Sejarah Danau Toba Sumatra Utara Indonesia

- Desember 16, 2018
Sejarah Danau Toba-Sebagai danau terbesar di Asia Tenggara danau toba banyak menjadi perhatian para wisatawan dunia, danau ini kemudian secara otomatis menjadi kebangaan tersendiri bagi bangsa  Indonesia pada umumnya dan bagi orang Sumatra Utara pada khususnya karena banyak menghasilkan pemasukan keuangan bagi negara dan daerah.

Danau toba ditinjau dari keberadaannya terletak di tengah-tengah provinsi Sumatera Utara, danau ini juga dikelilingi oleh beberapa Kabupaten yaitu Kabupaten Samosir,  Simalungun,  Humbang Hasundutan, Dairi, Karo dan Tapanuli Utara. Sementara itu ditinjau dari bentuknya Danau toba merupakan danau terbesar di Asia Tenggara karena memiliki panjang 87 kilometer, lebar 27 kilometer, lokasi ketinggian 904 meter di atas permukaan laut dan kedalaman yang mencapai 505 meter.

Keberadaan danau Toba tentu tidak datang tiba-tiba ada asal-usulnya sehingga kenapa didaerah yang kini disebut Somasir itu terhampar luas danau yang kemudian dikenal dengan nama danau Toba. Mengenai asal-usul dari danau tesebut dapat diklasifikasikan menjadi dua pendapat, yaitu pendapat sejarawan dan pendapat masyarakat yang dituturkan dalam legenda masyarakat setempat.

Sejarah Asal-Usul Danau Toba

Menurut sejarah pada mulanya danau toba adalah gunung berapi yang disebut gunung Toba. Gunung ini memiliki kandungan magma sangat besar yang jika meletus akan menghasilkan daya ledak yang sangat luar biasa.

Magma yang terkandung dalam pertut Gunung Toba disuplai oleh banyaknya lelehan sediman lempeng benua yang saling bergesek secara  sangat-sangat aktif, yaitu lempeng Indo-Australia yang mengandung banyak sedimen, dan lempeng Eurasia yang menjadi tempat duduknya Pulau Sumatera. Letak kedua lempeng itu berada di kedalaman 150 km di bawah perut bumi.

Gesekan lempeng Indo-Australia dan Eurasia menghasilkan panas sehingga melelehkan bebatuan. lelehan tersebut kemudian naik ke atas sebagai magma. karena seringnya kedua lempeng ini bergesekan, magma yang dihasilkan cukup banyak sehingga dapat menciptakan ledakan yang begitu dahsyat. Ledakan dahsyat itulah kemudian yang menghancurkan Gunung Toba hingga kemudian pucuk gunung yang tinggi itu lebur menjadi cekungan yang kemudian membentuk sebuah danau yang kelak dinamakan danau toba.

Letusan Gunung Toba yang kemuidan dari efek letusannya itu membeuat sebuah danau terjadi berangsur-angsur, tidak sekaligus, tercatat Gunung Toba pernah mengalami beberapa kali ledakan sebelum kemudian menjadi sebuah danau. Ledakan-ledakan yang diidentifikasi terjadi oleh para sejarawan itu adalah sebagai berikut:

  • Letusan pertama dari  gunung Toba diperkirakan terjadi sekitar 800 ribu tahun yang lalu dan membentuk kaldera di selatan Danau Toba, meliputi daerah Porsea dan Prapat.
  • Letusan kedua terjadi sekitar 500 ribu tahun yang lalu dan menghasilkan kaldera di utara Danau Toba, yaitu daerah antara Haranggaol dengan Silalahi.
  • Letusan ketiga Gunung Toba terjadi pada 74.000 tahun lalu. Letusan ketiga  ini disebut-sebut sebagai letusan paling dahsyat dalam sejarah Dunia. Meskipun sama sekali tidak tercatat di dalam buku, namun bukti-bukti ilmiahnya bisa ditemukan di masa kini.

