Iskandar Muda, Sultan Aceh Yang Berpolemik Dengan Wanita Cantik

- Desember 14, 2017
Sultan Iskandar Muda adalah salah satu Raja dari Kesultanan Aceh beliau bertahta dari tahun 1607 sampai 1636. Dibawah Iskandar Muda Aceh berada dizaman kejayaan, sebab pada masa ini, Aceh berhasil menjajah sebagian kerajaan-kerajaan di Sumatra seperti Deli, Asahan, Minangkabau, bahkan juga berhasil menjajah kerajaan-kerajaan di Semenanjung Melayu dan bahkan menguasai jalur perdagan Selat Malaka[1]
Iskandar Muda diceritakan sebagai sosok Sultan yang pintar, ambisius dan Keras terhadap pembangkang, begitulah gambaran mengenai Sultan Iskandar Muda. Akan tetapai ternyata ada gambaran lain yang belum banyak diungkap orang mengenai Sultan ini, yaitu  watak Sultan Iskandar Muda yang menyukai wanita-wanita Cantik, bahkan dari kisah-kisah seputar kebesaran Aceh dijaman Iskandar muda ini, ditemukan data bahwa Sultan terhebat dalam kerajaan Aceh ini penah berpolemik dengan wanita-wanita cantik yang menolak pinangannya. 

Ada dua alasan bagi penulis untuk menyatakan bahwa Sultan Iskandar Muda, mempunyai watak atau sikap memaksa untuk memiliki wanita-wanita cantik yang ia inginkan. Sehingga kemudian menimbulkan polemik diantara keduanya. Adapun lasan-alasan yang di ajukan adalah sebagai berikut:

Alasan Pertama

Penjajahan Kerajaan Aceh dibawah Sultan Iskandar Muda terhdap beberapa Kerajaan Melayu disemenanjung dimulai dengan menyerang Johor pada tahun 1613 dan menawan sultan Johor, Alauddin Riayat Shah III. Namun kekuasaan Aceh di Johor hanya berlangsung sebentar karena pada tahun berikutnya pasukan Johor mengusir pasukan Aceh. Pada tahun 1617, Aceh menyerang Pahang.

Kemudian pada tahun 1619, sultan Iskandar Muda menyerang Kedah. Pada tahun 1620, Kerajaan Perak yang terletak di selatan Kedah juga ditaklukkan. Aceh juga berupaya mengusir Portugal dari kota Malaka pada tahun 1629, namun serangan ini gagal. Khusus Pada penaklukkan Pahang, Sultan Iskandar Muda mengambil anak sultan Pahang yang bernama Alaudin Mughayat Syah sebagai menantu, dan mengawikanya dengan putrinya Tajul Alam[2] 

Selain mengambil Putra Raja taklukanya sebagai menantunya, rupanya berdasarkan bukti-bukti Arkeologis yang masih ada di Aceh diketahui juga bahwa Raja Iskandar Muda juga mengambil puteri tercantik di Pahang, dalam sejarah Aceh sendiri tidak disebutkan namanya, hanya saja Puteri ini disebut dengan sebutan Puteri Pahang (Yang Bermaksud Seorang Puteri Yang Berasal Dari Kerajaan Pahang).

Jika kita memahami ulasan sejarah di atas dapatlah difahami bahwa Sultan Iskandar Muda yang sudah tua itu, ternyata masih berambisi untuk mengawini seorang gadis muda, terang saja Putri Pahang dalam perkawinan ini tak merasa bahagia, sebab itulah dikisahkan dalam sejarah Aceh, bahwa untuk mengusir kesedihan Putri Pahang, Sultan Iskandar rela membuat sebuah taman khusus untuk bermain-mainnya Puteri Pahang. Taman tempat bermainnya Putri Pahang itu sekarang dikenali dengan nama Taman Gunongan.  

Penulis beranggapan bahwa sang Puteri Pahang itu pasti berusia sangat muda, sebab beliau masih suka bermain-main. Seroang Puteri yang sudah Dewasa tentu lebih suka kemewahan ketimbang dibuatkan mainan, bukan begitu?, Inilah alasan pertama yang diajukan penulis jika memang benar bahawa Sultan Iskandar Muda menyukai gadis-gadis cantik yang muda-muda untuk dijadikan Istri atau mungkin juga selirnya.

