Biografi Joko Widodo Presiden RI Ke-7

- Desember 23, 2018
Joko Widodo atau yang biasa dipanggil Jokowi dalah Presiden RI ke 7 yang populer, bahkan tingkat kepopulerannya mendunia, begitulah memang adanya, Presiden yang terkenal dengan ucapannya “Kerja-Kerja-Kerja” ini pada masa kanak-kanaknya terbilang sengsara, sementara diwaktu  SMA  ia dikenal sebagai pemuda yang berhak berambut Gondrong karena prestasinya membanggakan sekolah, dimasa kuliah ia berhasil menghidupkan desa mati secara ekonomi ketika ia melakukan PKL/KKN, adapun dimasa-masa pencalonanya menjadi Presidenpun ia terbilang mujur sebab mengalahkan capres terkuat waktu itu.

Ditinjau dari biografinya Jokowi adalah seorang anak tukang kayu yang lahir di bantaran Kali Pepe. Beliau adalah anak lelaki pertama dari pasangan Noto Mihardjo dan Sujiatmi Notomiharjo. Semasa kecilnya Jokowi sudah beberapa kali berpindah tempat tinggal.

Sama seperti anak-anak desa lainnya, Jokowi senang bermain di kali bersama teman-temannya serta ke sawah untuk mencari telur bebek yang tertinggal. Tinggal di bantaran kali tidak menyurutkan semangatnya untuk giat belajar, walau hanya bermodal lampu semprong pada malam hari, Jokowi selalu belajar bersama adikadiknya. Hal ini dikarenakan tempat tinggalnya tidak ada aliran listrik, berbeda dengan keadaan tempat tinggal yang ada di sebrang bantaran kali yang terang benderang oleh cahaya lampu.

Sebagai anak lelaki pertama dengan tiga adik perempuan, Iit Sriyanti, Hidayati, dan Titik Ritawati, membuat Jokowi sadar bahwa ada tanggung jawab yang harus dipikul menggantikan peran bapaknya dalam berbagai hal ketika berhalangan, dan juga bapaknya berharap agar Jokowi dapat melanjutkan usahanya sehingga selalu diajarkan kepadanya segala hal yang berhubungan dengan seluk beluk perdagangan kayu dan bambu. Sehingga hari libur Jokowi kecil pun digunakan untuk membantu bapaknya.

Baca Juga: Silsilah Jokowi

Dengan keadaan yang serba pas-pasan tidak serta merta menghalangi prestasi belajarnya. Jokowi selalu mendapatkan juara kelas di sekolahnya. Jokowi selalu ingin membuktikan bahwa anak bantaran kali juga bisa berprestasi seperti orang kota yang kaya-kaya.

Jokowi kecil memulai pendidikannya diawali dengan masuk SD Negeri 111 Tirtoyoso yang dikenal sebagai sekolah untuk kalangan menengah ke bawah. Di mata guru SD-nya, Sutarti Wardojo, ia telah memiliki jiwa kepemimpinan semenjak SD.

Dengan kesulitan hidup yang dialami, ia terpaksa berdagang, mengojek payung, dan jadi kuli panggul untuk mencari sendiri keperluan sekolah dan uang jajan, serta membantu bapaknya untuk bongkar muat gerobak atau becak apabila ada barang datang atau pembeli, sehingga membuatnya mengenal kemandirian dan mendapatkan uang saku tambahan.

Setelah lulus SD, ia kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Surakarta. Sewaktu SMP prestasi Jokowi juga sangat baik, dan selalu mendapatkan peringkat di kelasnya. Saat SMP inilah Jokowi mengenal musik rock. Pada waktu itu Jokowi diajak temannya untuk melihat pentas musik rock Trenchem di Lapangan Jebres.

Gaya band tersebut dijadikan contoh oleh Jokowi dalam berpakaian dan menata rambut, dan akhirnya Jokowi pun memutuskan untuk tidak memotong rambutnya agar terlihat keren seperti para rocker.

Sejak saat itu Jokowi sangat mengagumi dengan band-band rock, bahkan dia sering menyisihkan uang jajannya untuk membeli poster-poster band rock yang sering ia beli di daerah Terminal Tirtonadi untuk ditempelkan di dinding kamarnya yang kala itu masih terbuat oleh dinding kayu.

Ketika ia lulus SMP, ia sempat ingin masuk ke SMA Negeri 1 Surakarta, namun gagal karena NEM (Nilai Ebtanas Murni) masih kurang untuk masuk ke sekolah tersebut. Sehingga pada akhirnya ia masuk ke SMA Negeri 6 Surakarta.