Para ahli memperkirakan bahwa letusan gunung Toba menghasilkan ledakan supervulkanik dengan skala sekitar 8.0 Volcanic Explosivity Index (VEI). Jika dibuat perbandingan, ledakan bom nuklir di Hiroshima dan Nagasaki memiliki daya ledak 0,015 megaton TNT, letusan gunung Krakatau berdaya ledak 150 megaton TNT, maka letusan gunung Toba diperkirakan berdaya ledak 26000 megaton TNT dan mampu menghancurkan area Sumatra seluas sekitar 20.000 km2.

Letusanketiga  gunung Toba memuntahkan lebih dari 1000 kilometer kubik material letusan. Ketinggian letusannya mencapai 50 km. Material abunya menyebar ke seluruh atmosfer bumi hingga menutupi cahaya matahari yang masuk ke bumi selama beberapa tahun. Akibatnya temperatur bumi saat itu menjadi turun sampai 3-5 derajat celcius.

Selain  menghasilkan tsunami yang besar, letusan gunung Toba juga mengakibatkan kematian masal manusia dan beberapa spesies mahluk hidup lainnya. Dari beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan, letusan gunung ini diduga menyusutkan lebih dari 60% populasi manusia saat itu, yaitu sekitar 60 juta jiwa.

Dugaan ini didasarkan atas dua hal. Pertama, material abu yang jatuh ke seluruh dunia telah menimbun sebagian habitat manusia. Kedua, tidak adanya cahaya yang masuk menyebabkan tidak terjadinya fotosintesis tumbuhan. Hal ini berimbas pada langkanya bahan makanan sehingga mengakibatkan kelaparan dahsyat yang berujung pada kematian masal.

Setelah meletus, gunung ini membentuk kaldera yang kemudian terisi air dan akhirnya menjadi danau terbesar di Asia Tenggara. Danau inilah yang kemudian dikenal dengan nama Danau Toba. Begitulah menganai asal-asul terbentuknya danau toba dari sisi sejarah.

Legenda Asal-Usul Danau Toba

Legenda asal-asul danau toba yang berkembang dimasyarakat yang tinggal disekitaran danau itu mengisahkan bahwa danau toba pada mulanya terbentuk karena kutuk yang menimpa seorang petani karena tidak bisa menjaga sumpahnya.

Dikisahkan bahwa ditempat yang kini sebagai lokasi danau toba itu dahulunya telah hidup seorang pemuda yang berptofesi sebagai petani, selain bertani ia juga kadang memancing ikan di sungai untuk memenuhi kebutuhan lauk pauknya, begitulah yang dilakukan petani muda itu dalam tiap harinya, bertani dan memancing.

Pada suatu ketika, petani muda itu berangkat ke sungai untuk memancing sebagaimana biasanya, akan tetapi entah kenapa waktu itu ia tidak kunjung mendapatkan ikan.  Meskipun demikian ia tetap dengan sabar menunggu.

Beberapa lama kemudian, betapa gembiranya petani muda itu sebab ia mendapatkan ikan yang cukup besar, selain itu ikan yang ia dapat waktu itu lain dari biasanya, bentuknya cantik. Ia pun kemudian memasukan ikan tersebut kedalam sebuah wadah yang telah disiapkan.
Si Petani Mendapat Ikan Aneh
Kejadian aneh kemudian datang, ikan itu rupanya bisa bicara, tentu saja dengan kejadian itu si Petani muda itu merasa kaget, sekaligus takut, ikan itu bicara “Tolong Lepaskan Aku..!!!, aku ingin hidup..!!” 

Mendapati ikan yang diperolehnya bisa bicara dan meminta dilepaskan, maka dengan terpaksa petani itu kemudian melepaskan ikan hasil pancingannya kembali ke sungai, sambil berkata “Selamat jalan, maafkan aku ya..ikan…!”.

