Air Kencing Iblis dan Masuk Islamnya Raja dan Rakyat Kedah

- September 10, 2018
Pada saat Pra Ong Mahawangsa naik tahta, Raja dan rakyat Kedah dikisahkan masih menyembah berhala, namun kemudian Raja Pra Ong Mahawangsa bertaubat, Baginda masuk Islam, khabar mengenai masuk Islamnya Raja Kedah itu kemudian diikuti oleh rakyatnya, mereka berbondong-bondong masuk Islam dengan sukarela, asal-usul masuk Islamnya Raja Pra ong Mahawangsa itu karena baginda diperlihatkan Air Kencing Iblis oleh Syekh Abdullah Yamani.

Sebagaimana yang dikisahkan dalam artikel sebelumnya, bahwa Raja ke 9/7 Kedah ini gemar minum tuak dan arak, baginda baru bertaubat dari minum-minuman haram dan masuk Islam setelah baginda diberikan penjelasan oleh Syekh Abdullah Yamani, bahwa sejatinya arak dan tuak yang diminum Pra Ong Mahawangsa bercampur dengan air kencing Iblis. Kisah ini dikisahkan dalam Hikayat Merong Mahawangsa bagian ke IV.

Baca Juga: Pra Ong Mahawangsa, Raja Kedah Yang Gemar Minum Tuak dan Arak
Demikian kisahnya;
Tersebutlah Abdullah Yamani berguru pada Syekh Abdullah Bagdad ahli ilmu fikih, tasauf, dan tafsh Al-Quran. Pada waktu itu Syekh Nuruddin mengajarkan syariat Islam di Aceh. Abdullah Yamani minta pada gurunya Abdullah Bagdad itu supaya dapat dipertemukan dengan penghulu iblis untuk mengetahui segala perbuatan iblis itu terhadap manusia.

Syekh Abdullah Bagdad mulanya tidak mau karena takut, kalau-kalau ia terpengaruh oleh perbuatan iblis itu. Akhirnya diperkenankan juga, disuruhnya menunggu di tengah padang di bawah pohon besar. Pergilah ia ke sana menunggu sambil membaca ayat Al-Quran.

Sore harinya pergilah iblis itu menemuinya. Ditamparnya kedua pipi Abdullah Yamani itu karena iblis itu benci melihat orang membaca Al-Quran. Karena sakitnya cepat-cepat saja ia pulang. Dan diceritakannyalah kepada gurunya apa-apa yang dialaminya itu. Gurunya menyuruh supaya datang lagi besok harinya dan tidak membaca Al-Quran lagi. Besoknya datanglah Abdullah itu ke tempat semula dan iblis pun datang menemuinya.

Iblis itu janggutnya panjang sampai ke perutnya, beserban dan berjubah hijau sambil memegang sebuah tongkat. Dikatakannyalah kepada iblis itu bahwa ia ingin berguru kepadanya. Iblis itu menyetujui asal ia mau mengikuti saja apa yang dikerjakannya. Diberikannya tongkatnya kepada Abdullah, terus berjalan mengikuti iblis itu.

la tidak terlihat lagi oleh manusia karena keramat tongkat itu dan pada waktu malam ia dapat melihat dengan terang. Mereka sampai pada suatu kampung. Dihasutnya orang bersuami istri supaya bercerai dan berkelahi. Disuruhnya orang berdagang mempergunakan takaran yang kecil bila menjual dan takaran yang besar bila membeli barang dagangan. Dihasutnya pencuri sama pencuri berkelahi, karena tidak adil membagi barang curian.

Orang yang sedang asyik bertapa diberinya sebiji semangka sehingga pertapa itu jadi gila. Pergi pula ia ke tempat orang mengaji. Murid-muridnya di hasutnya bermain-main sehingga guru marah dan memukul murid itu. Orang tua murid marah sehingga terjadi pulalah perkelahian antara guru dan orang tua murid. Demikianlah pekerjaan iblis itu setiap hari.

