya hanya diam terheran-heran. Segerombolan prajurit Cina langsung dikepung dari berbagai arah. Mereka akhirnya tak dapat berbuat apa-apa.

Orang-orang Cina Ajawinangun akhirnya memasrahkan diri pada Demang Gurinda. Kucir merka dipotong satu persatu, lalu dimasukan kedalam peti dan dibawa ke distrik. Sejak kejadian itu setiap bulannya orang-orang Cina Arjawinangun harus membayar upeti.

Di Ceritakan, di Indramayu, Kiai Sueib dan para santrinya siang malam bermusyawarah di rumah Haji Harun, Kalimati. Sementara para Haji (dari Tegalurung) serta Kiai Idris dan Kiai Mail (dari Wotgalih) bermusyawarah di Singaraja, tepatnya di kediaman Haji Sidiq.

Ki Tarmidi meluncur ke Losari, menghadap kepada Raden Bunawan. Disana Raden Bunawan menginstruksikan Tarmidi untuk bergerak sebelum hari Rabu Manis supaya mendapatan kemenangan. Ki Tarmadi menjemput Ki Murba, Jaka Sari, Raden Sanusi, Durajak dan Sahemin. Lalu mereka menuju Kalimati. Kepada teman-temannya Ki Tarmidi memberi tahukan bahwa pada ba’da Jumat berkumpul di Singaraja, Ki Tarmidi yang dikawal segerombolan santri disambut oleh Haji Harun beserta santri-santrinya.

Tiga Ulama asal Lelea, yakni Kiai Prana, Kiai Saripin dan Kiai Maruk berangkat menuju Singaraja pada hari Jumat Tanggal 8. Mereka berjalan melewati Desa Larangan. Sampai di Pasar Celeng, mereka dihadang oleh Cina Celeng. Kiai Prana naik pitam membentak orang Cina sehingga mereka bertiga diserang. Bahkan Kiai Sarip sempat beseteru dengan Baba King Wat. Tiga Ulama berlari kencang hingga terjebur di sungai. Mereka terus berlari masuk ke rumah-rumah penduduk. Akhirnya mereka tiba di Singaraja.

Dengan nafas masih tersenggal-senggal kelelahan. Kiai Sarip memberi tahu Kiai Jakariyah bahwa Cina Lelea menyiapkan perlawanan pada para santri. Orang-orang Cina disanapun berani menghina para Ulama. Kiai Sarip memint penjelasan yang sebenarnya. Ki Tarmidi lalu mengajak kiai Sarip dan dua temannya untuk bergabung.

Para ulama berangkat menuju Celeng, tiba di perbatasan Slaur, ada penjagaan ketat. Baba Ke Ih melarang siapapun yang melewati perbatasan itu. Para Kiai memaksanya. Hasilnya Kiai Sarip, Kiai Prana, dan Kiai Sanusi menyerangnya. Kemudian Kiai Sanusi menembaki orang-orang Cina. Baba Ke Kih dan Sung Kahi yang mencoba menyerang dengan senjata malah ditendang oleh Ki Sanusi hingga tumbang. Sementara Durajak hanya tersenyum saat menyaksikan Baba King Sang memasang kuda-kuda. Hanya sekali pukul pada bagian dadanya Baba King Sang ambruk oleh Durajak.

Orang-orang Cina berlarian masuk ke rumah. Para santri mengejarnya masuk, menghancurkan meja, kursi dan seluruh isi rumah. Kepala Baba Kek Nyo terkena pecahan beling. Nyonya-nyonya menjerit ketakutan. Suhemin, Jaka Sari dan Murba Wijaya mencari prajurit Cina. Sebagian ada yang tertangkap sebagian ada yang melarikan diri, bahkan banyak yang tewas, termasuk Baba Munding Yat. Seluruh isi rumah hancur berhambuaran di jalan. Seorang pemuda Cina bernama Baba Cu Tin datang menantang. Durajak menangkapnya.

Kisah selanjutnya baca di: Tragedi Kucir 1913 Part III

Berkomentarlah yang terarah dan jelas agar dapat dipahami dan dibalas admin.
EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search