Setelah melepaskan ikan itu, petani itupun kemudian bergegas untuk pulang ke rumahnya, tapi rupanya kejadian yang lebih aneh lagi terjadi dihadapannya, kali ini ikan itu rupanya berubah menjadi seorang perempuan cantik, dan berdiri tepat dihadapannya, wanita jadi-jadian itu kemuidan berkata “Jangan Takut, aku tadi ikan yang kamu lepas, sebenarnya aku bukan ikan, akau adalah putri dari kerajaan Kayangan yang dikutuk karena melanggar perintah kerajaan”.

Petani muda yang menyaksikan kejadian aneh didepannya tak bisa berbuat apa-apa ia hanya terperanjat keheranan. Dalam keadaan itu wanita itu kemudian berkata lagi “Karena kamu mau menyelamatkanku dengan ikhlas, maka hilanglah kutukan yang aku terima, oleh karena itu aku bersedia mejadi istrimu untuk mengabdi padamu, akan tetapi dengan syarat, engkau jangan memberitahukan mengenai asal-usulku kepada siapapun, jika kamu melanggar maka akan datang kutukan yang dahsyat dari dewa” begitulah kata-katanya. Si Petani itu pun akhirnya menyanggupi janji itu.

Selepas peristiwa itu, keduanya kemudian menikah, hari demi hari dan tahun berganti tahun, keduanya menjalani kehidupan rumah tangga dengan bahagia, dan saling melengkapi, buah dari cinta keduanya kemudian lahir seorang anak laki-laki yang gagah, akan tetapi anak laki-laki ini mempunyai kelebihan aneh, ia seperti anak yang tidak pernah kenyang, selalu lapar begitulah kelebihan aneh anak itu.

Pada suatu ketika, ketika datang masanya musim tanam, si Petani itu menanam tanaman di sawahnya dari pagi hingga siang hari, sementara istrinya memasak dirumah. Pada saat jam makan tiba, anak dari petani itu kemudian disuruh ibunya untuk mengantarkan makanan ke sawah untuk ayahnya, akan tetapi ditengah perjalanan, tiba-tiba sang anak rasa laparnya kambuh, ia pun memkan makanan ayahnya itu dengan lahap, kemudian setelah itu ia tertidur didalam gubug.

Disawah. Pak Tani rupanya keheranan sebab jatah makanannya rupanya tak kunjung datang, ia pun merasa kesal dan akhirnya pulang ke rumah, ditengah perjalanan pulang, ia menjumpai anaknya yang sedang tertidur pulan di gubug dengan nasi yang berceceran, ia pun kemudian membangunkan anaknya, dan menanyakan mengnai makanan untuknya, anak itu menjawab “Makanan yang dikirimkan Ibu untuk ayah sudah aku makan habis”

Mendengar jawaban anaknya, Si Petani itu rupanya amarahnya tidak bias terkontrol, ia pun memarahi sang anak, dalam kondisi marah itu ia mengumpat anaknya, katanya “anak tak tau diuntung, pemalas, dasar anak ikan, pergi kamu…!” begitu umpatan Pak Tani kepada anaknya.

Anak itupun kemudian lari sambil menagis, ia menemui ibunya, dan mengadukan umpatan ayahnya yang menyatakan bahwa ia “anak ikan”. Selepas kejadian itu maka murkalah istri petani itu sebab suaminya telah melanggar janjinya sendiri.

Ibu dan anak itu kemudian menghilang, akan tetapi selepas menghilangnya anak dan ibunya itu kutuk kemudian datang, dibekas langkah kaki Ibu dan anak itu muncul semburan air yang sangat deras, semburan air itu tidak henti-hentinya sehingga kemudian menggelamkan daerah itu bersama penduduk dan suaminya, jadilah kemudian daerah itu menjadi telaga yang besar yang kemudian dikenal dengan nama danau toba.

Begitulah kisah mengenai asal-usul danatau toba dari sudut legenda yang hidup ditengah-tengah masyarakat yang mendiami wilayah sekitaran danau toba, kisah legenda ini hingga kini sangat masyhur dikalangan orang-orang toba, samosir dan kabupaten lainnya yang mengelilingi danau toba. 


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search