Makam Fatimah Binti Maimun Gersik 1082

- Desember 24, 2018
Di Kota Gersik Jawa Timur terdapat Makam Islam kuno yang dilindungi sebuah bangunan yang mirip candi di Jawa, nisan dalam makam kuno ini bertiti mangsa 7 Rajab 475 H bertepatan dengan 25 November 1082 M, makam ini menandakan bahwa di Gersik Islam telah masuk dan berkembang pada abad XI, yaitu 185 tahun sebelum Kesultanan Samudra Pasai berdiri. 
Makam Fatimah Binti Maimun terletak di desa Leren Kecamatan Manyar Kabupaten Gersik. Kompleks makam kuno ini menempati lahan seluas 2.280m2 letak tepatnya di tepi sungai Manyar yang dahulu merupakan salah satu jalur transportasi air dari daerah pesisir menuju pedalaman.

Dalam kompleks makam itu, derdapat salah satu makam dengan bangunan cungkup dari batu putih yang memiliki inskripsi Arab pada batu nisannya. Hasil pembacaan dari Inskripsi tersebut menyebut nama seorang Wanita, yaitu Fatimah Binti Maimun Bin Hibatullah.
Kondisi Bangunan Makam Sekarang
Dalam penelitian yang dilakukan Moqquite (1911), huruf yang digunakan adalah huruf Hijaiyah dengan Khot Khufi. Tulisan itu berisi mengenai kabar wafatnya Fatiman Fatimah Binti Maimun Bin Hibatullah pada 7 Rajab 475 H / 25 November 1082 M.

Penemuan makam Fatimah Binti Maimun Bin Hibatullah ini kemudian menghasilkan sebuah kesimpulan bahwa pada abad XI sudah ada komunitas Islam di Gersik, meskipun demikian belum diketahui secara pasti mengenai ketokohan Fatimah Binti Maimun dan perannya ketika itu.
Kondisi Bangunan Makam Dari Luar
Memahami hal tersebut, dapatlah kemudian dimengerti bahwa masa hidup dari Fatimah Binti Maimun Bin Hibatullah ini sejaman dengan masa Raja Airlangga memerintah Jawa Timur, karena memang Raja Airlangga sendiri turun tahta pada 1042.

Baca Juga: Kisah Raja Airlangga

Meskipun dalam nisan makam tersebut tidak dijelaskan mengenai ketokohan dan peran Fatimah Binti Maimun, akan tetapi tradisi masyarakat setempat menyebutkan bahwa Fatimah Binti Maimun ini mempunyai nama lain Putri Retno Suwari, dikisahkan sebagai Putri Kerajaan Kamboja Sultan Machmud Syah Alam.
Makam-makam Yang Terdapat Dalam Bangunan
Kedatangannya ke Jawa dikisahkan untuk menyebarkan agama Islam pada penduduknya yang kala itu masih beragama Hindu-Budha. Meskipun demikian belum diketahui secara pasti Strategi Dakwah model apa yang digunakan Raja Kamboja sehingga mengutus seorang perempuan untuk menyebarkan Islam di Jawa.

Pada mulanya, Orang pertama yang menemukan dan membaca inskripsi Batu Nisan Leran adalah peneliti asal Belanda bernama JP Moquette pada tahun 1911 yaitu dimana waktu itu Jawa dalam masa penjajahan Belanda.

Ketika pertama kali ditemukan, kondisi makam ini sangat mengkhawatirkan. Atapnya ambruk dan tidak terurus. Kemudian Paul Ravaisse (berkebangsaan Perancis) melakukan beberapa perbaikan.
Kondisi Makam Ketika Baru Ditemukan 1911
Selanjutnya setelah merdeka, makam ini kemudian dilakukan penelitian ulang oleh Muhammad Yamin dalam penelitian yang dilakukan Muhamad Yamin juga disimpulkan bahwa angka atau titimangsa dalam nisan Fatimah binti Maimun itu berangka tahun 475 H atau 1082 M, sebagai tahun meninggalnya Fatimah binti Maimun.

Pada masa Muhamad Yamin melakukan penelitian, dulunya area makam  Fatimah Binti Maimun merupakan tempat pemakaman umum. 

Tetapi, semenjak tahun 1973 atau saat situs makam Fatimah Binti Maimun diambil alih Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Timur, area makam tersebut tidak lagi dibolehkan menjadi pemakaman umum, Pemerintah kemudian menjadikannya sebagai situs cagar budaya.
Inskripsi Nisan Fatimah Binti Maimun Di Musium Trowulan
Inskripsi nisan Fatimah binti Maimun terdiri atas tujuh baris, di tulis dengan bahasa Arab dengan khot Khufi, yang merupakan model penulisan paling tua di antara semua gaya kaligrafi yang ada. 

J.P. Moquette berhasil membaca tulisan yang tertera di Batu Nisan Leren yang ditulis dengan struktur sangat baik. Ternyata dalam prasasti tersebut dicantumkan pula dua ayat dalam Al Quran Surat Ar Rahman. Hasil pembacaan Moquette kemudian diterjemahkan oleh Muhammad Yamin. Berikut ini hasil pembacaan Moquette:

"Bismillahirrahmanirrahim, kullu man ‘alaiha fanin wa yabqa wajhu rabbika dzul jalali wal ikram. Hadza qabru syahidah Fatimah binti Maimin bin Hibatallah, tuwuffiyat fi yaumi al-Jumah…. min Rajab wa fi sanati khamsatin wa tis’ina wa arba’ati min ‘atin ila rahmat (sebagian orang membaca “wa tis’ina” dengan “wa sab’ina”) Allah… shadaqallah al-azhim wa rasulihi al-karim".
Menurut Muhammad Yamin terjemahan atas inskripsi batu nisan Fatimah binti Maimun adalah sebagai berikut:

"Atas nama Tuhan Allah Yang Maha Penyayang dan Maha Pemurah, Tiap-tiap makhluk yang hidup di atas bumi itu adalah bersifat fana; Tetapi wajah Tuhan-mu yang bersemarak dan gemilang itu tetap kekal adanya; Inilah kuburan wanita yang menjadi kurban syahid bernama Fatimah binti Maimun; Putera Hibatu’llah yang berpulang pada hari Jumat ketika tujuh; Sudah berlewat bulan Rajab dan pada tahun 495 H. (Sebagian ada yang membacanya 475 H); Yang menjadi kemurahan Tuhan Allah Yang Maha Tinggi beserta Rasulnya yang Mulia".

Meski hanya terdiri dari tujuh baris, namun kalimat yang tertera di nisan tersebut mengandung informasi dan pesan spiritual yang tinggi. 

Baris pertama merupakan basmalah, kemudian diikuti oleh kutipan Surah Ar-Rahman ayat 26-27, yang umum dalam epitaf umat Muslim, terutama di Mesir.

Sedang baris berikutnya adalah rangkaian informasi yang akurat tentang waktu kematian Fatimah binti Maimun, yaitu pada hari jumat, bulan Rajab, tahun 475 H atau 1082 M. Itu berarti 185 Tahun sebelum Kesultanan Samudra Pasai berdiri pada 1267 di Jawa teralah ada dan berkembang komunitas penyebar Islam, terutamanya di Gersik.


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search