Alasan Kedua

Jika alasan pertama membuktikan bahwa Sultan Iskandar Muda merupakan Sultan yang menyukai wanita Cantik, maka dalam alasan ini akan penulis buktikan bahwa ternyata Sultan Iskandar juga terbukti bisa memaksa jika wanita cantik yang hendak ia nikahi menolaknya, meskipun ia anak seorang Raja. Kalau anda menanyakan buktinya apa? Maka demikianlah jawabanya:

Dalam cerita Rakyat Melayu Deli diceritakan dahulu pernah Hidup seorang Putri cantik rupawan bernama Putri Hijau, Putri Hijau diceritakan menolak lamaran Raja Aceh, karena menolak kemudian Raja Aceh menyerang kerajaan sang putri, dalam serangan itu dikatakan kerajaannya Putri Hijau dapat ditaklukan, dan kemudian Putri Hijau diculik dan dibawa ke Aceh[3]

Dalam cerita rakyat di atas dikatakan bahwa Putri Hijau itu merupakan Puteri dari Kerajaan Aru/Haru yang terletak di Pulau Sumatra (sekarang Deli/Medan/Karo). Pertanyaan selanjutnya siapa Raja Aceh itu..? Pernakah Aceh menyerang Kerajaan Aru..? maka jawabnya demikian:

Ada dua sosok kemungkinan Raja Aceh yang terlibat dalam polemik cinta ditolak yang berbuah perang dengan kerajaan Aru ini yaitu:
(1)Sultan Alauddin bin Ali Malik az Zahir yang menjabat  dari tahun 1537 Sampai 1568[4] Sultan Ke 5 Kerajaan Aceh Darusalam, dan
(2)Sultan Iskandar Muda yang menjabat  dari tahun 1607 sampai 1636 Sultan Ke 14
Kenapa penulis mengajukan kedua Sultan itu, karena memang dalam sejarahnya, pada masa kedua Sultan di atas, tercatat Aceh pernah melakukan serangan terhadap kerajaan Aru.

Catatan Portugis menyebutkan  pada 1539 Aceh melakukan serangan pada Kerajaan Aru, pada serangan ini Raja Aru Sultan Ali Boncar terbunuh oleh pasukan Aceh. Sementara itu Ratu Aru, kemudian meminta bantuan baik pada Portugal di Malaka maupun pada Johor. Armada Johor menghancurkan armada Aceh di Haru pada 1540. Aceh kembali berusaha menaklukan Haru pada 1564. Sekali lagi Haru berkat bantuan Johor berhasil mendapatkan kemerdekaannya[5] difahami dari tahun kejadiannya jelas masa ini merupakan masa pemerintahan Raja Ke 5 Kesultanan Aceh.

Selanjutnya dalam surat Sultan Iskandar Muda yang ditujukan kepada Best yang ditulis pada tahun 1613 dikatakan, bahwa Raja Aru telah ditangkap, waktu itu dalam rangka penaklukan Aru Aceh mengirim 70 ekor gajah dan sejumlah besar persenjataan untuk melakukan penyerbuan ke Aru. Dalam masa ini sebutan Haru atau Aru juga digantikan dengan nama Deli dan kemudian resmilah Aru atau Deli menjadi jajahan Aceh[4].

Memahami perang Aceh Vs Aru di atas dapatlah kemudian dipahami bahwa Perang Pertama dalam jaman Sultan Ke 5 Aceh meskipun diceritakan Aceh dapat membunuh Raja Aru akan tetapi peperangan tidak sampai menaklukan Aru, akan tetapi pada saat Aceh di Rajai oleh Sultan ke 14, jelas Aceh dikatakan dapat menaklukan Aru. 

Berdasarkan hal tersebut, penulis lebih condong bahwa polemik antara Aceh dan Aru yang disebabkan keinginan Sultan Iskandar untuk memiliki putri cantik yang tak kesampaian itu terjadi pada masa perang ke II antara Aceh Vs Aru. Oleh karena itu maka lengkaplah dalam alasan yang kedua ini bahwa memang Sultan Iskandar Muda berwatak menyukai wanita-wanita cantik, dalam kata lain jika wanita tersebut menolak maka dipaksa, oleh karena itu dimungkinkan perang besar penaklukan Aru oleh Aceh dalam masa Sultan Aceh ke 14 ini salah satu penyebabnya karena dilatar belakangi oleh keinginan Sultan Iskandar Muda untuk memperistri Puteri Hijau yang ditolak, demikianlah kesimpulannya.

Selain dikenal sebagai Sultan yang berpolemik dengan wanita Cantik, watak Sultan ini juga terbilang keras, sebab pada umur 12 tahun saja beliau dikisahkan pernah membunuh kerbau jalang, begitulah apa yang dituliskan dalam hikayat Iskandar Muda. Untuk dapat memahami kisah utuh mengenai Sultan ini, silahkan anda baca dalam artikel kami berikutnya;

Baca Juga: Riwayat Sultan Iskandar Muda, Lahir Hingga Menjadi Raja Aceh Ternama

Referensi
[1] Reid, Anthony. Asal Usul Konflik Aceh: Dari Perebutan Pantai Timur Sumatra hingga Akhir Kerajaan Aceh Abad ke-19. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2005. ISBN 979-461-534-X. Hlan 3
[2]Diakses.2-14-2017. https://brainly.co.id/tugas/1760798
[3] Diakses 2-14-2017. https://daerah.sindonews.com/read/1110248/29/kisah-meriam-puntung-puteri-hijau-dan-kerajaan-aceh-1463753782
[4] Lombard, Denys. Kerajaan Aceh: Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Jakarta: Kepustakan Populer Gramedia, 2006. ISBN 979-9100-49-6
[5]Diakses 2-14-2017. https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Aru

