Bogor, Kota tempat Lahir dan Dibangunnya Hizbut Tahrir Indonesia

- Oktober 25, 2018
Bogor adalah satu Kota yang cukup besar di Jawa Barat, di Kota Ini juga berdiri dengan megah salah satu Istana Negara Indonesia yang lebih dikenal dengan Istana Bogor. Bogor juga dahulu merupakan bekas Ibukota Kerajaan Pakuan Pajarajaran. Sementara dizaman Kolonial Belanda, Kota  Bogor dijadikan semacam tempat tinggal orang-orang hebat pejabat Belanda. Ditinjau dari sejarahnya Bogor memang sudah kenyang akan kebesaran.

Berkenaan dengan Hizbu Tahrir cabang Indonesia, atau ormas yang kini menjadi ormas terlarang di Indonesia ini, ternyata menurut sejarahnya juga dibangun dan dilahirkan di Kota Bogor. HT masuk di Indonesia mula-mula diperkirakan pada tahun 1980-an. Dimulai dari gerakan K.H. Abdullah bin Nuh, pendiri pesantren Al-Ghazali Bogor yang mengajak Abdurrahman al-Bagdhadi, seorang warga negara Australia keturunan Arab untuk tinggal di Indonesia.
Atas bantuan K.H. Abdullah bin Nuh, Abdurrahman al-Bagdhadi melakukan safari dakwah dan memperkenalkan Hizbut Tahrir ke berbagai pesantren dan kampus-kampus Indonesia.Berawal dari para aktivis masjid kampus Al-Ghifari, IPB Bogor, kemudian dibentuklah sebuah halaqah-halaqah (pengajian-pengajian kecil) untuk mengeksplorasi gagasan-gagasan Hizbut Tahrir. Setelah secara bertahap melakukan pengkaderan dan pergerakan “bawah tanah”, saat ini Hizbut Tahrir telah tersebar di 150 kota di seluruh Indonesia. Bahkan cabang Hizbut Tahrir telah tersebar di hampir seluruh provinsi di Indonesia, termasuk di Papua dan bahkan “pulau dewa” Bali.

Menjelang pertengahan tahun 1990-an, ide-ide Hizbut Tahrir mulai menyebar ke berbagai lapisan masyarakat, baik melalui dakwah para kader di mesjid, perkantoran, pabrik, dan perumahan, maupun melalui penerbitan buku-buku, bulletin Al-Islam, dan majalah bulanan Al-Wa`ie, yang membahas tema-tema khas, yang menjadi acuan dalam berbagai kegiatan diskusi, seminar, dan bahkan aksi unjuk rasa.

Ketika Indonesia memasuki era reformasi; suatu momentum terbuka luas bagi Hizbut Tahrir untuk melegalkan gerakannya. Gebrakan besar dilakukan Hizbut Tahrir pada tahun 2002 dengan sukses menggelar Konferensi Internasional Khilafah Islamiyah di Senayan Jakarta.

 Tidak kurang dari 5000 orang menghadiri acara tersebut. Sukses tersebut berlanjut dengan kegiatan aksi demo menentang penyerangan Amerika Serikat terhadap Afghanistan. Gerakan Hizbut Tahrir semakin mengemuka ketika berhasil menggelar long-march yang diikuti 12.000 kader dan simpatisan, pada Sidang Tahunan MPR 2002, menuntut penerapan syariat Islam. Kemudian, pada tanggal 29 Februari 2004, Hizbut Tahrir kembali menggelar long-march dari Monas ke Bundaran Hotel Indonesia dengan melibatkan 20.000 anggota dengan agenda penegakan syariat Islam dan Khilafah.

Sejak diselenggarakannya konferensi internasional di Istora Senayan pada tahun 2002 yang dihadiri oleh tokoh-tokoh Hizbut Tahrir Internasional dan Nasional, serta tokoh-tokoh Islam dari organisasi lain, Hizbut Tahrir resmi melakukan aktifitasnya di Indonesia secara terbuka seperti bisa dilihat dari munculnya organisasi ini dalam konteks Indonesia yang kemudian di kenal dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Lahirnya Hizbut Tahrir di Indonesia langsung memproklamirkan diri sebagai partai politik yang berideologi Islam, namun menolak bergabung dengan sistem politik yang ada, karena Indonesia menganut sistem politik ciptaan kaum Kafir seperti demokrasi dan sebagainya. Di Indonesia, perkembangan pesat HTI ini bisa dilihat dari kuantitas anggotanya dan intensitas kegiatan HTI di ruang publik, yaitu dalam bentuk pawai, seminar (baik yang berskala internasional, nasional, dan lokal), dialog dan diskusi publik, serta proliferasi media di berbagai daerah di tanah air.

Para tokoh-tokoh Hizbut Tahrir Indonesia banyak yang bertempat tinggal di Bogor sebagai upayanya dalam mensosialisasikan gerakan yang mereka usung. Untuk kepengurusan Hizbut Tahrir Indonesia dalam lingkup nasional, Humas Hizbut Tahrir Indonesia secara resmi dipegang teguh oleh Ismail Yusanto, sedangkan untuk wilayah Jawa Barat dipegang oleh Muhammad Syahabi.

Daftar Pustaka 
[1]Kurniawan Abdullah, “Gerakan Politik Islam Ekstraparlementer: Studi Kasus Hizbut Tahrír Indonesia”, (Tesis, UI, tidak dipublikasikan, 2003), 49
[2]Afadlal, et al, Islam dan Radikalisme di Indonesia (Jakarta: LIPI Press, 2005), 266


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search