Kerajaan Pajajaran, Masa Pendirian, Kejayaan Dan Kehancurannya 1482-1579

- Desember 11, 2017
Kerajaan Pajajaran merupakan kerajaan yang didirikan oleh suku bangsa Sunda, kerajaan ini terletak di Pulau Jawa bagian barat, pada masa kejayaanya wilayahnya membentang dari Cilacap sampai ke Banten[1]. Nama lengkap dari kerajaan Ini adalah Kerajaan “Pakuan Pajajaran” Pakuan Sendiri diambil dari kata paku sementara Pajajaran bermaksud berjajar atau sejajar, oleh karena itu pakuan pajajaran bermaksud paku yang berjajar atau paku yang sejajar. 
Ilustrasi
Menurut Rouffaer[2] meskipun kata ‘Pakuan” mengandung pengertian "paku", akan tetapi harus diartikan "paku jagat"  yang melambangkan pribadi raja seperti pada gelar “Paku Buwono” dan  “Paku Alam” dalam tradisi Raja-Raja di Kesultanan Mataram. Oleh karena itu kata "Pakuan" menurut pandangan Fouffaer setara dengan "Maharaja". Kata "Pajajaran" diartikan sebagai "berdiri sejajar" atau "imbangan". Yang dimaksudkan Rouffaer adalah berdiri sejajar atau seimbang dengan Majapahit. 

Dengan demikian maka dapatlah dipahami bahwa Pakuan Pajajaran berarti "Kemaharajaan yang berdiri sejajar atau seimbang dengan Kemaharajan Majapahit". Hal ini sesuai dengan fakta-fakta sejarah yang menyatakan bahwa Sunda adalah wilayah satu-satunya yang tak dapat ditaklukan oleh Majapahit. Maka pantaslah Kerajaan di Sunda ini kemudian memproklamirkan diri sebagai “Pakuan Pajajaran”.

Masa Pendirian

Pakuan Pajajaran didirikan pada 1433 Masehi[3] oleh Sribaduga Maharaja, atau biasa dikenal dengan sebutan Prabu Silihwangi. Perlu dipahami bahwa nama lain dari kerajaan ini adalah kerjaan Sunda Galuh, dinamakan Sunda Galuh, karena pada hakikatnya kerjaan ini adalah gabungan dari kedua kerajaan yang didirikan oleh suku bangsa Sunda yang ada di tatar Pasundan.

Waktu itu di Jawa Barat terdapat dua kerajaan yakni Kerajaan Galuh yang ber ibukota Kawali (sekarang masuk wilayah Kab Ciamis) dan Kerajaan Sunda yang beri bukota di Pakwan (sekarang masuk wilayah Kab/Kota Bogor)
Peta Wilayah Kerajaan Pajajaran Sebelum Disatukan
Pendirian Kerajaan Sunda Galuh atau Pakuan Pajajaran ini diduga sebagai gerakan antisipasi Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda terhadap Invasi Majapahit, karena memang pada tahun sebelum-sebelumnya Majapahit pernah melakukan penyerangan terhadap kerjaan Galuh, bahkan juga pernah menipu Kerajaan Galuh sebagaimana dalam peristiwa perang Bubat itu[4].

Dengan bersatunya kerajaan Galuh dan Sunda tentu Majapahit waktu itu fikir panjang untuk melakukan Invasi ke Jawa Barat. Dengan demikian maka tidaklah mengherankan jika Kerajaan Sunda Galuh kemudian memproklamirkan diri menjadi “Pakuan Pajajaran” yang bermaksud Kemaharaajaan yang setara Dengan Majapahit.