Mereka meneruskan perjalanan hingga sampai di negeri Raja Kamishtur. Raja itu mempunyai seorang putri yang amat cantik. Beberapa raja yang datang meminang anaknya selalu ditolaknya. Pada suatu hari raja itu mengadakan keramaian menyembah berhala. Iblis masuk dalam mulut berhala itu sambil berteriak-teriak menyuruh raja mempersiapkan peperangan karena raja-raja lain akan menyerang.

Tak lama antaranya terjadilah peperangan di antara raja-raja dalam keramaian itu. Semuanya hancur binasa karena hasutan iblis. Begitu pula halnya dengan Raja Peringgi Dewa Molek. Raja ini terkenal amat jahat. la pun dihasut oleh iblis merampok semua perahu anak negeri. Terjadi pulalah peperangan dengan Raja Siramirabab karena mau menuruti hasutan iblis.

Akhirnya, sampailah iblis dan Sekh Abdullah itu di istana Phra Ong Mahawangsa, raja Negeri Kedah. Ketika itu raja sedang tidur. Raja itu suka minum arak setelah bangun tidur. Ketika raja itu hendak minum arak segera iblis itu mengencingi tempat araknya, sehingga raja minum air kencing iblis yang bercampur arak itu.

Perbuatan iblis itu segera ditegur oleh Abdullah karena tidak sampai hati ia melihat seorang raja besar minum air kencing. Iblis itu marah karena ia telah melanggar perjanjian duhulu ketika mereka akan berangkat bahwa ia akan mengikuti saja apa yang akan dikerjakan iblis.

Dengan marahnya segera dicabutnya tongkatnya yang dipegang Abdullah itu dan ia pergi dari tempat itu. Seketika itu juga Abdullah terlihat oleh raja berdiri di hadapannya. Atas pertanyaan raja, diceritakannyalah bahwa ia baru saja berbantah dengan iblis karena iblis itu memberi raja air kencingnya, dan pada waktu itu pulalah ia ditinggalkan iblis itu.

Diceritakannya pulalah asal-usulnya datang dari Yamani mengikuti perjalanan iblis supaya dapat mengetahui segala perbuatan iblis itu terhadap manusia. Raja sangat terkesan oleh cerita Abdullah itu. Sejak itu belajarlah raja pada Abdullah mengikut ajaran agama Islam yang bersendikan Al-Quran dan ditinggalkannya menyembah berhala. Raja mengucapkan dua kalimah sahadat dan resmilah ia memeluk agama Islam.
Menteri-menteri dan semua rakyatnya pun mau memeluk agama baru itu. Raja yang bergelar Raja Phra Ong Mahawangsa itu mengganti namanya dengan nama yang sesuai dengan nama Islam, yaitu Sultan Mudzafar Syah. Raja giat menjalankan syariat Islam, mendirikan masjid, sembahyang lima kali sehari semalam, membayar zakat, puasa, dan sebagainya.

Berita tentang Negeri Kedah dengan rajanya Sultan Mudzafar Syah memeluk agama Islam yang dibawa oleh Syekh Abdullah Yamani itu sampai pula ke Aceh. Syekh Nurruddin ar-Raniri dari Aceh segera mengirimkan bukunya yang berjudul Siratal mustakim dan Babul Nikah di sana, sebagai tanda gembira mendengar kabar itu. Agama Islam semakin kuat kedudukannya di Kedah. Syekh Abdullah minta diri kepada raja hendak kembali menemui gurunya di Bagdad. Raja dengan senang melepasnya karena rakyatnya telah menganut agama Islam. Sultan Mudzafar Syah berputra tiga orang, yaitu Raja Muazzam Syah, Raja Mahmud Syah, dan Raja Sulaiman Syah.

Daftar Pustaka
Edwar Djamaris. 2007. Sastra Indonesia lama berisi sejarah ringkasan isi cerita serta deskripsi latar dan tokoh. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Jakarta. Hlm. 192-194


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search