Pada awalnya ia cuek dengan sekolahnya karena ia masih ingin untuk masuk ke SMA Negeri 1, tetapi akhirnya diambil sisi positifnya karena dengan masuk SMA Negeri 6 menjadikan ia murid dengan NEM yang termasuk tinggi, dan dengan masuk sekolah tersebut pun rambutnya bisa dibiarkan panjang tanpa dipangkas.

Dibesarkan di lingkungan yang akrab dengan kemiskinan dari bayi sampai SD dan baru merasakan hidup layaknya teman-teman lain sejak SMP membuatnya masih nerasakan berada di dunia yang baru ketika bersama keluarganya menempati rumah di bilangan Jalan Ahmad Yani, setelah sebelumnya selama lebih dari setahun menumpang di rumah pakdenya. Walaupun demikian tidak menyurutkan prestasi belajarnya sewaktu SMP sampai lulus SMA. Jokowipun akhirnya lulus SMA dengan menjadi juara umum lagi.

Setelah lulus SMA Jokowi bingung akan meneruskan ke perguruan tinggi atau tidak, ini dikarenakan ada ketiga adiknya yang masih sekolah. Jokowipun berniat untuk membantu bapaknya bekerja tetapi bapaknya menyuruh Jokowi untuk meneruskan ke perguruan tinggi.

Jokowi akhirnya diterima di UGM dan di sana ia meraih gelar insinyur dari Fakultas Kehutanan pada tahun 1985 serta mendapat predikat pemuda teladan dan pelopor pembangunan karena sukses menjadikan desa-desa mati menjadi desa industri ketika Kuliah Kerja Nyata.

Setelah lulus kuliah, Jokowi mendapatkan tawaran pekerjaan di pabrik kertas di Aceh. Keluarga, dan tentu saja Iriana yang kala itu menjadi kekasihnya pun memberikan persetujuan supaya Jokowi mendapatkan pengalaman baru.

Setelah satu setengah tahun bekerja di Aceh, Jokowi memberanikan diri untuk melamar Iriana, dan akhirnya pada Rabu, 24 Desember 1986 mereka menikah di Turisari yaitu rumah keluarga Iriana dan kemudian usai melaksanakan pernikahan, Iriana dibawa ke Aceh untuk tinggal dengannya. Kemudian setelah setengah tahun Iriana hamil dan Jokowi berencana untuk kembali ke Solo.

Di Solo ia merintis usaha toko mebel dan lambat laun seiring berjalannya hari, usaha yang dirintisnya mengalami kemajuan. Jokowi memulai usahanya dengan menggunakan rumah kecil miliknya satu-satunya. Usaha Jokowi cukup berhasil.
Jokowi Ketika Menjadi Tukang Kayu Di Usaha Mebel-nya
Usaha mebelnya membuat dirinya bisa berkenalan dengan seorang Micl Romaknan, seorang pengusaha luar negeri yang sangat tertarik dengan mebel-mebel buatan Jokowi.

Awalnya Jokowi hanya dipanggil Joko saja di sekelilingnya namun kemudian Micl Romaknan biasa menyingkat nama Joko Widodo menjadi Jokowi sehingga nama panggilan Jokowi itulah yang populer dan menjadi hoki hingga saat ini. Etos kerja keras dan kejujuran Jokowi dalam berdagang membuat dirinya dipercaya oleh Micl Romaknan untuk menyuplai mebel ke Eropa.

Ketika mencalonkan diri sebagai Walikota Solo, banyak yang meragukan kemampuan pria yang berprofesi sebagai pedagang mebel rumah dan taman ini, bahkan hingga saat ia terpilih.

Namun setahun setelah ia memimpin, banyak gebrakan progresif dilakukan olehnya. Ia banyak mengambil contoh pengembangan kota-kota di Eropa yang sering ia kunjungi dalam rangka perjalanan bisnisnya.

Di bawah kepemimpinannya, Solo mengalami perubahan yang pesat. Branding untuk kota Solo dilakukan dengan menyetujui moto “Solo: The Spirit of Java“.

Langkah yang dilakukannya cukup progresif untuk ukuran kotakota di Jawa. ia mampu merelokasi pedagang barang bekas di Taman Banjarsari hampir tanpa gejolak untuk merevitalisasi fungsi lahan hijau terbuka, memberi syarat pada investor untuk mau memikirkan kepentingan publik, melakukan komunikasi langsung rutin dan terbuka (disiarkan oleh televisi lokal) dengan masyarakat.