Baca Juga: Mantri Lěs Dan Beleteng Panglima Perang Majapahit Dalam Invasi Ke Sunda

Masa Kejayaan

Masa Kejayaan Kerajaan Pajajaran dimulai dari diangkatnya Sribaduga Maharaja menjadi raja kerajaan ini yaitu pada tahun 1482 Masehi, pada tahun diangkatnya Sribaduga menjadi Raja diraja diseluruh Sunda ini dikabarkan terjadi kehebohan di Sunda, karena pada waktu itu diceritakan iring-iringan Rombongan Prabu Sribaduga pindah dari Galuh-ke Bogor (Pakwan) untuk menduduki Istana Sang Bhima Nararayan  menjadi perhatian masyarakat. Karena setelah beratus-ratus tahun lamanya akhirnya orang Sunda kembali dibawah satu Raja lagi.

Pada masa ini juga diceritakan sebagai masa keemasan kerajaan, karena pada masa ini dibangun banyak Insfrastruktur diantaranya pembangunan Parit yang mengelilingi Ibukota Kerajaan, parit-parit tersebut dibangun untuk perbaikan pengairan pertanian rakyat sekaligus juga untuk pertahanan kerajaan. 

Sepeninggal Sribaduga Maharaja 1521, tahta kerajaan kemudian beralih kepada Prabu Surawisesa yang bertahta pada 1521 – 1535, pada masa Raja inilah Pajajaran mengadakan perjanjian dengan Portugis, guna menghadapi ancaman-ancaman yang mungkin ditimbulkan dari bangkitnya kerajaan-kerajaan Islam di Pulau Jawa.

Pada tahun 1535 Prabu Surawisesa mangkat dan digantikan oleh Ratu Dewata, beliau menjabat dari 1535 – 1543, setelahnya kemudian pada Tahun 1543 – 1551 Ratu Dewata digantikan oleh Ratu Sakti. Masa ke empat raja-raja di atas trersebut merupakan masa kejayaan Kerajaan Pajajaran, meskipun pada masa ini juga Perjanjian Pajajaran dengan Portugis kemudian digagalkan oleh Demak dan Cirebon. 

Masa Kehancuran

Meskipun Pakuan Pajajaran pada awalnya didirikan sebagai wujud penyatuan agar tidak dapat ditaklukan oleh Majapahit, akan tetapi tetap saja pada nyatanya usaha Pajajaran ini ternyata kemudian gagal ketika menghadapi Cirebon dan Banten. Benih-benih Kehancuran kerjaan pajajaran dimulai ketika Demak dan Cirebon berhasil mengusir Portugis dan Menguasai Sunda Kelapa dan Banten, setelah peristiwa itu kemudian Kerajaan Cirebon menobatkan Banten menjadi Kesultanan dengan mengangkat Pangeran Sebakingkin[5] sebagai Sultan Pertamanya.

Pada waktu Pajajaran diperintah oleh Ratu Nilakendra pada 1551-1567 Pajajaran kemudian diserang oleh Pangeran Sebakingkin, Perang dan Saling serang antara dua kerjaan ini terjadi berlarut-larut, hingga kemudian dalam serangan yang mematikan Pangeran Sebakingkin berhsil menjebol pertahanan Pajajaran dan menguasai Ibu Kota Kerajaan. Ratu Nilakendara pun kemudian meninggalkan Istana dan dikhabarkan mangkat di Pandegelang.

Dalam Pelariannya rupanya Ratu Nilakendara sebelum kemangkatannya  mengangkat Raga Mulya menjadi penerusnya, beliau memerintah dalalm pelarian dari tahun 1567 – 1579, pusat kerajaan pajajaran pada tahun ini dialihkan di Pandegelang, akan tetapi pada tahun 1579 Maulana Yusuf anak dari Pangeran Sebakingkin kemudian berhasil menaklukan secara total Pajajaran dengan cara membumi hanguskan pandegelang.

Catatan Kaki
[1] Merujuk Dari Batas wilayah Kerajaan Suda Dan Galuh
[2] G.P. Rouffaer dalam Encyclopedie van Niederlandsch Indie edisi Stibbe tahun 1919
[3] Pendapat Hoesein Djajaningrat 1913
[5] Pangeran Hasanudin, Anak Sunan Gunungjati dari Nyimas Kawunganten


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search