7 Comments

avatar

Belajar yang rajin dulu brooo.... Baru berbicara Sejarah...

avatar

Tulisan yang sangat tendensius... argemen yang terburu-buru, tanpa mengindahkan etika sejarah, serta tak mengindahkan keakuratan data. Sebagai rakyat Aceh saya tidak menerima tuduhan tersebut, tetapi apa hendak dikata, mungkin penulisnya kurang piknik. Kalau masalah cewek cantik saya juga suka, apa lagi Sultan Iskandar muda, Hamengkubuwono VIII saja selirnya sampai 40... belum raja2 yang lainnya... minum zus aja sob, biar seger tuh otaknya... maaf

avatar

Asal tulis berita, kacau balau

avatar

Yang Kacau Balau pada bagian mananya?

avatar

Terimakasih tanggapanya, tapi bantahannya sisi mananya ya?

avatar

Assalamualaikum...

Salam sayang dari Kepulauan Riau, Indonesia...

Dalam masa 1537 sampai 1636 itu Kepulauan Riau masih menjadi bagian dari Kerajaan Johor..... saya ingin mengajukan argumen...

1. Serangan Iskandar Muda ke Pahang kemudian beliau menjadikan Puteri Pahang sebagai istrinya, itu dalam lingkupan "penaklukan"... namun Iskandar Muda juga terbukti membangun Taman untuk menghibur Puteri Pahang (bukti beliau berusaha membahagiakan puteri pahang tersebut)...

Hanya satu itukah fakta sejarahnya sehingga anda memfonis Sultan Iskandar Muda hobi gadis-gadis cantik yang muda?

Lagipula kalau saya seorang Sultan pun.. tentulah saya akan melakukan hal yang sama... tetapi apakah ada rekor lebih parah dari memperistri puteri Pahang sehingga anda bisa memvonis demikian?

2. Sultan Alauddin Bin Ali Malik Az Zahir (1537-1568) bukan orang yang sama dengan Sultan Iskandar Muda.. kenapa seolah anda membangun opini bahwa mereka ini sosok yang sama dalam balutan kisah Puteri Kerajaan Aru?

3. Sekedar informasi... Ratu Kerajaan Aru berlayar ke Bintan (Sekarang Pulau di Kepulauan Riau, Indonesia. Dulu bagian dari Kerajaan Johor) pada masa serangan Kerajaan Aceh tersebut.
Kerajaan Johor berhasil membendung serangan Aceh di Kerajaan Aru.... (1539, 1540 dan 1564 seperti yang anda tulis diatas)
Kemudian sang Ratu disebutkan dalam hikayat Bintan menikah dengan Raja Bintan (Raja dan Sultan sosok yang berbeda dalam susunan perlembagaan Melayu).

intinya Ratu Aru tidak berhasil dinikahi Sultan Aceh (Bukan Iskandar muda melainkan Sultan Alauddin)... kenapa anda mengaitkan Serangan Sultan Iskandar kemudian hari dengan alasan serangan Sultan Alauddin?

4. Serangan Aceh 1613 dibawah komando Sultan Iskandar murni merupakan penaklukkan atau perluasan kekuasaan... karena dalam tulisan anda sendiri tidak mencatat wanita mana lagi yang ia peristri.. karena pada zaman tersebut Ratu Aru sudah tua atau mungkin sudah tiada.,.. mengapa serangan Sultan Iskandar ke Aru anda kaitkan dengan ambisi Sultan untuk memperistri wanita cantik di Aru (Deli)...

* Kalaupun Sultan Aceh mau menikahi wanita-wanita cantik beliau tidak perlu pergi mencari kemana-mana hingga harus memerangi kerajaan lain... toh di Aceh masih sangat banyak wanita cantik yang mungkin jauh lebih cantik dari wanita-wanita di daerah lain....

> intinya alasan Seorang Sultan atau raja untuk menaklukkan kerajaan lain bukan dengan alasan wanita.. tetapi lebih kepada memperluas taklukan,,, sedangkan kalau ada kasus dikemudian hari Seorang Sultan memperistri wanita dari daerah taklukkan nya.. saya rasa itu terjadi hampir di seluruh belahan dunia.... Ego sebagai pemenang belum absah kalau belum memiliki wanita cantik dari daerah taklukkannya tersebut....

Tambahan... > saya tau perang segitiga, Portugis-Johor-Aceh.... Sultan-sultan yang disebutkan diatas merupakan rival negeri saya suatu ketika dulu... tetapi saya merasa iba kalau sampai musuh-musuh nenek moyang saya divonis dengan cara diatas....
Kita berperang karena politik.. bukan karena wanita semata... salam dari bualsejarah.com Terimakasih.. dan mohon maaf

avatar
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search