Taman Balekambang, yang terlantar semenjak ditinggalkan oleh pengelolanya, dijadikannya taman. Jokowi juga tak segan menampik investor yang tidak setuju dengan prinsip kepemimpinannya. Sebagai tindak lanjut branding ia mengajukan Surakarta untuk menjadi anggota Organisasi Kota-kota Warisan Dunia dan diterima pada tahun 2006.

Langkahnya berlanjut dengan keberhasilan Surakarta menjadi tuan rumah Konferensi organisasi tersebut pada bulan Oktober 2008. Pada tahun 2007 Surakarta juga telah menjadi tuan rumah Festival Musik Dunia (FMD) yang diadakan di kompleks Benteng Vastenburg yang terancam digusur untuk dijadikan pusat bisnis dan perbelanjaan.

FMD pada tahun 2008 diselenggarakan di komplek Istana Mangkunegaran. Berkat prestasi tersebut, Jokowi terpilih menjadi salah satu dari “10 Tokoh 2008” oleh Majalah Tempo. Berkat keberhasilannya itulah Jokowi terpilih menjadi Walikota Solo selama dua periode (2005-2015) dengan meraih kemenangan mutlak pada saat pemilihan wali kota periode kedua. Nama Jokowi tidak hanya populer karena perannya dan keberaniannya dalam mempromosikan Mobil ESEMKA, tapi kepribadiannya juga disukai masyarakat.

Pada tahun 2012 Jokowi mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta dan memenangkan Pilkada DKI Jakarta melalui proses pemilukada yang berlangsung dua putaran. Walau Jokowi dianggap sukses sebagai walikota Solo namun dimata nasional nama Jokowi belum menjadi primadona.

Ketika akan diadakan pemilihan gubernur DKI Jakarta, Jusuf Kalla secara pribadi meminta kepada Megawati untuk mencalonkan Jokowi (Jokowi adalah kader PDIP). Namun waktu itu Mega belum bisa menerima dan Jokowi pun menolak.

Tak hanya Jusuf Kalla yang meminta tapi juga tokoh seperti Prabowo dan Hidayat Nur Wahid. Akhirnya Mega pun mendukung Jokowi. Akhirnya ia dipasangkan dengan Basuki Tjahya Purnama atau Ahok untuk mengikuti pemilihan gubernur DKI dimana lawannya cukup berat yaitu Fauzi Bowo.

Awalnya Jokowi tak diunggulkan namun di putaran kedua nama Jokowi Ahok unggul tipis 54 – 45 atas Fauzi Bowo. Jokowipun terpilih sebagai gubernur DKI Jakarta.

Jokowi kemudian memutuskan untuk megundurkan diri dari walikota Surakarta (ketika itu belum ada peraturannya jika walikota mencalonkan diri menjadi gubernur harus mundur terlebih dahulu, sehingga Jokowi dinilai tak melanggar aturan main). Pada akhirnya pada 29 Sepetember 2012 Jokowi-Ahok resmi menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta dengan masa periode 2012-2017.

Setelah dilantik menjadi gubernur, sehari kemudian Jokowi langsung bekerja dengan melakukan blusukan ke berbagai pasar tradisional dan pinggiran Jakarta. Ini dilakukan agar Jokowi bisa lebih dekat dengan rakyat. Banyak pihak optimis dengan kinerja Jokowi dan wakilnya Ahok untuk memperbaiki kota Jakarta yang semerawut.

Hasil dari kepemimpinannya sebagai Gubernur DKI Jakarta, Jokowi berhasil mengambil hati masyarakat. Ketika menjadi gubernur Jakarta, tentu membuat pria ini semakin sibuk. Banyak sekali aktifitas yang harus dia lakukan. Tidak sedikit pula media yang membuat berita khusus akan Jokowi. Dengan popularitas yang semakin meningkat ini sudah pasti membuat banyak orang yang ingin Jokowi maju sebagai presiden.

Pada tahun 2014 akhirnya Jokowi maju sebagai kandidat calon presiden dari PDIP dan menggandeng Jusuf Kalla sebagai calon wakil presidennya dengan nomor urut dua. Melawan pasangan nomor urut satu Prabowo Subianto dengan wakilnya Hatta Rajasa pada saat itu. Akhirnya tanggal 20 Oktober 2014, sosok wong cilik yang dikenal dengan gaya blusukannya ini secara resmi di lantik sebagai Presiden Republik Indonesia ke-7.

Demikianlah kisah mengenai biografi Jokowi Presiden yang terkenal karna banyak membangun Infrastruktur di Indonesia ini.

Baca Juga: Biografi Prabowo Subianto


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search